Catatan Harian seorang Relawan (7): Satu Jam Bersama Relawan Sardjito

24 Juni 2007 pukul 23:00 | Ditulis dalam Catatan Harian seorang Relawan | Tinggalkan komentar

Akhrinya inilah seri terakhir dari cerita Catatan Harian seorang Relawan. Dari pihak sardjito sendiri hari ini adalah hari terakhir untuk menerima secara resmi relawan transpotter. Jumlah pasien di Sardjito saat ini sudah cenderung normal seperti hari-hari biasa.
Sekedar cerita aj, pihak Sardjito memberikan respect yang besar banget kepada kami. Karena menurut mereka, rumah sakit akan lumpuh jika ga ad kami. Ak juga sudah sering mendengar hal ini dari dokter-dokter yang kami temui. Mereka berterima kasih banyak kepada kami.
Hari Rabu tanggal 22 Juni kemarin, kami sempat beraudiensi ma Direksi Sardjito. Intinya mereka memberikan ucapan terima kasih kepada kami. Selain itu mereka juga bakal menampung kami dalam sebuah lembaga relawan yang khusus dibentuk untuk menanggulangi keadaan seperti ini lain kali. Nah, yang spesial, dari pemilik JogjaTV, mereka mengundang kami buat ikut dalam acara live show hari Sabtu ini. Wow, bayangkan betapa bangganya kami. Kehadiran kami benar-benar dihormati berbagai pihak di Sardjito.
Hari Sabtu, sebenarnya ak ga kepengen ikut k JogjaTV. Namun saat ak smsms mBak Lila, dia juga pengen ikut. Akhirnya ak mutusin buat ikut. Habis ashar ak k Sardjito. MO k GBST. Tapi di tengah jalan ketemu ma mBak Lila, dia bilang kayaknya di GBST udah ga ad operasi. Akhirnya, kami cuma duduk-duduk, ngobrol. Eh, di Sardjito ini ak jadi punya dua kakak perempuan. mBak Lila ma mBak Astrid. Mereka lulusan Teknik Kimia UPN. Jadi udah pada tua. Nah, hal itu ak manfaatin. Enak banget bisa curhat, bisa manja-manja ke mereka…..
Habis sholat mghrib, kita berangkat ke JogjaTV. Ini udah jam setengah tujuh. Padahal, acara bakal on air jam7. Jadi terburu-buru deh. Apalagi belum tahu tempatnya. Oh, iya kita berangkat dengan mobil dari Sardjito. Ada yang naek ambulans. Tapi kalo ak naek mobilnya koordinator relawan nonmedis, pak Tono. Untungnya kami tiba d JogjaTv ga telat. Masih ad lumayan waktu untuk ngerias diri. he..he..he..
Bayangin tempatnya kayak ap?? DI sebuah studio gitu?? BUkan. Acara di shoot dari pinggir sawah. Cuma ad panggung kecil buat band dan banyak kursi untuk penonton. Minimalis banget. Ak juga baru ngeh konsep acaranya. Ternyata kita cuma penonton tamu untuk acara yang judulnya “Kidung Memori”. Jadi ada band yang mainin lagu-lagu oldies gitu. Di sela-selanya ad dialog dengan kita2.
Sebenarnya acaranya sih ngeboringin banget. Tapi karena ma temen-temen, rasanya jadi asyik. Ap lagi waktu lihat muka-muka kita nongol di TV. Ga ding, kita lebih sering d shoot dari belakang. Jd cuma terlihat punggung-punggung.
Acara yang on air sejam itu rasanya cepet banget. Belum merasa ad sejam, acara udah berakhir. Nah, ini bagian serunya, habis itu, ngerasa udah saatnya pisah, para relawan salam-salaman, saling peluk dan cium. Bukannya mengharukan malah jadi aneh. Soalnya mereka malah pada seneng.
Kita balik dulu k Sardjito. Ada ucapan perpisahan dari pak Tono. Habis itu kayak gitu lagi. Saling peluk dan cium lagi. Walaupun ancur gitu, masih ad yang nangis juga. Kinan. Dia menangis sampai tersedu-sedu loh..
Relawan di sini udah lebih dari sekedar teman biasa. Cinlok, konflik dan sebagainya udah mewarnai hari-hari kami di sini. Kami pengen saling ketemu lagi namun semoga bukan karena ad bencana yang memerlukan bantuan kami. KAlo bagiku sendiri, hubungan relawan d Sardjito ini merupakan komunitas non-keluarga paling dekat setelah JoCa.

Yah inilah akhir dari cerita ini. Sebenarnya kalo mo dibuat film, cerita relawan Sardjito bakal seru. Cos, disinilah berbagai karakter bertemu untuk satu tujuan mulia yang sama. Cinta dan konflik benar-benar terjadi secara nyata dan alami di sini.
Untuk ak sendiri banyak yang ak alami di sni. Sleain cinta dan konflik, ak merasakan banyak pengalaman seru di sini. Perasaan di hati saat pasien ato keluarga pasien mengucapkan terima kasih padamu. Ato, melihat sendiri bagaimana mereka menderita. Oh ya, ad cerita lepas. Waktu hari-hari terkahirku di Sarjito, ak sempat memegang bola mata. Bola mata seorang anak yang terpakasa diangkat karena rusak terkena genteng. Ak kasihan banget ma adikknya. Masa depannya masih panjang, dan dia harus menerima kenyataan hanya hidup dengan satu mata. Sepanjang perjalanan dari gedung operasi ke bangsal, adik itu terus menangis. Mengerikan banget.
And this is it. Thx udah mau baca ini. Semoga ad yg bisa dipetik. Terutama tentang “sayang kepada sesama tak hanya di bibir”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: