Surat Kepada Bapak Presiden

5 Oktober 2011 pukul 12:23 | Ditulis dalam hanya di Indonesia, Sharing | 2 Komentar

Yth. Bapak Presiden
di Tempat

Dengar hormat,

Selamat siang Bapak Presiden? Saya harap Bapak baik-baik saja. Saya di sini juga Alhamdulillah dalam keadaan baik. Walaupun akhir-akhir ini saya lihat kantung mata Bapak Presiden makin lama makin membesar, tapi saya maklum kok. Musim baru Liga Champions memang sudah di mulai lagi. Apalagi sekarang, setiap Sabtu malam Minggu, televisi menayangkan sepakbola semalem suntuk. Mulai dari jam 7 malem sampe abis shubuh. Saya tidak tahu ada hubungannya ato ga, tapi yang pasti saya ga punya tipi buat nonton sepakbola begadangan.

Mungkin Bapak nggak kenal saya. Saya pun nggak kenal Bapak. Tapi saya yakin Bapak kenal sama Syahrini. Dan saya pun kenal dengan Syahrini. Kalo begitu, kita bisa di anggep kenal, pak. Tapi nanti kalo Syahrini tanya, bilang saja nama saya chiell. Bacanya “cil”, pak. Che I eL. Kalo dia bisa tahu, Subhanallah yah…

Saya mau ikut urun rembug tentang ibukota kita. Mungkin Bapak ga tahu, kalo ibukota itu macet. Apalagi kalo Jumat sore pas ujan. Beeh. Macet abis. Dan ibukota itu juga orang-orang yang hidup dengan sangat tidak layak.  Ada yang hidup di gerobak, di bawah jembatan ato jalan layang, belum yang berimpit2an di rumah kumuh. Belum lagi masalah mudik, kekerasan dan kriminalitas, semua lengkap ada di ibukota.

Saya sih bukan orang pinter, pak. Kalo saya orang pinter, pasti saya bisa melihat hantu dan jin gederuwo. Ato, saya juga bisa nyantet pemain Qatar biar timnas bisa menang pas lawan mereka. Yah, minimal saya bisa pelet Syahrini biar mau sama saya lah. Tapi dari analisa saya, ehm ehm, masalah ibukota itu bersumber sama satu hal, terlalu banyak orang di ibukota.

Mereka yang merantau mencari duit di ibukota ga bisa disalahkan, pak. Soalnya duit emang adanya di ibukota. Dari sarjana sampe yang lulusan SD, semuanya tumblek di ibukota mengais rezeki. Karena emang selalu ada rezeki yang tersisa(dan sayangnya terkadang sedikit pake banget) untuk mereka. Akhirnya ibukota jadi melebihi kapasitas yang seharusnya. Timbul deh banyak masalah seperti yang saya bilang tadi.

Solusinya menurut saya, yang pertama, pindahkan Syahrini dari ibukota. Ini jelas ga akan menyelesaikan masalah utamanya. Tapi setidaknya bakal banyak cowok-cowok yang mengikuti Syahrini pindah dari ibukota. Terutama penata gaya dan konsultan imagenya.

Yang kedua, karena orang-orang dateng ke sini karena perusahaan gedhe dan duitnya ada di sini, pindahkan juga perusahaan gedhe beserta duit mereka ke daerah. Terutama perusahaan-perusahaan yang sebenernya tidak perlu ada di ibukota. Kalo pun mereka mau buka cabang di ibukota, cukup perwakilan atau kantor penghubung saja. Contohnya, ya perusahaan tempat saya bekerja. Ngapain sih perusahaan IT harus bertempat di ibukota. Sebenernya dengan infrastruktur yang memadai, kami bahkan bisa bekerja dari rumah Syahrini kami sendiri.

Yang bisa Bapak lakukan yaitu memberi insentif buat perusahaan-perusahaan ini. Insentif bisa ada dua. Insentif positif dan insentif negatif.  Beri keringanan pajak atau infrastruktur yang tangguh untuk perusahaan yang mau memindahkan kantornya ke luar ibukota. Sementara itu, buat biaya operasional untuk perusahaan yang keukeh tinggal di ibukota menjadi besar. Misalnya, berikan saja tarif parkir berdasarkan jumlah mur dan baut untuk kendaraan yang parkir di ibukota. Atau buat harga listrik untuk perusahaan di ibukota menjadi 2000 Rupiah/KwH.  Niscaya lama-lama mereka bakal mikir-mikir untuk tetap membuka kantornya di ibukota.

Begitu Bapak Presiden. Saya sih cuma bisa nulis. Kan Bapak Presidennya. Kalo saya jadi Presidennya, dengan hak prerogatif saya, saya akan jadikan Syahrini sebagai ibu negara.

Demikian surat dari saya. Terima kasih atas perhatian dan izin dari Bapak. Mohon maaf apa bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Hormat saya,

mamen chiell
blogger saja

NB :: Btw, saya juga punya usaha bikin kaos lho. Sekarang lagi bikin kaos karikatur pemain bola. Kalo Bapak tertarik hubungi saya ya. Ada yang warnanya biru juga lho….

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. merebut pasar kowe, chiell. dodolan kaos ra perlu neng ibukota. di sleman juga bisa😛

  2. Mas Joe :: Justru saya jualan di ibukota biar ga saingan sma sodara di Sleman…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: