A Tribute to Mustaghfirrin, the Teacher
4 Juni 2009 at 1:30 pm | In Daily Prophet, Nggombal..!!!, Sharing | 2 CommentsTags: SP2MP, UGM, Universitas Gadjah Mada
Satu hari sebelum dirimu pergi
Kau berikan segala yang kau punyaiJika saja ku tahu engkau kan pergi
Tak kan tega ku lukai engkau lagiSatu Hari Sebelum Dirimu Pergi — Jikustik
Jika saja aku tahu beliau akan pergi secepat ini, aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan beliau.
Dulu, sekitar dua tahun lalu, ketika pertama kali bertemu beliau di UC (waktu itu masih University Center) UGM, aku langsung menyukai beliau. Beliau mengajari tanpa menggurui, mendidik tanpa menghardik dan menuntun dengan santun.
Beberapa bulan kemudian, dalam Leadership Camp, beliau seakan menjadi malaikat yang menghapus konflik di antara kami. Mengajari pentingnya persatuan dalam perbedaan. Membuat kami bisa bersinergi.
Baru hari Selasa pekan lalu beliau mengajariku secara langsung tentang banyak hal. Salah satunya, beliau mengajari bahwa tidak ada yang salah dan benar dalam proses belajar. Semua ada manfaatnya untuk pembelajaran itu sendiri. Menjadikan kami bisa bekerja lebih efektif dan efisien.
Pada hari Sabtu, aku dengan seenaknya saja membawa-bawa piring penuh berisi makanan di depan beliau dan makan di saat beliau mengajak berdiskusi. Sama sekali tidak menghargainya. Masih di malam itu, beliau ikut nimbrung saat kami ngobrol tentang Didi Kempot. Mengingatkan kami tentang lagu “Kuncung” yang mungkin merupakan satu-satunya lagu Kuncung yang bersifat ceria. Beliau juga ikut menyanyikan “Rondho Kempling”, ketika aku pamer dan sok tahu tentang lagu itu padahal sama sekali tidak hapal liriknya. Saat itu, aku tidak menghiraukan beliau.
Esok paginya, beliau memujiku. Atas apa yang seharusnya aku lakukan tetapi tidak aku lakukan dengan baik. Beliau menyelesaikan dengan cantik masalah yang aku timbulkan. Dan aku, tidak bersalaman dan berterima kasih kepada beliau saat beliau berpamitan. Saat itulah aku terakhir kali melihatnya…..
Tiba-tiba Selasa pagi beliau pergi menemui-Nya. Tidak membawa serta ucapan maaf dan terima kasihku. Seakan membenarkan mitos bahwa orang baik akan cepat pergi. Padahal masih banyak yang ingin aku pelajari darimu, Guru.
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


mrinding waktu membaca postingan ini…
betapa orang baik, kepergiannya selalu meninggalkan rasa kehilangan dalam hati orang-orang sekitar. berpuluh2 bahkan mungkin ratusan ucapan kehilangan, permintaan maaf, dan terima kasih dihaturkan kepada alm bapak dosen mustaqfirin… ungkapan cinta untuk sang guru yang bijaksana.
semoga kita bisa mengikuti jejak kebaikannya… melanjutkan perjuangan beliau…^^
Komentar oleh uzzy — 26 Juni 2009 #
pak Firin…always inspiring me…until now ^^
Komentar oleh afiemaniez — 22 Juli 2009 #