My Hartz, Surga Dunia 2 Jam

13 Mei 2008 pukul 14:31 | Ditulis dalam Ilmu Komputer UGM | 4 Komentar

Lha, nek ngene kan setimpal… (Lha, kalo begini kan setimpal)
Suhendri Aziz K, saat menerima Sebungkus TOP sebagai permintaan maaf.

Mengutip penyataan Kang Kadir, eh, mas Aziz, kakak angkataku di Ilmu Komputer UGM itu rasanya pas dengan apa yang di alami oleh Panita HKKI 2008. Setelah di forsir, di tekan, di peras, di press, kemudian di laminating selama hampir seminggu untuk menyiapkan acara tersebut, balasan yang diberikan memang setimpal.

Yak, dalam rangka pembubaran panitia seminar HKKI tersebut, kami panita DJoKja yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Ilmu Kmputer UGM makan-makan bareng di Hartz, Chicken Buffet di Jalan Magelang. Asal tahu saja, Hartz tersebut tipe-tipe restoran All YOu Can Eat.

Wah, dengan uang berwarna biru yang ada gambarnya I Gusti Ngurai Rai, semua yang di sajikan di situ bisa ANda nikmati. (Tentu saja kasir, koki, resepsionis, dan waitress tidak termasuk).

Namanya mahasiswa, memang prinsipnya ALl i Can Eat, maka kedatangan sekitar 30an mahasiswa di situ benar-benar jadi bencana bagi para karyawan Hartz siang itu. Bagaimana tidak, jika setiap orang mondar-mandir rata-rata 3-5 kali dengan membawa piring atau gelas yang berbeda. Dan karena waktu yang diberikan cuma 2 jam, 2 jam itu kami manfaatkan seheboh mungkin untuk merasakan semua yang di sajikan di situ,

Aku sendiri, di mulai dengan mencoba salad yang ada di situ, tapi karena masih malu-malu, dari beberapa jenis sayuran yang disediakan, cuma sebagian yang aku manfaatin. Tapi rasanya, hmmm…, lebih enak daripada salad bali atau salad pondoh.

Sebelum ronde kedua dimulai, saya mencoba memafaatkan coffe machine yang ada di situ. Saya pencet-pencet tombol yang ada tulisannya capucino dan secangkir cairan berwarna dan bersa mirip capucino menemani saya makan salad tadi.

Ternyata, selama ini saya terlalu overestimate sama perut saya. Baru dua sajian tadi rasanya perut sudah penuh, Hal ini tidak bisa dibiarkan. Menunggu sebentar, kemudian saya masuk etape kedua dari perlombaan ini.

Sasaran berikutnya adalah hidangan utama. Sebenernya lauk pauk yang ada di situ biasa saja, semuanya udah pernah. Tapi karena macamnya banyak dan takut dianggap ga adil, akhirnya setiap potong lauk saya berikan wakil di piring saya.

Hartz

Agar ga sereden, niru temen-temen yang lain, saya coba belajar dari barista. Nyampur-nyampur Pepsi, KIrm Vanila dan diberi toping meses warna-warni, hasilnya adalah coke float ala McD.

Coke Float a la chiell

Susah juga menghabiskan sebegitu banyaknya lauk. Apalagi jika Anda hanya mempunyai dua tangan. Yang satu megang sendok, yang satu megang garpu. Udah cuma itu. Alangkah nikmatnya jika punya tambahan tangan untuk megang pisau, satu lagi sendok dan garpu, yang satunya lagi muluk.

Setelah hidangan utama selesai, kita tidak boleh menyerah sampai di sini, masih ada makanan penutup dan snack untuk di coba. Makanan penutup, berupa puding dan buah tentu tidak saya lupakan. Dengan makanan penuh karbohidrat dan lemak kayak tadi yang bakal menyusahkan saya besok harinya di kamar mandi, saya imbangi dengan anek buah. Sekali lagi, saya masih berprinsip keadilan sosial bagi seluruh makanan Indonesia, dab hasilnya, satu potongan bah yang tersaji ada di mangkok saya.

dessert

Sampai di sini, yakin, perut saya sudah seperti remaja married by accidents dua bulan yang coba ditutup-tutupi. Ato seperti duda yang kurang berolah raga. Mblenduk. Tapi saya tidak boleh menyerah. Masih ada satu tempat lagi yang belum saya kunjungi. Bagian Snack.

Namun, karena tahu diri, saya cuma mengambil tiga potong kue di situ. Tapi apa lacur, perut ini rasanya sudah mo muntah. Apalagi kue-nya sarta gula yang mengenyangkan dan mengenegkan. Satu potong saya habiskan dengan susah payah. Satu potong lagi dihabisi si Ayip. Dan satu potong lagi saya habiskan dengan hampir muntah-muntah sambil lihat muka Aday.

Dan saya sukses makan sekali untuk tiga hari. (parabolic)

Seakan semua itu belum cukup, kami masih di beri sangu dalam amplop coklat untuk bekal saat pulang ke rumah. Wee….

Previous Entry >>> Pameran apa pameran…??

Next Entry >>> Dimana Kau Ada??

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hiperbolic, glebek…kok parabolic?😆

  2. Wahahahaha,,, aseng..!!! Biar pembaca gk salah sangka,, ente pgn muntahnya karna kekenyangan dan kebetulan sambil liat saya lhooo…Bukan karna liat saya! Hahahahaha,,,
    Memang waktu itu saya merasakan surga dunia… Sayang cewek2nya gk ikut2an blh “dimakan” sepuasnya…

  3. parabolik tu persamaannya y²=4ax..:mrgreen:
    Kalau hiperbolik itu berlebihan..

    Wah, pakai foto nih, ndak hoax, ndak hoax…
    Ndak tahu deh kalau pakai soto sop…😛

  4. mas Joe dan Ardianto :::
    Saya kan cuma ngetes kalian. Untung ga saya tulis wajanbolic

    Aday :::
    Saya lebih memilih makanan dari pada ceweknya. Soalnya makanannya udah ga pake bungkus. Kalo ceweknya

    Ardianto :::
    Kalo Soto Sop bisa buat makanan juga pasti laris tuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: