Sinetron Laris, Juminem

26 Januari 2008 pukul 06:27 | Ditulis dalam hanya di Indonesia | 3 Komentar

Pernah nonton sinetron berjudul “Juminem”? Ya, akhir-akhir ini sinetron tersebut memang sangat terkenal dan ditayangkan terus menerus di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Katanya sih, ratingnya tinggi dan disukai banyak penonton di Indonesia. Mungkin karena itu, sinetron itu ditayangkan beberapa kali sehari dan setiap hari dalam satu minggu.
Merasa belum pernah nonton?? Saya yakin pasti pernah. Kok judulnya Juminem?? Judulnya memang bukan Juminem :p. Karena judul “Juminem” dianggap kurang menjual, judulnya diubah menjadi …. :p Ga juga ding, Juminem itu hanya rekaan saya untuk sebuah tipe sinetron dengan ciri-ciri seperti berikut :
1. Judulnya memakai nama orang (dan cewek)

Sudah saya katakan tadi, judlnya seperti ini banyak macam nya. Mulai dari Intan, Candy, Kasih, Olivia, Safira, Mutiara, Azizah, Mentari, Fitri, Suci, Soleha sampai Cahaya dan Rukiyah. Pertanyaannya, kenaoa mereka memakai nama orang? Mungkin niru sama telenovela, tapi menurutku, mereka punya alasan lain yang sama sekali ga kreatif. Apa itu? Dipilihnya nama tokoh utama untuk judul sinetron ini adalah karena sang penulis skenario, belum punya plot cerita untuk keseluruhan sinetron ini. Mereka hanya punya plot cerita awal. Cerita selanjutnya baru akan dibuat setiap hari selama shooting sinetron tersebut. Takutnya kalo make judul yang berkaitan dengan cerita sintron tersebut, nantinya perkembangan cerita ga lagi sejalan dan judulnya ga sesuai. Tapi kalo judlnya nama tokoh utama kan, selama ceritanya masih tentang tokoh utama tersebut, judulnya tetep bakal nyambung. Huh..!! Sama sekali ga kreatif.

2. Alur cerita tentang si cewek miskin dengan cowok dari kalangan berpunya

Alur cerita dari sinetron bertipe “Juminem” itu hampir sama semua. Tentang perjuangan seorang cewek dari golongan miskin untuk meraih cinta sejati dari cowok kalangan keluarga berada. Ada yang sebelumnya tukang jamu, pengamen, pedangang kaki lima, calon pelacur, pembantu rumah tangga, tukang sapu jalanan, buruh cuci, TKW, tukang becak dan sebagainya. OKeh, bebrapa yang terakhir memang saya lebih-lebihkan, tetapi tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada sinetron yang mengambil profesi seperti itu. Mereka sama sekali ga kreatif sih…
Nantinya, si cewek bakal kenalan sama cowok dari keluarga kaya. Biasanya si cowok udah kerja jadi manager atau direktur (di usia semuda itu??) di perusahaan keluarganya. Mereka saling jatuh cinta namun ditentang oleh keluarga si cowok, bisa mamanya, papanya, neneknya, adiknya, kakaknya, cucu dari bapak dari paman dari sepupu dari anak dari eyang kakungnya, dan sebagainya. Namun, kekuatan cinta akhirnya menang dan mereka hidup bahagia selama-lamanya, Pokoknya Cinderella banget deh…
Nah, karena skenarionya dibuat setiap hari(katanya sih biar up to date ma kejadian sosial ekonomi dan politik yang terjadi di masyarakat), jangan kaget kalo ceritanya awut-awutan. Masalah demi masalah datang satu persatu dan saling disambung-sambungin. Begitu satu masalah selesai, sang penulis skenario bakal cariin masalah lagi, begitu seterusnya selama ratingnya masih bagus. Childis(tulisannya bener ga sih) banget. Oh iya, biar ceritanya ga monoton dan bisa tayang selama satu jam di TV, bakal ada adegan-adegan konyol yang ga nyambung dengan cerita. Menceritakan orang yang dikonyol-konyolkan. Tapi sana sekali ga ada hubungannya sama plot utama cerita.

3. Frame satu wajah

Di sinetron tipe “Juminem” sering kali kamera hanya akan nge-shoot satu wajah yang sedang berdialog. Apa maksudnya?? Gini, karena sinetron ini sinetron kejar tayang, maka akan menghabiskan waktu banget kalo beberapa adegan terpaksa diambil berulang kali gara-gara ada yang salah akting. Untuk mengurangi kesalahan tersebut, kamera hanya akan nge-shoot orang yang sedang berdialog, dengan begitu, lawan aktingnya tidak perlu repot-repot akting juga, cuma yang berdialog itu yang akting. Jadi, kesalahan bisa diminimalisir dan kejar tayang terus….
Nah, karena kejar tayang itu tadi dan rata-rata tiap adegan hanya dishoot sekali, kesalahan kecil biasanya akan dimaafkan oleh sutradara. Ya, kesalahan kecil. Kesalahan kecil maksudku adalah kesalahan yang mungkin penonton tidak akan menyadarinya. Mereka menganggap penonton tidak akan menyadari kesalahan dialog, merk baju yang masih menempel, atau orang buntung yang tiba-tiba kakinya kelihatan di belakang. Itu yang mereka definiskan sebagai “kesalahan kecil”. Oh iya, gara-gara teknik frame satu wajah tadi, dialog antara dua orang akan sangat terasa ga nyambung dan aneh. Kayak amatiran banget deh..

4. Ratingnya bagus

Yang ini saya ga tahu alasannya. Tapi menurut produser dari India itu, penonton Indonesia adalah penonton yang lelah dan mencari hiburan dengan nonton televisi. Mereka bilan ini hiburan..?? Waduh, kalo saya sedang lelah dan menonton sinetron tipe “Juminem” kayak gini, saya bakal semakin lelah mengomentari kekurangan sinetron ini. Ga banget deh.

OK. Saya sok tahu. Tapi ini blog. Tempat orang boleh ngomong apa saja. Keculai menghina presiden tentunya. Ini cuma bentuk kerinduan saya terhadap tontonan bermutu dari Indonesia. Apa yang bisa dilakukan?? Kalo saran saya sih, hindari kejar tayang. Itu cuma menghasilkan tontontan yang ga mutu. Mending skenarionya di selesaikan semua dulu, baru shooting-nya dimulai. Setelah shootingnya kelar, baru deh diedit trus ditayangin di TiPi. Penonton sebenarnya sedang menunggu tontonan bagus semacam “Para Pencari Tuhan”-nya Dedi Mizwar atau “Satu Cincin Dua Cinta”-nya Irgi sama Vonny Cornelia.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. chiel…
    stuju aku..
    sinetron indonesia blum ada yang mutu lagi…
    parahnya lagi…
    Stasiun TVnya jadi gak mutu juga…
    Ada yang masih mau nonton lativi, indosiar, Tpi, ato global?
    kayaknya jam2 tertetu aja deh mereka bisa diacungin jempol
    TA TV masih lebih bagus, ato kalo ke jakarta nonton aja o channel….
    itu baru keren…

  2. ndengaren kowe memperhatikan hal-hal kecil dan iso mikir, cil…hahahaha!
    eh, tapi ada lho sinetron yang pake judul nama cowok: “entong”!😆

  3. ilham:::
    udah pernah nyoba nonton MetroTV. Stasiun TiPi paling bagus saat ini menurutku di Indonesia.

    dekisugi:::
    Hal kecil…??
    Imi sudah menjadi masalah umum di Indonesia’e mas…
    Makanya saya ikut bicara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: