500 Days of Summer

9 Agustus 2010 pukul 10:22 | Ditulis dalam Nggombal..!!! | 10 Komentar

[SPOILER ALERT]

Hoho..

Kemaren baru aj nonton 500 Days of Summer. Pasti bakal banyak yang bilang, hah?? hari gini?? baru nonton?? Iya, aku tahu dengan jelas kalo film ini udah ada dari tahun 2009, tapi aku justru bersyukur aku baru nonton film ini kemaren. Kalo saja ak nontonnya sekitar 1tahun yg lalu, pasti yang ada cuma aku bakal kenal angina pektoris karena strong emotions.

Pasalnya, ak bisa bilang kalo semua adegan di 500 Days of Summer itu 90 sampai 95 % sama persis dengan ceritaku dulu bersama, kalo d blog ini ak menyebutnya,  keberuntungan. :p

Jadi ceritanya, si Tom Hansen ini deket dengan seorang cewek, Summer Finn, yang sejak awal, bilang dengan jelas bahwa dia tidak mau menjadi anyone’s anything. Tidak mau terikat dengan siapa-siapa. Tapi entah kenapa mereka bisa deket dan nyaman satu sama lain. Dan seperti biasa akhirnya, the boy fall in love. But, the girl doesn’t. Namun, dengan sok kuat si cowok bilang, ga ap2 dengan hubungan tanpa status ini, asal km bahagia ak bahagia, kita jalani saja hubungan ini dengan apa adanya.

Dalam film itu, ada adegan dimana di suatu malam, setelah terjadi sesuatu, tiba-tiba Summer diam, dan menyuruh Tom pulang. Tp Tom nggak mau pulang sebelum Summer menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan. Hmm, adegan yang serupa terjadi beberapa kali di sebuah kos d daerah Karang Malang. Dan hampir selalu, berakhir dengan pulangnya Tom dengan menahan rasa emosi. Persis seperti yang terjadi d film itu.

Yang terjadi berikutnya, Summer yang datang ke apartemen Tom, meminta maaf atas yang terjadi. Dan Tom yang bodoh, sudah berubah pikiran atas emosinya dan membiarkan saja Summer bertingkah semaunya. Hmm, adegan yang satu ini mengingatkanku pada penyebab kenapa aku sering d marahin bapak kosku waktu itu. :p

Suatu saat, Summer bercerita tentang dirinya, dan kemudian Summer mengucapkan 6 kata sederhana, yang mengubah segalanya. “I’ve never told anybody that before.” Bagi Tom, kata-kata itu membuat dirinya spesial. Bahwa dirinya adalah yang pertama, bahwa dirinya adalah satu-satunya. Bahwa mereka, lebih dari sekedar teman.

Sayangnya Summer tidak pernah merasakan hal yang sama. Baginya, semua yang telah dilakukannya dengan Tom adalah hal yang biasa saja. Ciuman mereka d ruang fotokopi d kantor, jalan-jalan bergandengan tangan di IKEA, sampai sex mereka d kamar mandi, bagi Summer, bukanlah hal yang spesial. Bagi Summer, Tom tidaklah pernah spesial.

Sampai mereka, lebih tepatnya, Summer memutuskan agar mereka berpisah. Dan Tom, meskipun terus berusaha melupakan, tetap belum bisa menerima perpisahan itu. Tom berusaha tetap berhubungan dengan Summer. Merencanakan sebuah pertemuan yang terlihat sebagai kebetulan. Dan sesuai rencananya, mereka kemudian bisa menikmati waktu lagi. Bahkan Summer sampai mengundang Tom datang ke acaranya, pesta Summer. Tom, berharap acara tersebut adalah awal di mana mereka bisa bersama kembali. Sampai di pesta tersebut, Tom melihat cincin melingkar d jari Summer.

Tom were totally screwed. Hari-harinya kemudian, kelam. Memantul-mantulkan bola tenis hanya untuk menyalurkan emosi dan menenangkan hatinya. Cerita kepada semua teman-temannya tentang Summer. Keluar dari pekerjaannya. Perlu waktu yang cukup lama bagi Tom untuk menemukan kembali apinya. Motivasi hidupnya. Sampai di bisa kembali berusaha untuk berkarya. Mengejar kembali asanya sebagai seorang arsitek. Itu aja Tom masih menjadikan Summer sebagai alasannya. Mencoba membuktikan bahwa dia baik2 saja dan bisa lebih baik tanpa Summer.

Suatu waktu, mereka bertemu kembali di suatu tempat kenangan mereka. Dan akhirnya, Summer ngomong kalo dia memang ga pernah yakin dengan Tom. Namun, segalanya menjadi berbeda ketika Summer akhirnya malah bisa mempercayai arti cinta, sementara Tom, malah berubah menjadi pragmatis dan skepti tentang cinta sejati.

Hmm, percaya ato ga, semua adegan 500 Days of Summer yang aku tulis, benar-benar terjadi dalam kisahku waktu itu. Ya kalo lah tidak, mirip-mirip sedikit lah. Makanya ak berani nulis 90-95% untuk tingkat persamaan antara ceritaku dan cerita film ini. Kalo lah ada perbedaan, mungkin pada jangka waktunya yang tidak sampai selama itu, mungkin cuma sepertiganya. Tapi yang lebih parah, Summer-ku mempertemukanku dengan, waktu itu, calon suaminya. Membuat kami berada pada sebuah konflik terbuka. Seperti sebuah kompetisi untuk menjadi alpha male d daerah itu. Sampe sekarang ak bahkan masih sebel kalo lihat cowok dengan potongan rambut cepak dengan jambang dan bingkai kacamata item tebal.

Untungnya cerita itu sudah lewat, makanya ak bisa tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sambil tersindir betapa bodohnya ak waktu itu pas nonton film ini. And I always saying that although Summer put shit on my face, I can be what I am right now because of her. Apalagi, kalo ak merasa sudah menemukan Autumn-ku.

You know, on the one hand, I want to forget her. On the other hand, I know that she’s the only person in the entire universe that will make me happy.

10 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. eh, autumn? saya mungkin malah menunggu spring. winter seharusnya sudah selesai beberapa hari kemarin😦

    • Eh Mas Joe, btw si lelaki yang satu ini kok bisa se-mellow ini ya cuma dikenalin sama calon suami dari mantan calon istrinya – jadi teringat dulu siapa yang pacarnya tiga👿

      • Widz ::: Masalahnya statusnya dia waktu itu bukan “mantan” calon istri saya. Dan cowok itu juga belum “calon suaminya”…

        Btw, saya ga pernah punya pacar tiga…

        Mas Joe ::: Oh iyo mas, Summer yg ini tu yg ketemu dgn dirimu di Toga Mas waktu itu. Cakep kan?? :p

  2. Habis Summer kan Autumn. Lagian, skrg kan mang lagi Autumn. Ntar awal November malah Winter yg dateng…

    *nama Autumn kan dari adegan terakhir film itu, mas.. :p

    • jujur saja, chiell…
      saya dan beberapa tukang nongkrong di manut yang notabene tukang donlot film via idws memutuskan tidak mau nonton film ini, gara2 – konon – cerita di film ini banyak dialami sendiri oleh saya dan tukang nongkrong itu. takut pada mbrebes mili memikirkan nasib sendiri😛

  3. Heee, apa saya bilang…😀

  4. wah…

    hebat…mpe sekarang masih inget…
    terpatri dgn jelas ya…???
    :p
    salam ya….

  5. lagu-lagu yang jadi soundtrack-nya yang bikin jatuh cinta.
    ceritanya juga bagus sih…

    eh,
    permisi,
    numpang nyampah.

  6. Seagate :::
    Sip Git… :p

    Widyandani Sasikirana :::
    Kalo baca tu ati2. Di lihat keseluruhan, bukan sepotong2…

    Hutaki :::
    Temennya mBak Ganis ya??
    Nyampah aj yang banyak. Kan sini mang tempat sampah pikiran…

    Mas Joe (lagi) :::
    Yes. Aku lebih tidak patetik daripada kalian. :p
    Aku udah bisa nonton film ini dgn ketawa2 getir.

    • eh, kok yo ngerti karo ganis?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: