Please, Don’t Stop the Rain

17 November 2010 pukul 03:41 | Ditulis dalam fiksi, Nggombal..!!!, Sharing | 5 Komentar

Mendung sudah menggantung dari tadi siang. Membuat sore ini nampak seperti senja. Beberapa orang tampak tergesa, berharap cepat sampai di rumah untuk memandang hujan dari balik jendela. Aku justru sebaliknya. Ingin hujan segera turun menemani perjalanan pulangku sore ini. Layaknya bocah, aku berharap air yang turun membawa serta sedikit kebahagian dan meluruhkan beban sedihku.

Rasanya masih tak percaya, aku masih penuh bahagia dan senyum kemarin. Bahkan tadi pagi. Saat aku membuka mata pagi ini, aku tersenyum pada kikis sinar mentari pertama yang datang. Sebentuk kebahagiaan yang aneh langsung menyergap ketika kesadaranku mengingatkan aku akan bertemu kamu hari ini. Akhirnya. Kamu benar-benar membuatku menahan rindu setelah dua minggu ini kamu melarangku menemuimu.

Kita terakhir ketemu dua minggu yang lalu. Kita berjalan-jalan berdua dalam romantisme kota tua Jakarta. Itu adalah pertama kalinya kita jalan berdua, tapi hari itu, kita seperti dua orang yang sudah saling mengenal bertahun-tahun sebelumnya. Kita bicara tentang banyak hal. Tentang masa lalu, sekarang dan nanti. Kamu benar-benar membuatku terkesan dengan cerita-ceritamu waktu itu. Yang paling aku ingat adalah cerita haru biru tentang Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk. Hal yang seharusnya menjadi pernikahan indah mereka, berubah menjadi perang yang akhirnya membekas pada dendam kerajaan Sunda Padjadjaran kepada kerajaan Jawa Majapahit dan Maha Patih Gadjah Madanya. Aku sebelumnya sama sekali tidak tahu ada kisah seromantis Shakspeare seperti itu dalam sejarah Indonesia.

Hari itu, walaupun kota tua ramai dengan lalu lalang remaja belasan, kita sama sekali tidak peduli. Kita terus berjalan sambil bicara dan mengabaikan mereka. Seolah hanya ada kita berdua saja di kota tua hari itu.

** * **

Dalam perjalanan menemuimu hari ini, aku berharap kita bisa mengulang hari itu kembali. Setelah pertemuan kemarin, dua minggu terasa sangat lama bagiku untuk menemuimu lagi. Banyak cerita yang ingin aku sampaikan lagi kepadamu. Aku juga ingin mendengar cerita-cerita lucumu lagi. Melihat tingkah kekanak-kanakanmu. Bersamamu, aku bisa meringankan beban pekerjaan yang menghimpitku sepanjang minggu ini. Selain itu, kamu juga bilang bahwa kamu punya kejutan untukku hari ini.

Aku melambatkan langkah kakiku, berharap masih bisa menemui hujan sebelum aku sampai di rumah. Aku ingin menumpahkan semua sendu ini bersama hujan. Biar saja air membawanya mengalir, terjebak bersama banjir Jakarta dan biarkan terbuang bercampur dengan limbah di teluk Jakarta. Andai saja bisa, aku ingin kamu juga melihatnya, agar kamu tahu betapa sedihnya aku saat ini. Agar kamu tahu, aku benar-benar tidak ingin hubungan kita berakhir hanya sampai di sini saja dengan cara seperti ini.

Masih terbayang dengan jelas raut mukamu tadi. Senyum yang sebelumnya tercetak jelas di wajahmu tiba-tiba hilang. Kamu memandangku serius. Matamu menatapku tajam dan tanpa suara, sangat jelas kalau kamu bertanya kebenaran ceritaku.
Aku juga jadi tercekat. Tak tahu harus berkata apa. Karena dalam bayanganku sebelumnya, kamu akan tertawa, kamu akan ikut bahagia. Memberiku ucapan selamat karena akhirnya aku bisa jadian dengan dia. Orang yang aku tunggu cintanya beberapa tahun ini.

Salahkah aku? Dia yang aku sayangi, yang membuatku menunggu dua tahun, tiba-tiba datang kemarin. Setelah lama tidak ada kabar dan setelah aku berniat untuk melupakan dia, dia tiba-tiba muncul dan menyatakan cintanya. Mengungkapkan kata manis yang menjadi jawaban atas penantianku selama ini. Aku mengangguk, menerima kebahagiaan yang menurutku adalah hakku karena sudah menunggu.

Kamu bahkan tidak mengucapkan pamit saat pergi. Tidak juga satu kata pun sebelumnya. Kamu berbalik kasar, setengah berlari meninggalkan aku. Mungkin itu terakhir kalinya aku melihatmu.

Rintik hujan akhirnya turun juga. Makin lama makin deras. Aku mohon jangan hentikan hujannya.

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. apa ini? jebakan betmen lagi ya? hihihi.
    apa sih dua minggu lalu?
    siapa sih 2 tahuN?

  2. Ini cerpen Well..cerpen…
    Ga ad hubungannya sama aku dan diriku….

  3. Wah,ta’ kirain cerita tentangmu…ternyata cuman cerpen (untung bukan cerita stensil). :-p
    Btw,keren gaya bahasanya!!! kapan aku bisa kaya gini…

  4. Tips nya cuma satu Yaz, banyak2 bergaul ma cowok-cowok Melankolis macam Cius dan Welldan…😀

    • Ouwww…tapi butuh pengorbanan yang menyakitkan ya,sampai2 harus digauli oleh mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: