Tenggelam dalam Negeri Lima Menara

1 Desember 2009 pukul 23:17 | Ditulis dalam Sharing | 1 Komentar

“Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya, adalah hati orang sukses.”

Ustadz Salman, Negeri 5 Menara, halaman 108.

Ya, sebenarnya suasana hati kita, kita sendirilah yang menentukannya. Mau senang, sedih, gembira, kecewa, marah, gelisah, kita bisa memilihnya. Kita adalah penguasa bagi diri kita sendiri. Tidak seharusnya kekuasaan mutlak tersebut kita serahkan begitu saja kepada orang lain. Kepada pihak luar yang sama sekali tidak berhak.

Sesungguhnya, jika kita kesal, marah, dan kecewa karena pengaruh dari luar, karena intimidasi dari orang lain atau karena perlakuan makhluk lain kepada kita, kita menyia-nyiakan waktu dan energi kita. Mereka boleh melakukan apa saja, tapi kita bisa tetap berlapang dada dan tersenyum. Karena semua itu cuma gangguan sementara, bahkan kita bisa belajar dari hal tersebut.

Itulah salah satu hal yang aku pelajari dari buku Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi. Novel yang bercerita tentang kehidupan di pondok pesantren itu sebenarnya mengangkat sebuah tema utama  “Man Jadda Wajada”. Mantra berbahasa Arab itu artinya kurang lebih, “siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil”. Sepanjang buku ini diajarkan bahwa semua mimpi akan bisa menjadi nyata, asal kita mau berusaha.

Sekilas, buku ini sangat mirip dengan Laskar Pelangi milik Andrea Hirata. Jika Laskar Pelangi bercerita tentang sekelompok anak berjuluk Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara bercerita tentang enam orang bertitel Sahibul Menara, karena mereka suka berkumpul di bawah menara. Laskar Pelangi dan Sahibul Menara sama-sama mempunyai suka duka, susah senang dalam menempuh pendidikan. Laskar Pelangi di sebuah SD Muhammadiyah di Belitong, sedangkan Sahibul Menara di Pondok Madani, Ponorogo. Laskar Pelangi punya jagoan jenius bernama Lintang, si anak pesisir, yang bisa diadu dengan Baso dari Gowa yang mempunyai photograpic memory. Dua orang ini juga punya kisah yang sama, sama-sama harus putus pendidikan menjelang akhir pendidikan mereka.

Buku ini memang mengambil sudut baru. Sudut kehidupan pondok yang selama ini selalu terkesan terbelakang dan kolot. Dengan gaya cerita yang detail dan penuh pencitraan, buku ini menggambarkan kehidupan pondok yang jauh dari kesan awal. Bahwa pondok dan pendidikan agama, bukanlah sebuah jalan alternatif. Namun bisa merupakan jalan tol untuk mencapai kesuksesan, tidak hanya untuk akhirat, tetapi juga untuk dunia.

Dari huruf pertama di halaman pertama sampai titik di halaman terakhir, terasa sekali kalau buku ini berniat memotivasi, memberi inspirasi. Walaupun di beberapa tempat, pesan yang ingin disampaikan terasa dipaksakan, dijejalkan agar bisa masuk ke buku setebal 416 halaman ini. Namun, sebenarnya semua berniat mulia. Mengajarkan kita untuk tidak meremehkan mimpi, setinggi apa pun. Mengajarkan kita untuk berani bermimpi, karena sungguh Tuhan Maha Mendengar.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ketoke seru nih
    ______________________________________________
    Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: