Universitas Gedhe Mbayare

2 Juli 2011 pukul 17:22 | Ditulis dalam hanya di Indonesia, Ilmu Komputer UGM | 1 Komentar

Benny, seorang Bapak yang anaknya baru saja keterima di universitas mantanku lewat jalur SNMPTN kemaren mengadu ke kompas.com. Menurutnya, dia ditipu mentah-mentah oleh UGM dan kroni-kroninya. Untuk bisa benar-benar meluluskan anaknya menjadi mahasiswa Ekonomi di UGM, bapaknya itu di haruskan membayar mahar 40 juta Rupiah hanya untuk uang pangkal yang diberi nama Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik. Setelah anaknya berjuang dengan peluh melalui ujian dengan saingan berat dan saringan ketat, Bapak itu merasa tidak rela dirinya masih diperas uang banyak untuk mengabulkan cita-cita anaknya menempuh pendidikan di universitas ternama.

Bapak Benny ini termasuk hebat loh. Anaknya belum masuk UGM saja sudah bisa tahu kalo tertipu. Banyak orang yang bahkan sampe menjadi lulus dari UGM ga nyadar juga kalo ditipu. Kampus yang masih menyandang julukan kampus kerakyatan ini sering kali mengeluarkan kebijakan yang tidak merakyat. Salah satunya, diskriminasi. Kampus UGM ini membeda-bedakan mahasiswa berdasarkan penghasilan orang tuanya. Mereka yang orang tuanya mempunyai penghasilan lebih besar, di tuntut untuk memberikan sumbangan yang lebih gedhe. Sementara mereka yang penghasilannya termasuk UMAS (untuk makan aja susah), malah bisa dibebaskan dari kewajiban berbayar. Sungguh diskriminatif.

Menurut Bapak Benny, seperti masih dari artikel yang sama, “Tetapi tidak ada penjelasan bahwa penghasilan ini menjadi tolok ukur besar sumbangan. Dan kami, orangtua juga tidak tahu kalau jalur SNMPTN juga ada tarikan sumbangan sebesar ini. Begitu lulus (SNMPTN), kok harus bayar gede banget. Setahu saya, SNMPTN standar semua sama.”

Dari pihak UGM sih membantah pernyataan ini. Menurut Direktur Administrasi Akademik UGM Dr Budi Prasetyo Widyobroto, dari artikel lain di kompas.com, ” Sudah diinformasikan. Semua orang yang mau mendaftar ke UGM seharusnya tahu karena sebelum mendaftar SNMPTN, kami menyatakan untuk mengetahui hak dan kewajiban mahasiswa, silakan akses ke laman (situs) masing-masing perguruan tinggi. Ini sama untuk semua perguruan tinggi,”

Nah ini juga, pihak UGM menganggap semua orang tua calon mahasiswanya tu pinter, melek internet. Semua disamaratakan sehingga menganggap kalau informasi cukup di pasang di website. Apalagi calon mahasiswanya juga dituntut untuk pro aktif membuka sendiri website UM UGM. Memang sih, pendaftaran SNMPTN lewat internet, tapi kan informasi tentang bayar membayar ini tidak berada dalam satu wadah di website yang sama. Lagian, orang Indonesia akan cenderung menjawab “ya” pada kalimat “Saya telah membaca dan mengerti dengan semua ketentuan yang berlaku. Lanjutkan?”. Jujur aja deh. Emangnya kita pernah baca term and agreement. Paling langsung centang “I have read terms and agreements”, trus klik “Next”. Ya kan?? Ya kan?? Kan?? Kan??

Harusnya sih pihak UGM udah memperhitungkan hal ini. Lalu pak Benny ini berkicau lagi, “Kami bingung, SNMPTN, kok, begini, sih? Yang selama ini kita tahu, yang namanya SNMPTN semahal-mahalnya 5 juta, kemudian bayar uang pendaftaran, SKS. Itu makanya semua orang ngejar dan berjuang ke SNMPTN. Kalau melalui jalur ujian masuk mandiri, mahal kita maklum. Tetapi, ini SNMPTN.”.

Iya dong. Masak uang gedung aja di UGM sampe 40 juta untuk program PBS. Kalo lewat SNMPTN, yang paling mahal (dengan gaji Bapak+Ibu antara 5 sampe 7,5 juta per bulan), uang mahar yang dibutuhkan “cuma” 20 juta. Untuk fakultas yang sama di Universitas Indonesia saja uang pangkalnya cuma 10 juta Rupiah. Di UGM sampe 4 kali lipat. 4 kali lipat, sodara-sodara. Tidak heran kalo sehari selanjutnya kompas.com menulis besar-besar, masuk dalam headlinesnya, “UI Bebas Sumbangan“. Gila ga tuh?? UI, men!! UI!! Di artikel tersebut humas UI menegaskan, calon mahasiswa UI tidak akan dipungut sumbangan apapun di luar ketentuan yang ditetapkan. Dan semua ketentuan itu telah disajikan secara transparan di website UI.

Sekilas baca berita-beritanya, kompas.com memang sedikit subjektif dengan melebihkan UI dan memojokkan UGM. Wajar saja. Udah lebih murah, UI lebih transparan lagi. Emang sih kalo biaya per semester UI agak mahal. Untuk Fakultas Ekonomi, UI per semester menarik 5 juta rupiah. Misalnya lulus tepat waktu 4 tahun, total biaya per semester jadi 40 juta Rupiah. Jumlah yang sama bisa untuk kuliah di UGM selama 10 tahun, biaya SPP (500 ribu) + ngambil full SKS (24 SKS * 60 ribu = 1440rb) per semester, itu masih dapet kembalian 60ribu per semester untuk jajan seminggu di Jogja.

Ga banyak yang bisa pak Benny lakukan untuk meminta diskon kepada pihak UGM. Apalagi batas waktu pembayarannya cuma sampe 8 Juli. Kalo anak sudah berusaha untuk lulus SMA plus lulus SNMPTN, emang kewajiban orang tua untuk mencarikan biaya pendidikan berkualitas untuk anaknya. Kalo memang merasa berat untuk membayar semua biaya pendidikan itu, pak Benny bisa mengajukan diri sebagai keluarga tidak mampu untuk mendapat keringanan biaya. Nanti, per semesternya banyak juga beasiswa yang bisa dipakai untuk bayar uang semester.

Memang tidak bisa di pungkiri kalo pendidikan yang berkualitas itu butuh biaya yang besar. Tapi biaya tersebut tidak semuanya harus keluar dari kantong kita sendiri, terutama bagi yang kurang mampu. Tapi yang mampu, ya jangan pura-pura tidak mampu. Kalo sudah nyadar biaya kuliah mahal, ya dari jauh-jauh sudah disiapkan uang itu. Biar tidak kaget, terkejut, dan merasa ditipu lagi seperti kasus bapak Benny ini.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ya begitulah, Chiell.. Universitas di Jogja kapan bisa “melek”. Mencari dana itu seharusnya 80% dari keuntungan hasil riset. Universitas gak mau berusaha mengedepankan SDM yang sudah dipunyai..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: