Sanguine Phelgmatis

chiell si Sanguine Phelgmatic

Hari Sabtu kemarin, pada awal hari yang aneh, aku menemukan tulisan di internet yang sangat cocok untuk menggambarkan tentang kepribadianku. Dalam teori 4 kepribadian, pribadiku adalah Sanguine Phlegmatis.  Seorang yang dominan Sanguine namun mempunyai sifat Phlegmatis di baliknya. Dan saat mencari di internet tentang kepribadian yang satu ini, aku menemukan tulisan yang benar-benar cocok dengan kepribadianku selama ini di sini.

Jadi begini :

The sanguine-phlegmatic is an extraverted, optimistic, warm individual who readily connects with others and is well-liked by all. His sanguine side makes him creative, enthusiastic, friendly, and inspiring. His phlegmatic side makes him somewhat cautious at times, and also highly sensitive to other people’s moods, emotions, likes and dislikes. He keenly desires harmony in relationships.

Yang ini kayakny sudah jelas. Sanguine Phelgmatic adalah seorang ektrovert.  Tapi aku ga begitu setuju dengan bagian optimis. Aku cenderung lebih suka realistis dari pada optimisme konyol tanpa dasar. Kreatif? Sedikit. Kata Enisten, kunci agar kita dapat dikatakan kreatif adalah dengan pintar-pintar menyembunyikan sumber dari karya kita. Nah, sisi phlematisku membuatku sangat peka terhadap perubahan mood dan emosi seseorang. Meskipun terkadang aku salah mengartikan, tapi aku tetap tahu jika ada suasana hati yang berubah disekitarku.

He tends to overextend himself in order to meet others’ needs and to personalize any negative criticism (If the boss says, “We are not meeting our quotas,” the sanguine-phlegmatic thinks, “Is he angry at me?” If her best friend says, “I really can’t wear red lipstick,” the sanguine-phlegmatic will think, “She’s trying to tell me that my lipstick looks terrible!”). After all, the sanguine-phlegmatic has a double-dose of feeling; twice-blessed by the tendency to prioritize relationships and harmony.

Yap. Ini kayak Wolverine. Aku selalu mengira semua hal yang dilakukan orang lain di sekitarku adalah tentang aku.  Mungkin ada yang menyebutnya dengan Ge-eR, tapi seorang Sanguine Phlegmatic menyebutnya peka. Dan kami sangat menghargai kritik dan saran dari seorang teman.

If you are a sanguine-phlegmatic, most everyone likes you! You are easy-going, creative, fun-loving, enthusiastic, imaginative, caring, generous, flexible, and spontaneous. You are probably considered “emotional” because of your easily aroused feelings, your attentiveness to relationships, and your tender heart. Your weaknesses are superficiality, indecisiveness, disorganization, and procrastination. Often you find it difficult to know exactly how to state what you mean, or how to express yourself logically; this contributes to a tendency to talk more than is needed or to provide more detail than is necessary.

Semua orang suka padaku? Ga juga.  Aku bahkan ga gitu ngerti apa arti dari easy going. Fun loving, jelas sekali kalo aku adalah orang yang suka bersenang-senang. Selain itu aku memang orang yang antusias dengan bidang-bidang tertentu, imaginatif yang terkadang berlebihan, peduli karena menurutku  ini adalah kunci dari pertemanan, fleksibel atau mungkin deket banget dengan sifat penjilat. Aku juga orang yang sangat ekspresif, sering mengungkapkan apa yang aku rasakan secara spontan.  Tapi aku kurang setuju kalo dianggap emotional, soale bergaul dengan orang-orang yang berpikir sok ilmiah dan logis di Ilmu Komputer UGM terkadang membuat sisi emosional agak terpinggirkan. Kami terbiasa berpikir logis sistematis.

Di situ dijelaskan kalo kelemahanku adalah dangkal, tidak tegas, tidak teratur, dan suka menunda-nunda. Aku setuju sama tiga yang terakhir. Jelas sekali kalo aku bukan orang yang tegas. Aku juga tidak terlalu suka dengan keteraturan dan ketertiban. Dan kalo aku bukan orang yang suka menunda-nunda, mungkin sekarang aku sudah bergelar sarjana. Kalimat terakhir dalam paragraf tersebut bener banget. Aku agak susah ngomong. Makanya sering kali aku ngomong terlalu banyak alias cerewet. Ini juga yang bikin aku kurang bisa menjaga rahasia. Kalo bagian “provide more detail than is necessary”, bagiku itu adalah suatu kejujuran. Sering kali aku menceritakan hal yang sebenarnya tidak perlu diketahui oleh orang lain. Misalnya, detail alasan kenapa aku terlambat. Cuma biar mereka bisa memahami kenapa aku terlambat.

In a relationship, you will likely gravitate toward a logical, organized, strong-willed and decisive partner—someone who makes decisions quickly and provides strong moral certitude and structure to your life. You can be easily influenced (which is exacerbated by your tendency to ask others for advice — without thinking it through) and to do what seems “kind” before considering whether it is objectively right. Many sanguine-phlegmatics are drawn to teaching (and parenting), the helping professions, and volunteer works or for the welfare of society.

Yap. Dalam sebuah hubungan dengan teman, sering kali aku seorang Watson bagi Holmes. Dialah pemimpinnya dan yang membuat keputusan. Dia juga yang memberiku perintah dan saran tentang ini itu. Dan aku juga orang yang sangat tergantung pada orang lain. Aku sangat butuh curhat dan saran dari orang tentang masalah yang aku hadapi. Bagiku ini bukan sebuah ketidakmandirian, tapi lebih karena aku berusaha agar keputusan yang aku ambil merupakan keputusan yang objektif karena paling tidak, keputusan ini tidak dipertimbangkan hanya dengan satu kepala.

Cita-citaku dari dulu memang dari guru, atau dosen paling tidak. Sekarang aku emang sedang menjalaninya. Selain setiap hari Jumat aku ngajar KIR(Karya Ilmiah Remaja) di kelas X-3 di SMA 7 Yogyakarta, aku juga memberi les privat matematika ke beberapa orang semester ini. Pas, KKN dulu juga aku sangat menikmati saat-saat mengajar. Jadi guru bagiku memang seperti sudah panggilan. (He.. Sok-sokan). Volunteer? Aku jadi teringat masa-masa jadi relawan pasca Gempa DjoKja tiga tahun lalu. Pengalaman yang menarik karena aku jumpa dan bisa membantu banyak orang.

You place a high priority on your personal search for meaning and self-identity. The strong need to discover your “true self” will be met by a rich prayer life and a personal relationship with God. Your weaknesses probably tend to bother you more than anyone else. For example, you may find yourself blurting out something without thinking, or spending too much time seeking advice only to find yourself more confused than you started, or oversleeping every day this week — despite all the best of intentions.

Yang ini juga bener. Hidup adalah sebuah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Pencarian tentang makna hidup dan hikmah yang terkandung dalam suatu peristiwa sering kali jadi perenungan panjang. Aku mungkin bukan orang yang sangat beriman kepada Tuhanku. Tapi paling tidak, aku sering meminta dan berdoa kepadaNya. Kemudian saat ada orang yang mengkritikku, aku bisa tidak tidur semaleman untuk berpikir apa yang harus aku lakukan agar dia bisa puas dengan apa yang aku lakukan. Sering kali memang meminta saran dari orang lain malah jadi semakin membingungkan dan membuatku semakin jauh dari tujuan. Tapi dengan begitu setidaknya aku tahu ketika aku membuat suatu kesalahan.

You may find yourself becoming overcommitted because you simply can’t say “no” and have a strong need to be liked/please people. A typical sanguine-phlegmatic trick is to spend too much money shopping or (better yet) dining out with friends, and then to put off balancing the checkbook (too much work, too many other distractions) until it is hopelessly behind. Now you are overwhelmed with everything that has piled up! You may complain half-heartedly, blame circumstances, or go shopping. . . but you may not really make a concerted effort to change.

Aku memang susah banget berkata “tidak”. Bahkan kepada orang yang kubenci dan menyakitiku, aku susah untuk menolak permintaannya. Ini lah kenapa aku gampang banget dimanfaatkan. Masalah makan malam ni juga benar banget. Seminggu ini aku sering keluar makan bareng temen-temenku padahal ketika makan malam sama mereka aku dipastikan bisa menghabiskan uang dua atau tiga kali lebih banyak dibanding kalo aku makan malem sendiri di deket kos. Untungnya hal ini belum mempengaruhi kondisi keuanganku saat ini. Aku menikmati saat-saat makan malam sama mereka kok…

Ini juga aku temukan di internet di situs lain :

Sanguine phlegmatics live for the acceptance and approval that they gain from helping others. They love to be wanted and needed. They tend to remember birthdays and anniversaries, and they sincerely appreciate any thoughtfulness from others. They are usually very good listeners, so they are often used as sounding boards–both for venting frustrations and for problem solving. They don’t really like unexpected change, so their advice often has to do with making do with a current situation rather suggesting changes.

Tempat yang menurutku paling tidak nyaman adalah tempat di mana aku tidak dibutuhkan dan tidak diacuhkan oleh orang lain.  Aku ingin mereka tahu kalo aku ada di sana dan ada untuk mereka. Aku hapal banyak ulang tahun temen2ku. Aku hapal semua ulang tahun  Jodhipati angkatanku. Aku ga perlu facebook atau reminder untuk inget ulang tahun temen2ku.  Meskipun aku tidak selalu memberi mereka selamat pas mereka ulang tahun karena aku ga mau itu hanya dianggap sebagai sebuah formalitas.

Nah, tapi  menurutku aku bukan pendengar yang baik. Aku memang selalu berusaha mendengarkan orang lain. Tapi ketika orang lain curhat padaku, seringkali malah aku gantian  yang curhat. Aku sering membanding-bandingkan pengalaman orang itu dengan pengalamanku sendiri soale.

It’s important to note:
* They have a caring attitude, and they expect others to have the same.
* They enjoy displays of affection and approval.
* They dislike aggression.
* They project warmth and acceptance.
* They enjoy being sounding boards of help.
* They sometimes overdo their helpfulness and empathy.
* They desire acceptance.
* They become expressive and emotional under pressure.

Ini bagian penting kayaknya. Ketika aku peduli sama orang lain, aku sering kali mengharapkan orang tersebut juga peduli padaku. Saat aku smsmsan sama orang untuk tanya kabar atao apa yang sedang dia lakukan, aku juga berharap dia bertanya sesuatu hal tentang aku. Kadang-kadang kepedulianku juga keterlaluan. Hasrat untuk menolong orang kadang-kadang malah membuat orang itu merasa ga nyaman. Aku sering kali ga nyadar waktu-waktu di mana orang lain sedang butuh sendiri.

Wah, aku kaget ketika baca tulisan tentang Sanguine-Phelgmatis ini. Tulisan itu benar-benar memahami diriku bahkan mungkin lebih jauh dibanding dengan pemahamanku selama ini. Namun, yang bikin bingung, setelah tahu ini semua, apa yang harus aku lakukan. Tetap seperti ini dengan semua kelebihan dan kekurangannya, atau membuang kelemahan yang sangat mungkin juga agak membuang beberapa kelebihan. Tapi yang pasti, sifatku bukan sifat yang dibutuhkan orang untuk bisa sukses dalam segi materi….

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. Lo d pfofile ditulis Internitis…
    A bakal tlis di koment:
    MU lover j…

    tpi lo da plihan, Book Lover lbih bagus…
    dengan membaca kepribadian jg terbentuk…apa idola kita jg membentuk karakter person…

  2. kalo kata dosen gw sebenernya semua orang punya 4 kepridian antara
    Sanguine, Choleric, Melancholic dan Phlegmatic,
    tapi pasti ada salah satu yang paling kuat di dalam diri kita, dan yang terpenting kita bisa ga wad manfaatin kebaikan dari karakter kita tersebut…

    karena semua karakter kepribadian punya kelebihan dan kelemahannya…

    gw juga lumayan tertarik ma tulisan lw…

    al’a ge juga baru belajar tentang ini di kampus…


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.