I’m not Special

3 November 2009 pukul 14:01 | Ditulis dalam Nggombal..!!! | 2 Komentar
Tag:

I’m not special.

I’m not special.

Kata-kata itu terus aku ulang dan harus aku yakini untuk sekarang dan seterusnya. Karena memang aku bukan seseorang yang spesial. Aku sekarang hanyalah seorang yang biasa. Sangat biasa.

Selama ini aku selalu merasa diriku spesial. Seseorang istimewa yang harus diperlakukan secara istimewa oleh orang lain. Aku selalu pengen menjadi pusat perhatian, dituruti permintaannya, didengarkan pendapatnya, selalu dibenarkan, dan intinya semua harus tentang aku. Everything is always about me. Sebuah sikap egois dan keras kepala yang aku sebut sebagai Wolverine Disorder, merujuk pada sebuah karakter yang sama yang dimiliki oleh James Howlett alias Logan alias Wolverine, seorang mutan pada cerita X-Men.

Nah, sikap seperti itu sering kali membawa masalah bagiku. Terutama akhir-akhir ini. Salah satunya, aku selalu pengen diperhatikan oleh orang-orang di sekelilingku. Masalahnya, tidak setiap saat teman-teman selalu ada di sekitarku untuk menangkapku saat aku terjatuh. Saat itu, aku ga bisa mengeluh pada siapa pun dan akhirnya aku hanya bisa menjerit kesakitan sendirian. Selain teman, aku juga masih punya saudara yang mau mendengar semua kisahku, meski dia ada jauh. Tapi, gara-gara dia juga sedang punya masalah yang jauh lebih parah daripada aku, akhirnya aku yang harus mau untuk gantian memperhatikan dia.

Sekitar 3tahun ke belakang, apa pun yang terjadi, selalu ada seorang Widyandani Sasikirana, seorang cewek super, yang bisa mengerti apa pun yang aku inginkan dan lakukan, sehingga keinginanku selalu bisa terpenuhi. Tapi sekarang, karena dia sudah pergi gara-gara kesalahanku, ga ada lagi yang bisa mengiyakan setiap kata dan perbuatanku. Dan, akhirnya aku memang menyadari kalo tidak semua tindakan dan kataku bisa dibenarkan. Justru hal-hal semacam itu membuatku terlena dan tidak pernah tahu kapan aku berbuat kesalahan. Sekarang, saat aku udah menyadari banyak kesalahanku tidak ada lagi seorang Widyandani Sasikirana yang membenarkan tindakanku kali ini. Dia masa lalu. Masa lalu.

Selama ini aku juga merasa kalo semua pendapat dan pandanganku selalu benar. Aku memang selalu bersedia untuk menggelar diskusi jika terjadi perbedaan pendapat. Tapi jangan harap aku akan keluar dari diskusi itu dengan membenarkan pendapat orang lain. Ga akan pernah. Aku selalu memasuki sebuah diskusi (ato kadang perdebatan) dengan sebuah prinsip Take It or Leave It. Padahal jelas kalo ga semua pendapatku itu benar. Malah, sekarang aku merasa kalo kebanyakan pendapatku itu salah dan berdasarkan sebuah prespektif dari satu arah saja. Arahku.

Yap. Sebelumnya aku merasa baik-baik saja dengan Wolverine Disorder-ku karena ada beberapa orang dalam lingkaran kecilku yang juga merasa baik-baik saja memiliki seorang chiell dalam lingkungan mereka. Tapi ketika memasuki lingkaran yang lebih besar, sebuah lingkungan yang lebih besar, sering kali aku terbentur masalah yang biasanya akan berakhir dengan pulangnya aku ke lingkaran kecilku. Ini jelas suatu masalah karena aku tidak bisa berkembang, terperangkap dalam lingkaran kecilku. Aku suka, tapi aku tidak boleh seperti ini. Selain itu, karena aku tidak punya anyak kelebihan lain, dengan semua kekuranganku tadi, aku ga akan diterima di lingkaran lain.

I’m not special. Aku bukanlah the one, the special one, the choosen one, atau apalah istilah mereka untuk itu. Aku sekarang hanya ingin menjadi seorang padfoot. Seseorang yang mampu bertahan ketika hampir semua orang tidak bisa. Seseorang yang mampu bertahan dalam kegelapan, ketika tidak ada lagi harapan, ketika dingin menjadi teman, tetap tersenyum dalam tekanan.

Update :: Update ini aku tulis hanya beberapa menit dari tulisan utama, dan di selingi dengan aku membaca sebuah artikel di sebuah surat kabar nasional. Dari artikel itu, memberiku sebuah ide. Kalo aku bukan orang yang spesial, bagaimana kalo aku membuat orang lain spesial. Membuat dia menikmati rasanya menjadi seorang yang spesial dan diperhatikan. Masalah dalam melaksanakan ide ini cuma satu. Aku harus menemukan seorang yang memang layak untuk diperlakukan secara spesial. Saat ini, menurutku cuma ada satu orang yang layak untuk itu. Sayangnya, dia sekarang sudah di luar jangkauan.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. curcooooool

  2. “Bulan” mu masih dalam jangkauan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: