Postingan Tanpa Huruf Keempat Aksara Latin

20 Juli 2008 pukul 04:01 | Ditulis dalam on KKN | 2 Komentar

Tentang cara bicaraku yang celat n ga jelas, telah di ketahui hampir semua orang yang sering nongkrong bareng aku di Himakom. Tapi mereka butuh waktu beberapa bulan untuk tahu kalo saya punya kekurangan saat mengucapkan huruf keempat dalam aksara latin. Temen-temenku di JoCa yang bareng aku selama tiga tahun di SMA tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Sementara temen-temen di teater Studio One lebih sering mengejek ucapanku yang celat dalam mengucapkan huruf R.

Tapi, waktu KKN ini, warga di Panjangrejo ini sangat tanggap n cepat mengetahui kekuranganku yang satu ini. Saat rapat sosialisasi yang notabenenya merupakan pertama kalinya saya bertemu mereka secara resmi, mereka langsung tahu kalo saya kesulitan mengucapkan huruf keempat aksara latin tersebut. Hasilnya, saya langsung menjadi bulan-bulanan pas rapat tersebut.

Hal yang lebih parah terungkap saat saya membantu teman-teman Ilmu Komunikasi untuk memberi materi
English Club untuk Masa Orientasi Siswa-Siswi SMP. Ga perlu waktu lama, pas sesi kedua, saat saya meminta anak-anak nakal tersebut untuk meletakkan pantatnya ke kursi, saat itu juga mereka tahu n
langsung mengejekku habis-habisan.

OKeh. Saya bisa menerima kalo yang mengejek merupakan anak-anak remaja usia SMA ke atas, tapi
untuk anak-anak ingusan yang baru saja masuk SMP, hal ini sungguh memalukan. Rasanya saat itu juga
saya pengen gantung leher saja.

Besok-besoknya setiap pergi ke SMP maka anak-anak itu akan langsung menyambut saya dengan
mengucapkan kata yang artinya “meletakkan pantat ke kursi”, menggunakan aksen saya.

Keinginan untuk menyenangkan semua orang merupakan awal kehancuran

Quote itu telah aku tahu n percaya sejak beberapa tahun ini. Tapi sekarang, saya ga bisa mempraktekkannya karena selama KKN saya mesti menyenangkan semua orang n semua lapisan masyarakat Panjangrejo ini. Mulai anak-anak kecil yang sering maen ke rumah n mengajak kami maen segala macam permainan mulai petak umpet, berkelahi, catur, bantumi (dakon), jalan-jalan, n lain sebagainya. Trus, ada perkumpulan remaja Islam yang membuat kami harus ikut mengajar TPA, ikut pengajian remaja, membaca al Quran setiap habis Isya dan sebagainya. Di kalangan remaja yang sepantaran, kami ikutan maen PS n kartu remi sampe malam banget. Selain itu, bersama mereka, kami juga ikut kumpul Laskar Paserbumi Persiba Bantul. Kami ikut lomba yel suporter antarkorwil hari Minggu malem kemarin di Pasar Seni Gabusan.

Masih ada lagi, bersama kalangan masyarakat bapak-bapak ibu-ibu, kami “terpaksa” ikut pengajian setiap malam Rabu n malam Jumat. Bersama semua program lain yang kami laksanakan, semua rangkaian kegiatan ini benar-benar membunuh kami pelan-pelan. Setiap malem, saya bobok lebih dari jam 12 malam n terpaksa bangun pas shubuh karena corong azan yang memang mengarah pas ke rumah yang kami tempati.

Ah, capek. Baru juga 18 hari.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sabar chiell….

    dibawa nyante wae

  2. loh kalo saya ga sabar, saya udah gantung diri waktu itu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: