Ironi Tentara Bayaran

29 Juni 2010 pukul 03:46 | Ditulis dalam hanya di Indonesia | 3 Komentar

Hari Minggu kemarin, saya sempatkan nonton final Djarum Indonesia Open 2010 di Istora Senayan. Sebenarnya sih rencanannya bareng sama temen2 kantor, tapi gara-gara masih pada kecapekan setelah mengukur luas Pekan Raya Jakarta hari Sabtunya, di tambah dengan deadline tugas yang mulai tampak, akhirnya saya cuma berangkat dengan seorang gadis tembem bernama Yola.

Di final INDONESIA Open itu, Indonesia yang cuma diwakili oleh 2 orang, Hendra Setiawan yang kali ini bermain di ganda campuran bareng gadis (OKeh, saya ga yakin masih gadis ato bukan) Rusia bernama Anastasia Russikh dan sang idola publik tanah Air di tunggal putra, Taufik Hidayat.

Hasilnya?? Dua-duanya juara..kedua. Kalo di ganda campuran, sebenarnya bisa dimaklumi, karena seberapapun hebatnya Hendra, pasangannya kayaknya cupu banget. Mungkin memang masih pemain muda yang baru belajar dan bisa saja hanya pemain itu yang bisa ditemukan untuk dipasangkan dengan Hendra Setiawan. Melawan pasangan dari Polandia, pasangan ganda campuran (kelamin dan negaranya) ini kalah 2 set langsung. Dan begitu menang, sang pria asal Polandia kayaknya seneng banget coz sepanjang pertandingan dia mendapatkan tekanan dan teror dari penonton.

Nah, yang pengen saya bahas adalah pertandingan terakhir di tunggal putra. Sebenarnya sebelum dateng ke stadion saya juga sudah yakin si TH bakal kalah dari Lee Chong Wei dari Malaysia. Soalnya, dari track recordnya saja sudah kelihatan kalo d beberapa pertandingan terakhir, TH ga pernah menang dari Lee Chong Wei. Dan sebelum-sebelumnya, TH selalu saja gagal menang saat d hadapkan pada tantangan.

Penonton pun bersorak sorai saat TH diperkenalkan masuk lapangan. Pokoknya semua orang berteriak memberikan semangat dan meminta dia menyelamatkan muka Indonesia di turnamen kali ini. Stadion pun bergetar dan bergemuruh oleh semangat dari penonton. mbata rubuh lah, kalo sanepo-nya dalam bahasa Jawa.

Di set pertama, penonton mati-matian berusaha memberikan semangat untuk TH. Segala macem yel-yel di coba, mulai dari yang stadard seperti Endonesia, dung dung, dung dung, dung..!!, Taufiiiikkkkk…taufik!!, yang ngambil dari suporter bola seperti Ayo..ayo..maju terus Taufik, sampe teriakan eya..eya.. setiap kali TH memukul bola. (kalo yang terakhir ini malah bikin suasana jadi kayak pas nonton Empat Mata). Kompak deh, penonton di Senayan malem itu.

Teriakan penonton terlihat ada pengaruhnya sampe skor 19-19. Setelah itu, segala teriakan penonton seperti tidak ada artinya sampe akhirnya TH menyerah 19-21.

Dan pada babak kedua segalanya berubah. Tiba-tiba pukulan backhand TH yang sempat ditakuti para pemain dunia lain banyak yang nyangkut di net. Dan dari situlah ak udah mulai duduk dan berhenti berteriak-teriak.

Anehnya, saat break pada skor 11-4 untuk Lee Chong Wei, si TH malah senyum-senyum pas ngobrol ma pelatihnya. Seolah-olah ngomong ma pelatihnya, “Kepriben maning, son. Inyonge uwis ora mungkin menang.” Dan akhirnya, dunia melihat Indonesia sebagai tuan rumah Indonesia Open 2010, yang bahkan tidak diikuti pemain top dari China, sama sekali tidak meraih gelar juara.

Yang saya herankan, permainan TH di set kedua lagi-lagi tidak menunjukkan semangat untuk menang. Sama sekali tidak terlihat adanya hasrat untuk membela nama negaranya, yang ada hanya permainan seadanya untuk segera menyelesaikan pertandingan. Mungkin faktor usia memang berpengaruh, tapi tidakkah semangat menggelora dari penonton menjadi second wind untuk terus berjuang sampe nafas benar-benar tidak lagi mendukung perjuangan??

Si TaHi sekarang memang statusnya adalah pemain profesional. Artinya, hidupnya benar-benar bergantung dari bermain bulu tangkis, dari prize money dan sponsor. Tidak lagi bertanggung jawab kepada negara yang membesarkannya. Ga ada alasan bagi TH untuk berjuang demi harga diri dan kehormatan. Dia mungkin cukup puas bisa mendapatkan prize money untuk juara kedua yang jumlahnya sudah cukup untuk membeli sebuah mobil sederhana.

Rasanya jadi seperti tentara bayaran. Bukan seorang tentara yang berjuang membela negaranya, tetapi tentara yang menyelesaikan misi untuk mendapat bayaran.

Hmmm, setidaknya saya terhibur menonton Sania Nehwal di pertandingan pertama.

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. they, the badminton players, used to be my childhood hero😀

  2. wuih..

    aku yo pengen jane tapi kok larang..hehe

  3. Dim :: Used to be. Berarti sekarang ga lagi ya?? :p

    Monox :: Sekali-sekali Mon….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: