Bintang sang Penyejuk Jiwa

1 Desember 2014 pukul 10:30 | Ditulis dalam Daily Prophet | Meninggalkan komentar

Pertandingan Liga Champions antara Basel dan Real Madrid baru saja berakhir saat bidan memutuskan bahwa pembukaan mamahmu sudah lengkap dan kamu siap dilahirkan. Pertandingan itu berakhir 0-1 untuk Madrid, kutonton tidak secara lengkap karena meskipun tivi di ruang persalinan selalu menyala, aku lebih sibuk menemani mamahmu dalam sakitnya berkontraksi sepanjang malam.

Kamu lahir tak lama kemudian, aku catat 5.25 waktu jam dinding di ruang itu. Diiringi kelegaan luar biasa dari aku dan mamahmu. Selamat nak, kamu lahir di era yang tepat. Era di mana manusia punya internet, yang sungguh memudahkan semua urusan. Di masa kamu tumbuh dan berkembang kelak, aku rasa internet akan bisa membantu mengatasi masalah-masalah yang aku temui saat dulu aku tumbuh dan berkembang.

Nak, bahkan sejak lahir kamu sangat scientific. Kamu lahir tepat pada tanggal di mana dokter, dengan perhitungan ilmiah, memperkirakannya. Kamu menolak semua usul orang untuk lahir di tanggal-tanggal lain, tanggal yang sama dengan aku lahir atau tanggal di mana orang tuamu pertama kali jadian. Dokter memperkirakan kamu lahir tanggal 27 dan kamu lahir tanggal 27.  Jangan percaya kalo orang lain bilang sebaliknya, science is so cool.

Bintang Qurrota A’yun, begitu aku dan mamahmu akhirnya memutuskan untuk menamaimu. Bintang yang menyejukkan jiwa, itulah harapan aku dan mamahmu padamu. Bahwa kamu akan bersinar layaknya bintang dan dengan sinarnya akan menyejukkan jiwa-jiwa di sekitarmu. Sejukkanlah jiwa, tak sekedar menyejukkan mata dan telinga.

Nak, kalau kamu bertanya nasihat hidup padaku, aku akan selalu menjawab, kejarlah mimpimu. Itu adalah kemewahan luar biasa yang bisa kamu raih dan itu jelas tak mudah. Jangan khawatir, bahkan sejak kamu belum lahir, mimpiku adalah untuk mewujudkan mimpimu.

Sehat selalu ya, nak. Hal-hal indah menunggumu.

Selamat Hari Ibu, Untuk Ibu-Ibu yang Anaknya Nggak Korupsi

22 Desember 2013 pukul 20:32 | Ditulis dalam Daily Prophet | Meninggalkan komentar
Tag: , , , ,

Sungguh menarik kerja yang dilakukan oleh Anies Baswedan dalam rangka hari Ibu. Untuk mengurangi korupsi, Anies akan mengajak para ibu untuk mengingatkan anak mereka agar mereka tidak korupsi. Karena, menurut Anies, hanya para ibu yang bisa menjewer mereka.

“Di hari Ibu, saya mengajak para Ibu untuk mengingatkan anak-anaknya dan katakan bahwa rahim Ibumu tidak untuk melahirkan calon koruptor. Hargailah ibumu.”, sungguh mengharukan. Begitu yang dikatakan Anies seperti yang dikutip oleh Kompas.

Kowe ora Korupsi tho?

Minggu lalu saya baru saja dapat cerita dari salah satu senior di kantor yang kini bekerja untuk Kantor Wilayah Yogyakarta. Mas Ju, biasa saya panggil beliau, adalah pemuda asli Sewon, mBantul. Untuk biaya kuliah mas Ju dan saudara-saudaranya sampai selesai, orang tua mas Ju memelihara dan menjual ternak-ternak mereka. Continue Reading Selamat Hari Ibu, Untuk Ibu-Ibu yang Anaknya Nggak Korupsi…

Mamen dan Keadilan Tuhan

30 November 2013 pukul 12:27 | Ditulis dalam Daily Prophet | Meninggalkan komentar
Tag: , , , ,

Di sosial media, sampai sekarang, saya masih memakai nama alay saya, mamen chiell. Nama yang saya pakai pas masih ABG untuk gaya-gayaan. Kata “mamen” sendiri berasal dari kata “pengamen” yang artinya manusia penga. Manusia penga adalah sejenis makhluk yang memperoleh penghasilan dari menjual suaranya.

Namun, jangan berpikir bahwa saya mempunyai suara yang sebagus manusia penga. Justru sebaliknya, disematkannya nama mamen pada saya justru sebenarnya telah mempermalukan dunia tarik suara karena saya mempunyai sebuah kelemahan besar : saya sama sekali tidak bisa menyanyi. Mmmm, sepertinya kalimat tersebut sedikit berlebihan. Istilah yang tepat bisa jadi adalah suara kaleng bekas yang dipukuli sembarangan lebih merdu daripada saya menyanyi.

Saya menyadari kelemahan besar ini sejak saya kelas 3 SD. Tentu saja saat itu saya masih sempat lugu. Dalam sebuah pelajaran menyanyi di kelas, guru saya menilai semua anak untuk menyanyi lagu berjudul “Burung Kuhilang”, eh, “Burung Kutilang“. Saya masih ingat dengan jelas komentar guru saya setelah saya selesai menyanyikan lagu itu, “Kok kamu nyanyinya ga bisa meliuk-liuk ya?”.

Sungguh suatu pernyataan yang sopan. Continue Reading Mamen dan Keadilan Tuhan…

Tiga Warung Pinggir Jalan Enak di Jakarta

23 November 2013 pukul 09:37 | Ditulis dalam Daily Prophet | 3 Komentar
Tag: , , ,

Di Jakarta semua ada, kata mereka. Tapi saya bahkan sempat kesulitan untuk cari tempat sarapan soto yang enak di sekitaran kos waktu itu. Di Jakarta semua ada, tapi di mall dengan harga mall juga. Selain mahal, cita rasa masakan tradisional di mall juga kurang pas. Sementara yang di jalanan, kadang tempatnya agak mengkhawatirkan : kebersihannya kurang terjaga dan ada kecurigaan pemakaian bahan makanan berbahaya.

Sampai sekarang saya masih kesulitan cari tempat makan yang ada di tengah-tengah kedua kelas tersebut, dengan cita rasa yang mak nyus, kalau meminjam istilah dari pak Bondan. Saya percaya kata mereka, di Jakarta semua ada. Termasuk tempat makan pinggir jalan yang enak. Pertanyaannya adalah di mana Anda bisa menemukannya. Seperti tempat-tempat yang saya temukan ini, tempat-tempat jajan jalanan favorit saya di jalanan Jakarta :

Pempek @bing

Soal rasa, pempek @bing menurut saya adalah pempek paling enak setelah semua pempek yang pernah saya coba di Palembang sana. Kuahnya mantab, rasa ikannya pas. Harganya juga terbilang murah, makan berdua di sini kira-kira hanya menghabiskan uang 40 ribu Rupiah.

Pempek @bing ada di jalan Prof. Doktor Satrio. Kalau Anda dari kolong Karet, Sudirman, bergeraklah ke arah terowongan Kasablanka. Sebelum melewati ITC Kuningan, seharusnya Anda akan sudah menemukan dua dua warung pempek @bing. Saya sendiri juga heran, karena dua cabang pempek @bing ini letaknya berdekatan, kurang lebih hanya terpisah 500 meter.

Pempek @bing juga menjadi tempat yang bersejarah bagi saya sama istri. Kencan pertama saya dengan si eneng diakhiri dengan makan di sini. Tentu saja saya yang bayarin, dengan tambahan kalimat, “Ntar kalau makan lagi, gantian kamu yang bayarin” sebagai jaminan akan ada kencan berikutnya untuk saya dan si eneng. Continue Reading Tiga Warung Pinggir Jalan Enak di Jakarta…

Menikah Mungkin tak Sebahagia yang Anda Bayangkan

6 November 2013 pukul 17:59 | Ditulis dalam Nggombal..!!! | 2 Komentar
Tag: ,

Kemarin siang, saya baca twitnya Trinity, naked traveler yang terkenal itu :

Gugling punya Google alias usut punya usut, twit itu meng-quote sebuah tulisan yang sepertinya lagi rame dibahas di social media. Tulisan berjudul Marriage Isn’t For You yang ditulis oleh Seth Adam Smith itu mengingatkan saya pada obrolan dengan temen saya beberapa bulan yang lalu, seminggu sebelum saya nikah.

Ngapain nikah? Saya bahagia sekarang, bebas pergi dengan gadis manapun yang saya mau.

Begitu jawaban temen saya itu pas ditanya kenapa belum nikah di usianya yang sudah kepala tiga.

Mungkin nanti kamu bakal ketemu sama orang yang kebahagiaannya lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri, mas. Pada saat itu lah, kamu bakal merelakan kebebasanmu demi kebahagian orang itu.

Begitu kira-kira respon saya, yang diiyakan juga oleh masnya.

Bisa jadi masnya nanti akan bertemu seorang gadis yang cara untuk memastikan kebahagian gadis tersebut adalah dengan menikahinya. Atau mungkin orang tuanya yang ingin menimang seorang cucu jagoan anak dari masnya. Untuk gadis atau orang tuanya itu, yang lebih dicintai dari dirinya sendiri, bisa jadi masnya akan mau merelakan kebebasannya.

Setelah tiga bulan pernikahan, saya dan istri juga mulai menyadari bahwa ada hal-hal menyenangkan yang terpaksa dipinggirkan setelah menikah. Kami tak bisa lagi berlibur sebanyak yang kami inginkan. Saya melewatkan beberapa acara ngumpul bersama teman-teman lama, dan saya tahu, istri saya tidak lagi sebebas dulu pergi ke salon atau menjelajah Thamrin City.

Lalu, dengan melepas hal-hal tersebut, apakah kita tetap bahagia setelah menikah?

Bagi saya, kebahagiaan setelah menikah sederhana. Sama sederhananya dengan secangkir teh dan kecupan hangat di pagi hari atau percakapan di atas bantal sebelum tidur. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan, selain melihat senyum bahagia istri saya.

Halaman Berikutnya »

Blog di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.168 pengikut lainnya.