Catatan Harian seorang Relawan (4): Demolution Session

3 Juni 2007 pukul 20:49 | Ditulis dalam Catatan Harian seorang Relawan | Tinggalkan komentar

Kemarin ad smsms dari mas Septo(Ilkom 04). Katanya besok(hari ni) semua anggota posko Fasilkom diharuskan datang ke posko karena kita mo k Pundong. Lagi dibutuhin banyak orang di sana. Jadi hari ni, ak pause dulu dari Sardjito.
Sampai di sana guess what…?? Kita diminta untuk bantu ngrubuhin rumah.Wah, kapan lagi kita bisa bertindak anarkis kayak gini…!! Rumah yang dirubuhin yaang masih berdiri tapi udah ga layak pakai lagi.
Perkejaan pertama, mindahin perabot yang masih dipaki dari dalam rumah. Barang-barang seperti lemari, meja dan kursi dipindah keluar rumah. Setelah diyakini semua bersih, termasuk tidak ad orang lagi di dalam rumah, tali diikatkan ke blandar(bahasa Indonesianya apa sih??), trus ditarik bareng-bareng. Banyak orang loh… tetapi tetep aj berat. Namun, rasa seneng melanda saat blandar itu tertari k jatuh. Karena itu menjadi tumpuan buat usuk dan genteng maka sebagian usuk dan genteng juga rubuh. Saat rubuh, debu berwarna putih beterbangan, pekat banget. Saat itu ak bayangin, itu dari sebagian rumah aj yang rubuh, hingga kita bisa membalikkan badan untuk menghindari angin dan debu itu. Tapi bayangin saat gempa, saat hampir semua rumah rubuh dan semua menerbangkan debu putih(karena kapur dari dinding rumah), pasti suasana sungguh ga enak dan menyeramkan. Ak jadi paham kenapa mereka yang masih hidup jadi trauma dan butuh waktu untuk memulihkan kondisi psikis.
Sekitar dhuhur, kami ngerasa kalo untuk rumah yang satu ini kayaknya udah cukup. Istirahat dulu lah… Tuan rumah udah nyiapin cemilan dan makanan untuk kami. Wah jadi enak nih…. Kami niatnya mo bantu kok malah ngerepotin.
Dasar anak-anak kalo lagi kerja, banyak istirahatnya daripada kerjanya. Istirahatnya lama banget. Dari cuma ngemil, makan, solat, istirahat lagi dan lain-lain. Setelah agak siangan dikit, dan udah agak ngantuk, baru kami kerja lagi. Ngrubuhin rumah yang laen. Rumah yang ini masih berdiri tegak dan utuh. Cuma memang retak-retak(lumayan parah) dan agak riskan kalo mo ditinggali dengan keadaan begitu.
Kerjaan pertama dari ngrobohin rumah adalah nyelametin barang-barang yang masih bisa diselametin. Dalam hal ini, daun pintu dan daun jendela. Ternyata ada yang sudah ahli dalam hal nyongkel jendela loh… Setelah pintu n jendela udah kosong smua, kita trus rubuhin tu rumah.
Tali diikat ke blandar, baru kemudian ditarik bareng-bareng. Rencananya, kalo blandar udah jatuh, maka atap dan usuk-usuknya juga bakal rubuh semua. Eh, ternyata enggak. Blandar itu emang jatuh, tapi cuma bagian itu, yang laen ga ikut rubuh. Akhirnya dipilih blandar yang paling gede, yang menopang semua blandar laen. Blandar itu udah rubuh dan numpang ke tembok nah, sedikit demi sedikit, tembok yang jadi tumpuan tu blandar dihancurin, makin lama makin turun dan begitu blandar paling gedhe itu kehilangan ketegarannya, rubuh deh genting dan tembok-temboknya. Rubuhnya rumah yang ini, lebih keren dan lebih mengerikan daripada rumah yang pertama, coz rumah ini rubuh dari keadaan berdiri tegak.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: