Ketika Panggilan tak Kunjung Datang

24 Januari 2011 pukul 03:10 | Ditulis dalam Daily Prophet, Ilmu Komputer UGM | Tinggalkan komentar

Sabtu pagi kemaren itu, paket yang aku tunggu akhirnya tiba.

Jadi, awal bulan ini, seorang cewek via email tanya no rekening dan alamat suratku. Katanya dia mo ngirimi aku sesuatu. Aku tunggu beberapa hari, sempat terpikir hanyalah janji palsu yang dia katakan. Sampai akhirnya Sabtu pagi kemaren, aku lihat ada paket di meja ruang tamu kosku. Tanpa harus melihat alamat tujuan, dari bentuknya, aku udah tahu kalo itu paket buat aku.

Sebuah tabloid. PC Plus. Biasa aja kecuali bahwa aku dapatkan dengan gratis. Lebih spesial lagi karena salah satu halaman di tabloid itu hampir dipenuhi dengan artikel yang aku kirim sekitar sebulan yang lalu. Yap, akhirnya aku berhasil menempatkan satu lagi artikel di PC Plus.

Jadi inget tentang sebuah tulisan yang aku baca beberapa hari yang lalu di Kompas :

Dalam salah satu penerbitan majalah Kisah yang dieditori HB Jassin, tahun 1950-an, terceritalah ada seorang editor kenamaan yang pekerjaannya menyeleksi karangan untuk majalahnya. Pada suatu siang, editor ini makan di kantin, dan kebetulan di sana ada temannya. Maka perbualan pun dimulai.

”Apa kegiatanmu hari ini?” tanya temannya. Dengan gaya sembarangan editor ini menjawab, ”Biasalah, menolak karangan.”

Lalu, dalam kolom kisah nyata itu, diceritakan pula bahwa sang editor setiap hari dengan malas membaca-baca semua naskah yang masuk. Dia sangat gembira manakala bisa melemparkan karangan-karangan itu ke tempat sampah. Sebab, itulah kerja dia, sebagaimana yang ia ungkapkan sendiri bahwa pekerjaannya hanyalah ”menolak karangan”.

Tapi, inilah keajaiban sang editor. Tampaknya ia memilih penulis-penulis yang tabah dan tidak pernah menyerah. Begitu banyak penulis yang karangannya ditolak jadi putus asa, dan karena itu tidak mau lagi mengirim karangannya ke majalah ia editori.

Namun, ada juga penulis bermuka badak. Sekali karangannya ditolah dia akan mengirim karangan baru. Terus-menerus! Sampai akhirnya sang editor yang juga adalah seorang kritikus sastra itu jemu. Setelah editor ini jemu, maka setiap kali penulis bermuka badak ini mengirim karangannya pasti dimuat. Bahkan, karangan-karangan yang dulu pernak ditolak pun, kalau dikirim kembali, otomatis akan dimuat

Lalu, aku juga inget juga tentang buku Negeri 5 Menara yang pernah aku baca itu. Di dalam buku itu, untuk bisa sukses yang kita butuhkan hanyalah sedikit usaha yang lebih dari orang lain. Kalo dalam pertandingan lari, kita cuma perlu sedetik lebih cepat daripada lawan kita untuk menang. Kalo di sepakbola, kita cuma butuh 1 gol lebih banyak daripada lawan untuk memenangkan pertandingan.

Gitu juga dengan Thomas Alfa Edison yang katanya perlu 2000 percobaan gagal untuk menciptakan bola lampu. Gimana kalo dia nyerah di percobaan ke 1999?? Namanya tak akan pernah kita kenang sebagai penemu bola lampu.

Jadi, punya artikel yang nampang di PC bukan sesuatu yang besar dan patut dibanggakan. Tapi semuanya memang selalu dimulai dari hal yang kecil. Mendaki puncak gunung juga selalu dimulai dengan satu langkah pertama yang mudah. Pesawat terbang juga tidak akan ditemukan kalo roda dan baling-baling tidak ditemukan lebih dahulu. Jadi, memang ini adalah suatu pencapaian yang kecil, tapi akan jadi motivasi buat pencapaian yang lebih besar lagi. Semoga.

Tapi sebelum itu, aku boleh menikmati dulu honor hasil nulisnya kan??😀

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: