Catatan Harian seorang Relawan(2):Pundong Trip(UNSEEN)

31 Mei 2007 pukul 20:08 | Ditulis dalam Catatan Harian seorang Relawan | Tinggalkan komentar

Pagi hari, ak nganter temenku yang semalem nginep d kosku buat kembali k rumahnya. Untuk pertama kalinya, ak melihat kehancuran yang disebabkan oleh gempa itu. Banyak rumah yang roboh. Beberapa yang lain tinggal nunggu waktu buat roboh atau hanya nunggu buat dirobohin karena udah ga layak buat ditinggali.
Saat ak k kampus sekitar pukul 12.00, temen2ku udah banyak yang kumpul d kampus dan udah ngumpulin bantuan buat di kirim ke Bantul. Ak waktu itu seneng banget, akhirnya kesempatan buat berguna itu datang. Sekitar pukul1 kami berangkat ke Bantul. Ada dua rombongan. Yang satu ke kec. Sewon, Bantul. Ak dan sebagian lainnya ke kec. Pundong Bantul. Dibanding yang ak lihat pagi hari tadi, yang ini jauh lebih mengerikan. Beberapa udah ga bentuk rumah lagi. Di sepanjang jalan Parangtritis banyak berdiri posko-posko di pinggir jalan. Beberapa nampang tulisan gede-gede”BUTUH BANTUAN” dan semacamnya. Yang lebih agresif nenteng kardus di tengah jalan dan disodorin ke pengendara yang lewat buat minta sumbangan. Ak sebenarnya iba. Tp kurang setuju ma cara yang mereka lakukan. Ngemis. Dalih mereka, pemerintah kurang tanggap memberi bantuan sehinggamereka terpaksa melakukan cara ini. Tp ak ga berani mikir siapa yang salah dan ga berani nyalahin siapapun. Setuju ga setuju, itu cara yang mereka tempuh untuk survive di tengah ujian yang menimpa mereka.
Ternya kerusakan yang terlihat dari pinggir jalan Parangtritis ga seberapa parah dibanding yang ad di pelosok. Umumnya rumah, yang ad d pinggir jalan adalah rumah baru, sehingga masih lumayan kuat. Namun, begitu masuk k dalam desa, kerusakan tak terhindarkan. Menurut penduduk yang ada di situ, udah selamat aj, merupakan hal yang menakjubkan. Keadaan waktu itu sangat mengerikan. Saat rumah rubuh, rumah-rumah itu menerbangkan debu putih kapur sehingga menganggu pandangan. Membuat semuanya tampak lebih mengerikan. BElakangan, ak (hampir) tahu betapa mengerikannya keadaan waktu itu waktu ak merasakan suasana rumah yang rubuh.
Baru dari Pundong, ak diajakin ke Imogiri, ke rumah kakek-nenek salah seorang temenku. Ngikut aj, sekalian liat-liat “hasil karya” gempa itu. Keadaan sepanjang jalan ga jauh beda ma yg ad d Jl Parangtritis. Tp kyknya yang keliatan di pinggir jalan lebih lumayan daripada sebelumya. Sampai di rumah neneknya temenku itu(yang ternyata d daerah Piyungan) ak baru nyadar. Rata-rata rumah di sana mang masih keliatan bagus dari luar. tapi di tengah dan belakang ancur…..
Kembali dari sana, ak k rumah temenku. Masih di daerah Piyungan juga. Cerita-cerita. Ternyata d sana mpe saat itu masih sering gempa susulan. Buktinya waktu kami lagi ngobrol juga ad gempa susulan lumayan keras. Gempa susulan itu yg akhrinya “ngusir” kami pulang dari rumah temenku itu.

30 Mei 2006. Evakuasi dab(hi…)!!!!
Ak hari ini iseng aj k kampus. Ternyata posko bantuan masih berdiri di sana. Dengan tulisan :
Posko Peduli Gempa Fasilkom(maksudnya Fakultas Ilmu Komputer–padahal di UGM ga ad Fasilkom itu)
bisa dan mau menyalurkan bantuan berupa :
makanan
pakaian (luar-dalam)
obat-obatan
uang
doa(minimal lima ayat tidak termasuk bismillah)
Di sini yang Ilkom 05 cm ak doang. Ga tahu yang laen pada kemana. Cuma sebentar bincang-bincang di sana, ak udah disuruh buat k Pundong. 4 orang. Bawa bantuan seadanya waktu itu. Ikut aj. Waktu itu ak ma mas Iqbal(Ilkom eks. 02), WidZ, mas AKbar(Komsi 04). Kami bawa bantuan Aqua, pakaian bekas, n tenda. Udah berangkat kita.
Lokasi di Pundong kali ni beda ma yang kemarin. Agak ke Selatan dikit. Kami k salah satu rumah (kayaknya mantan)anggota Himakom. Hari ni peminta-minta lebih banyak daripada yang kemarin. Sampai masuk ke jalan yang lebih kecil juga gitu.
Rumah yang kami tuju masih berdiri. Cm agak mengkhawatirkan. Tapi didepannya udah didirikan tenda untuk 7 keluarga di sana. Padahal tenda itu ukurannya kecil banget. Maksudnya tenda di sini bukan buat kemah-kemah itu, tapi lebih seperti tenda buat mantenan. Dri terpal gitu.
Sampai di situ, lihat keadaan sekitar bentar. Keadaannya sama aj kayak yang kemarin. Ga usah dijelasin panjang lebar. Intinya, ancur.
Selesai sholat dhuhur di situ, kami diajak untuk nganterin bantuan yang tadi kami bawa ke tenda-tenda darurat yang laen. Ya begitulah, karena para pengungsi umumnya tetap tinggal di dekat rumah mereka, sehingga mereka nyebar ga karuan.
Masih di kecamatan Pundong, beda dukuh ato desa ak ga jelas, kami nganterin bantuan itu. Senangnya kami diterima dengan baik. Basa-basi. Trus, kami nanya, ap yang sebenarnya dibutuhin secara mendesak oleh masyarakat di daerah ni. Mereka bilang kalo makanan udah cukup. Yang mendesak tenda ma penerangan. Mereka juga membutuhkan bantuan berupa tenaga kalo bisa. Buat ap?? Buat evakuasi. Wuih.., ak udah merinding dulu waktu itu, evakuasi dab..!! Ngeri banget….
Mereka tanya udah nyium bau busuk belum?? AK ga bau. Masak mereka setega itu…
Untungnya nih, yang dievakuasi ternyata “cuma” 5 ekor kambing. Fuihh… Ternyata cuma kambing toh….
Setelah jalan-jalan di sekitar dusun itu (yang ini lebih parah daripada yang kemarin2) kami siap buat bantuin evakuasi. Keren nih, evakuasi.., evakuasi kambing… he..he..he..
Tahu kan udah berapa lama kambing itu mati. Ya sekitar 3 hari lah… Kalo udah 3 hari, tu bangkai busuk banget.
Kami buka genteng ma sebagian tembok yang ad di daerah suspect kandang. Ak kira ini pekerjaan ringan. Ternyata berat bo’. Kita mindahin bata, genteng dan kayu. Berat benget. Apalagi bau busuk keluar dari lubang-lubang dibawah kami. Bikin makin berat. Setelah dirasa cukup, lubang-lubang tadi ditimbun ma tanah. Teorinya, jika ga ad akses udara ke bangkai, maka bau ga akan bisa keluar. Teori yang bagus, Tapi prakteknya susah. Cos, lubangnya ada banyak. Butuh berkubik-kubik tanah buat menimbunnya agar benar-benar mampet. Nah, tanah itu kan dicari dari mencangkul. Trus, perlu diangkut ke daerah kandang. BErat oi…!!!
Pekerjaan kami lumayan berhasil. Bau busuk ga lagi tersebar. AK sebut lumayan, soalnya kalo angin berhembus, tetap aj bau itu tercium terbawa angin. Istirahat sebentar. Perjuangan masih panjang. Waktu lagi istirahat, ad kabar baik, ad rombongan dari Universitas Atmajaya yang juga lagi nyalurin bantuan, siap membantu kami dalam hal evakuasi ini. Wah enak nih… AP lagi mereka lumayan banyak.
Karena teori pertama kurang berhasil. Cara laen dipakai. YAh, hancurkan masalah dari sumbernya. Bangkainya akan diambil untuk kemudian, dikubur di sebelah kandang tadi. Pekerjaan berat nih… Tapi karena anak-anak Atmajaya tadi banyak dan masih fresh, pekerjaannya dihandle ma mereka. Ak salut ma mereka. Ga cuma badannya yg besar-besar, tenaganya kuat2 loh… Mereka rata-rata udah KKN, jadi inget ma waktu mereka KKN katanya. Saat akhrinya bangkai tadi udah ditemukan, bau busuk menyegat banget…!!!
Dibuatin kuburan buat tu kambing-kambing. Yg lucu, ga seberapa dalam(+-1 meteran) dari galian muncul air, makin lama makin banyak. Waktu idup pasti banyak dosa tu kambing, buktinya kubur mereka gitu, kayak di sinetron2 religi-mistis yg kemarin2 banyak di teve. he..he..he..
Satu per satu bangkai kambing ditemukan. Plus satu bonus bangkai bebek. Tapi baru tiga dari lima bangkai kambing yang ditemukan. 2 diantaranya masih anak-anak. Karena tenaganya memang udah capek dan baunya udah ga begitu nyegat lagi. Pencarian dihentikan. Tiga bangkai kambing n atu bebek itu dikubur di galian yang udah disediakan. Ak kebagian ngurug pake tanah. Ini sih lumayan ringan, ga pake lama juga selesai.
Akhirnya mission completed. Bau yang tersisa cuma bekas bangkai aj. Alhamdulillah. Sejenak nyeruput teh anget dan nyemil seadanya akhirnya kami pamitan dari tempat itu. Asyik benar hari ni kalo kita bisa berguna bagi sesama……

31 Mei 2006
Hari ni masih seperti kemarin. Ak k Pundong lagi buat nyalurin bantuan. Berenam. Mas JOe(Ilkom 02), WidZ, mas Iqbal, mas Akbar, n mas Deni(eks. Ilkom Eks 03). Kali ini makanan siap santap. Nasi bungkus. Sekitar 80 bungkus. Buat makan siang. Pertama-tama kami ke tampat yang kemarin. Di situ cuma butuh sekitar 22 bungkus. Yang laen salurin ke dusun yang laen. Kami cari tempat yang katanya masih butuh bantuan. Tempat pertama mau menerima dengan senang hati. Tempat yang laen menolak dengan alasan mereka sudah makan siang. Lebih baik makanan itu diantar k posko laen yang belum menerima. Ak jadi terharu. Di saat susah begitu mereka masih memikirkan nasib sesamanya. Tapi itu jadi sedikit nyusahin kami. Karena jarak satu tempat ke tampat laen sekitar 1-2 km. Naek motor sih. Tp justru di situ lah letak masalahnya.
Saat melewati jalan yang berbatu, motor yang dipake mas Akbar ma mas Deni bocor. Nah lo… Y udah, terpaksa cari tambal ban yang buka di tengah bencana kayak gini. Alhamdulillah sih ad, cm jaraknya lumayan.
Waktu di tambal ban itu, ternyata bannya sobek, jadi ga bisa ditambal. Akhirnya mas Akbar milih diganti. Y udah diganti aj.
Panas terik matahari, oh menyengat, oh menyengat, kulitku… kulitku…
Lagunya /rif mengiringi saat kami nunggu ban selesai ditambal. Kalo sekitar 1 jam ad. Saat nunggu ini ada kejadian yang menurutku penting banget dalam hidupku. Cuma sebentar yapi dalem artinya.
Jadi gini, gara-gara gempa ini, ujian di MIPA diundur 1 minggu. Artinya minggu tenangnya ada dua minggu. Artinya dari artinya, aku punya waktu dua minggu untuk pulang ke Kudus. Apalagi ak udah sekitar dua bulan ga pulang ke Kudus. Tapi, ak masih bingung, masak aku melarikan diri dari daerah bencana kayak gini. Ak bakal kehilangan banyak kejadian seru…
Karna bingung, waktu itu aku tanya mas Joe,
“Ak enaknya pulang ke Kudus ga ya…??
Dan dengan sok bijak beliaunya berkata,
“Yo… nek kuwe merasa dibutuhkan di sini yo ra usah muleh. Tapi nek merasa ga berguna yo mulehen kono….”
Asli. Sumpah!! Kata-kata mas Joe yang cuma sedikit itu nusuk banget. Kena banget. Kalo ak pulang sekarang, sama aja aku tu pengecut..!! Kalo gitu, ga ada dunanya semua ajaran abang-abangku di Jodhipati. Akhirnya aku manteb buat ga pulang.
Oh ya, mumpung inget, waktu itu, Madame sapa, seorang yang katanya peramal terkenal, suka ngerama artis-artis, ngomong kalo dua minggu dari gempa yang lalu, bakal ada gempa yang lebih gedhe. Jindal.., ni orang asal njeplak aj..!! Orang yang kayak gini bikin Indonesia ga maju-maju. Sampe sekarang kan terbukti kalo gempa dua minggu itu ga ada….
Masalahnya, gara-gara omongannya itu banyak orang tua, termasuk orang tuaku dan mas Joe, khawatir dan nyuruh anaknya pulang. Tapi akhirnya, dengan sedikit penjelasan, ibu ku mengerti kalo anaknya punya kewajiban di sini yang ga bisa digugurkan cuma gara-gara omongan-orang-yang-pengen-terkenal.
Td sisa nasi bungkusnya udah diantar ma mas Iqbal ke tempat yang dimaksud. Tinggal nunggu ban selesai kita cabut.
Yah akhirkan, kita tampilnya….. Ban selesai diganti. Let’s go back. Kita pulang k Milan. Tahu ga?? Sekarang ini, pada jam-jam ini(menjelang sore) jalan Parangtritis selalu rame oleh para relawan bantuan ato turis bencana. Jadi, jarak yang seharusnya bisa ditempuh hanya setengah jam, menjadi berjam-jam untuk kita. But, finally kita bisa nyampe ke Milan dengan selamat kok…..

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: