Ketika CEO Menyaring dan Membentuk Kadernya

2 Juni 2010 pukul 16:55 | Ditulis dalam hanya di Indonesia, Jatis | 3 Komentar

Judul tulisan ini, sama dengan judul sebuah artikel d majalah SWA Online pada 21 Februari 2008. Sengaja saya meniru judulnya, untuk bercerita tentang hal yang sama, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Tentu saja, sudut pandang saya.

Coba bayangkan seandainya, tiba-tiba saja seorang pendekar bela diri terkenal, mungkin kita bisa pakai contoh Ip Man, yang sebelumnya tidak pernah punya murid, mendatangi Anda dan mau memberikan les privat kepada Anda. Si pendekar yang jelas-jelas sudah malang melintang di dunia persilatan ini akan mengajarkan semua ilmunya kepada Anda yang notabenenya adalah seorang yang tidak punya keahlian di dunia beladiri. Si Ip Man ini nantinya akan mengajarkan segalanya kepada Anda, agar Anda siap menggantikan posisinya di dunia persilatan. Sejarah membuktikan bahwa akhirnya murid Ip Man yang berhasil jadi legenda adalah Bruce Lee. Dan Anda lah calon Bruce Lee itu. Bedanya, kalo Bruce memang minta di latih, kalo yg ini, sang master yang mendatangi Anda.

Nah, gitu juga yang terjadi di sini di Jatis Development Program. Sang CEO Jatis Solutions, Jusuf Sjarifuddin, turun langsung untuk memberi materi kepada anak didiknya. Tentu saja di sela-sela aktivitasnya sebagai seorang CEO. Pak JS(begitu beliau minta dipanggil), tidak hanya mengajarkan ilmu yang dimilikinya, tapi juga mengawasi setiap perkembangan murid-muridnya ini. Pada waktunya nanti, salah satu muridnya di harapkan mampu menggantikan posisinya untuk bisa menjadi memimpin Jatis ke sebuah pencapaian yang lebih besar daripada sekarang ini.

Materi yang di persiapkan pun ga cuma masalah kuda-kuda, pukulan tapak naga, dan tendangan tanpa bayangan. Tapi juga olah nafas, dan tenaga dalam. Eh, sampai di mana saya tadi?? Maksud saya, ilmu yang diajarkan tidak cuma masalah teknis tentang bagaimana caranya berkelahi menjadi seorang programmer handal. Bahkan jauh dari itu, sang murid dibekali tidak hanya tentang pengetahuan tentang bisnis yang ada, tetapi juga bagaimana caranya ngomong, presentasi, sampai menjual. Selain itu, skill-skill wajib seperti menendang, banting, dan hajar manajemen dan kepemimpinan juga harus dimiliki. Namanya juga calon pemimpin.

Sang CEO sadar betul, murid-murid didikannya bisa saja (dan malahan kemungkinan besar) bakal di bajak oleh perusahaan lain karena setelah menjalani pelatihan dan nantinya punya pengalaman kerja yang memadai, sang murid bakal punya kemampuan lengkap. Tidak hanya dalam masalah teknis teknologi, tetapi juga dalam mengerti proses bisnis dan punya mental kepemimpinan serta manajerial yang kuat. Tapi, tetap saja itu tidak menyurutkan tekad sang master dalam menularkan ilmunya. Toh, bagaimana pun juga tidak mungkin semua muridnya bisa menjadi CEO di perusahaan itu. Satu perusahaan hanya akan dipimpin oleh satu CEO dalam satu waktu. Setidaknya, bibit telah ditanam dan pada saatnya nanti, hasil tetap akan di panen.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kalo aku ingetnya malah sama cerita Dan Detective School di mana Mourihiko Dan membuat kelas Q untuk mendidik penerusnya😀

  2. baru gabung seminggu dan merasa sangat banyak ketinggalan. hah

  3. well … ayo semangat as a jatisian🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: