My New Family

12 Juli 2008 pukul 02:22 | Ditulis dalam Daily Prophet | 3 Komentar

Selain keluarga asliku yang terdiri dari Abah, Ibu, dan Deni, ternyata selama ini saya telah “berkeluarga” di banyak tempat. Yang pertama jelas adalah Jodhipati Candrasari alias JoCa. Tempat di mana saya menghabiskan waktu SMA selama 3 tahun dan sebenernya ingin tambah. Tempat di mana saya belajar apa sebenarnya hidup itu sebenarnya dan bagaimana seharusnya kita hidup.

Setelah itu, di Ilmu Komputer UGM saya di ajari banyak hal oleh Himakom. Mereka, mas-mas, mbak-mbak, teman-teman, dan adik-adik, punya metode berbeda dalam gimana caranya kita hidup dan menghidupi.

Di luar kampus, yang mendidik saya terutama adalah anak-anak yang ngontrak rumah bareng dengan saya semacam Azora, Ncup, Ghani, Dodi, Bram, n Atek. Juga oleh cah-cah yang suka moro mampir ke kontrakan saya seperti Tojret, Gembol, Sigit, Landung as Ganjar dan sebagainya.

Di sini, selama KKN, walau beberapa hari, saya sadar dan “terpaksa” menerima keluarga baru saya. Lha gimana lagi, dalam waktu dua bulan(kurang seminggu) ke depan, saya bakal hidup bareng bersama mereka, makan, minum, tidur, mandi, masak, nyuci, semuanya saya lakukan dengan kehadiran mereka di dekat saya. Di luar kamar mandi paling enggak.

foto keluarga

Kemarin, acara KKNnya lagi membantu Posyandu di belakang rumah. Nama Posyandunya lucu, Posyandu Kakaktua. Dan awalnya, bukannya bantu-bantuin, kami malah bereksperimen sendiri dengan alat-alat Posyandu tersebut mulai dari Tensimeter, stetoskop, meteran, sampai timbangan berat badan. (Anjrit..!!, berat badanku turun 3 kilo!!)

yah, saya memang manis

Agra memang manis deh…

Yang paling seru, saat ada pesta kejutan buat Budhe yang ultah 11 Juli kemarin. Ngundang anak-anak sekampung, kami memutuskan untuk ngerjain Budhe dengan air, tepung, dan telur. Hasilnya, seisi rumah persis kayak habis perang adonan. Untung Pak Mulyadi, yang punya rumah, lagi keluar sampai Minggu sore. Paling ga kami punya waktu untuk membersihkannya sampai Minggu.

sok imut dan manis, udah ada tepung plus telur, tinggal gula

Kita ngasih kado budhe selendang india, menurut aku ma Rifqi, yang di beli di salah satu pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Dasarnya budhe emang pecinta India.

Dan acaranya terus berlanjut sampe malem hari. Saat kita ngerayain dengan makan-makan di warung bakmi Jawa yang kira-kira sekitar 10 km jauhnya dari rumah. Di pinggir jalan Paris pada sekitar jam 8 malam. Dingin…!! Bbrbrbbrbrrr…….

bukan, ini bukan foto di resepsi pernikahan…..

pembantu baru di rumah




3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. chiell…jarane, aeh, jarene kowe ketiban duren yo…ndelok wedokan mabuk…

  2. Cocok cil.. Kowe cen cocok dadi BABU, hahahahhaa..

    Happy KKN ya, there will be a lot of unforgettable memories..

  3. mas Joe :::
    ora mabuk kok mas….
    cuman ngimpi….

    mas Bram :::
    Nang Indosat ono lowongan Babu ga mas??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: