November

3 November 2010 pukul 10:44 | Ditulis dalam fiksi, Nggombal..!!!, Sharing, Yeah. I'm Geek. So?? | 6 Komentar

“Aku benci November.”, ucapmu tiba-tiba.

Seperti yang sudah-sudah, saat kamu marah atau sedih, kamu tidak pernah menjelaskan alasannya saat aku tanya kenapa. Kamu cuma ingin aku tahu kamu sedih dan marah. Cukup itu saja katamu. Tapi ini ketiga kalinya kamu mengatakan kamu benci pada November. November tahun ini baru berjalan tiga hari. Artinya setiap hari saat pulang kantor, aku mendengar kebencianmu pada November.

“Aku benci melihat senyumnya.”

Setidaknya hari ini kamu menambahkan kalimat lain. Sepertinya kamu benar-benar membenci November. Bagiku, senyum adalah hal terindah yang bisa kamu berikan kepada orang lain. Saat kamu membenci hal seindah itu, kamu harus punya sebuah alasan yang kuat.

Tapi kamu terdiam lagi. Lagi-lagi kamu tidak menjelaskan kebencianmu. Kamu membiarkanku menebak-nebak dengan pikiran terliarku kenapa kamu begitu membenci November. Kamu akan memaksaku melakukannya. Kalau aku tidak mampu menebak, kamu akan marah padaku juga. Dan aku benar-benar tidak ingin kamu marah padaku.

Yang aku tahu, November dingin dan hujan. Tapi kamu suka itu. Kamu suka pada rintik kecil gerimis yang menyapamu saat kamu berjalan pulang. Kamu suka menyipak air genangan hujan itu. Kadang-kadang aku melihatmu bercanda dengan angin penghujan. Meski kamu mengatakan kamu takut pada guntur dan halilintar, aku tahu sebenarnya kamu mengagumi mereka. Bukan. Kamu bukan membenci dingin dan hujan November.

Mungkin kamu benci November karena apa yang dilakukan November tahun lalu padamu. November tahun lalu membiarkanmu sendirian, dan sepanjang aku kenal dengan kamu, kamu benci sendirian. Masihkah kamu menyimpan dendam itu, sayang?

Bukan. Pasti bukan itu. Kamu bukan sosok yang pendendam. Kamu memang emosional, tapi kamu bukan pendendam. November tahun lalu memang membuatmu terpisah dari semua yang kamu miliki. Tapi kamu tidak benar-benar sendirian waktu itu. Kamu masih punya mereka semua yang peduli padamu. Hanya jarak yang membuatmu merasa sendirian.

Pasti ada alasan lain yang sedemikian kuat kenapa kamu membenci November. Bahkan lebih kuat daripada fakta bahwa November lah yang mempertemukan kita. Aku menemukanmu akhir November tahun lalu di ujung hujan. Kamu menangis. Dan itulah pertama kalinya kamu bercerita tentang sesuatu kepadaku.

“Aku ingin November berakhir besok.”

Kalau kamu marah atau sedih, pasti kamu selalu minta hal yang tidak masuk akal padaku. Suatu kali kamu pernah memintaku membuatmu bisa terbang agar kamu bisa pergi ke puncak gunung. Kamu ingin menaruh kesedihanmu di puncak itu. Tertinggal dan tak pernah bisa kembali lagi.

Sekarang, kamu memintaku membuat November segera berakhir. Dan kalau bisa, menghapus semua November-November berikutnya. Aku tidak bisa. Setengah bercanda aku mengatakan tidak tega pada orang-orang yang berulang tahun pada November. Mereka tidak bisa bertambah tua lagi. Itu juga kan yang kamu inginkan? Kamu ingin segera bertambah tua dan dewasa.

Kamu termenung. Itulah yang membuatku menyukaimu. Kamu selalu tidak mau merugikan orang lain dengan keinginan-keinginanmu. Kamu memang keras kepala, tapi kamu sama sekali tidak egois. Aku yakin kamu tidak lagi ingin menghapus November. Demi orang-orang yang menganggap November spesial. Aku sedikit berharap bahwa kamu juga ingat kalau aku juga berulang tahun pada November.

Aku duduk di sampingmu. Kalau kamu marah atau sedih, yang kamu butuhkan bukanlah saran atau solusi. Kamu tidak butuh November berakhir besok. Yang kamu butuhkan hanya seseorang yang peduli dan mengerti kamu. Kamu cuma butuh aku ada di sampingmu untuk membantumu melewati November-November berikutnya.

Kamu tersenyum.

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Chiell, kamu beneran coba deh ikut lagi tes kepribadian itu. Persenan melankolismu meningkat berapa sih? :p

    Eh, ni tulisan tentang Sigit ya?😀

  2. ini bukan nyindir ya chiell? ;))

  3. Cius :: Justru tulisan ini sangat sanguini…

    Well :: Nyindir siapa sih??
    Cie, udah ga nampilin URL lagi skrg….

    • Er.. Gaya bertuturnya mas..

      Berarti bener ni tentang Sigit? :))

      *begini baru namanya membalas komentar. :p

      • Hasil karya orang tidak mengacu pada dirinya. Van Gogh mukanya juga ga abstrak2 amat….

        Bagian mana sih dr tulisan ini yang mengacu ke satu orang yang nyata??

        *masalahnya kalo balasnya gini, susah kalo mo baca secara sekuensial

      • Nyante aja Dim, aku masih lelaki normal kok… Gak perlu jeles, aku nggak bakal merebut Chiell dari kamu… Jelesnya sama tetangga sebelah yang satunya ajah.. wkwkwkwkwk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: