Merusak Tradisi

10 Maret 2008 pukul 05:16 | Ditulis dalam Internisti | 4 Komentar

Ada yang unik dalam hasil 16 besar Liga Champions 2007/2008 kemarin. Kesebelasan yang sebelumnya mapan di Eropa dan punya tradisi kuat di kompetisi Benua Biru tersebut rontok oleh kesebelasan yang di benua Eropa bisa dianggap “kemarin sore”.
Yang pertama terbayang jelas, I Diavolo Roso, Milan. Juara bertahan sekaligus juara 7 kali Liga Champions ini dikalahkan oleh Arsenal. Kesebelasan muda yang  prestasi terbaiknya adalah finalis Liga Champions 2006.(kalo ga salah) :p. Mental Eropa yang didengung-dengungkan Milan sebagai modal utama mereka mengarungi ketatnya kompetisi Liga Champions rontok oleh determinasi tinggi Young Gunners. Bahkan di San Siro. Kandang angker milik Milan.

Yang kedua, klub raksasa Eropa pemilik sembilan gelar Liga Champions, Real Madrid. Kesebelasan ibukota Spanyol yang bertabur bintang ini kalah “hanya” oleh AS Roma, yang sama sekali belum pernah merasakan gelar Liga Champions. Kalah dua kali malah. Baik di kandang srigala di Olimpico, Roma maupun di Santiago Bernebau. 2-1.

Klub ketiga yang bisa dibilang punya tradisi Eropa lain adalah Sevilla. Peraih dua gelar UEFA beturut-turut dua tahun kemarin.  Cuma kalah 2-3 di kandang Fenerbache, Sevilla juga cuma menang 3-2 di kandang. Hasilnya, di babak tos-tosan, 3 pemain Sevilla gagal menunjukkan mentalnya dan gagal menaklukkan kipe Fenerbache, Volkan Demirel dari titik pinalti.

Ketiga contoh itu harusnya bisa dicontoh Inter untuk menaklukkan Liverpool, hari Rabu ini. Liverpool yang dua kali mencapai final Liga Champions dalam  3 perhelatan terakhir dan satu diantaranya berakhir dengan diangkatnya trofi Liga Champions oleh Steven Gerrard, jelas punya mental Eropa yang kuat. Apalagi, Liga Champions adalah satu-satunya kesempatan terkahir bagi The Reds untuk mengangkat trofi musim ini. Modal keunggulan 2-0 pun dibawa dari pertandingan leg I di Anfield.

Motivasi pemain Inter harusnya juga tidak kalah besar. Keinginan untuk meraih titel juara Eropa sebagai hadiah ulang tahun seabad menjadi motivasi berharga. Inter tidak ingin sekerdar menjadi juara Italia tapi ompong di Eropa. Memori tahun 1967 saat dikalahkan Liverpool 3-1 namun berhasil membalas 3-0 dan akhirnya menjadi juara Liga Champions ingin diulang oleh para Jugador Inter.

Mampukah Inter melanjutkan usaha Roma, Fenerbache, dan Arsenal untuk merusak hegemoni Eropa?? Bisa kah Inter lolos ke perempat final Liga Champions?? Ataukah mimpi juara Eropa harus dikubur dalam-dalam?? Saksikan dalam not another chiell story episode berikutnya….!!!

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah, ga jadi. Inter kalah lag di San Siro 0-1.
    Inter memang belum punya mental Eropa.
    Salut buat Liverpool.

  2. Hai Chiell.(nama lo kan?)
    Chiell yang rimba.hehe.dan juga weird!
    Makasih banyak ya udah ngasih comment ke web-gue.
    Lo milih “option 3”? hem.Gak ma-ma(loh?pa-pa) kok, malah gue seneng ada yang mau gantiin.
    Sori, kalo gue nge-bales ‘comment-lo’ di ‘web-lo’!

    So,stay tune guys.
    keep ‘rimba’ .hehe.

    Salam Dikung..

  3. Wah, sapa nih ngaku-ngaku Dikung…!!

    Manggil-manggil aku rimba lagi…
    Setahuku yang tahu panggilan itu cuma anak SP2MP..!!
    Ayo ngaku..!!

  4. Raditya Dika komen di sini? Beuh!
    Applause deh…

    *Meragukan…*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: