Bahasa Jawa Kudusan

8 Desember 2011 pukul 12:41 | Ditulis dalam hanya di Indonesia, Sharing | 4 Komentar

Dulu itu, waktu masih awal-awal tinggal di DjoKja, Wawang, temen kuliah yang asli DjoKja, mengira aku berasal dari Jawa Timur. Wawang ( W) dan aku (G/ganteng) :

W : Kowe ki asli Jawa Timur, po??

G : Ga. Aku asli Kudus.

W : Lha Kudus ki Jawa Timur??

G : Ga, Jawa Tengah.

W : (masih maksa) Kudus ki perbatasan karo Jawa Timur ??

G : Ga. Adoh.

Akhirnya aku balik tanya, kenapa. Dia bilang, dialek Jawa yang aku pake (medhok, ndeso, dan rada-rada kasar) menurutnya berasal dari Jawa Timuran. Apa lagi aku pake kata “Ogak” untuk “Tidak”, sedangkan kebanyakan orang Jawa Tengah dan Ngayogjakarto memakai kata “Ora”.

Kendala dengan bahasa bisa di bilang sempat aku alami selama semester pertama di DjoKja. Meskipun sama-sama berbahasa Jawa, dialek dan beberapa kata yang aku pake tidak di temukan dalam bahasa Jawa DjoKja. Mirip-miriplah sama yang dialami dengan temen2 yang terbiasa berbahasa Ngapak saat menginjakkan kaki di tanah yang bukan Ngapak. Masalahnya, dari semua orang Kudus yang terdampar di sekitaran MIPA UGM, hanya aku yang masih tetep keukeh beraksen ndeso bin medhok itu.

Contohnya ada di adegan berikut (aku masih tetep ganteng(G)) sama Rifqi (R):

G : Ayo neng kampus.

R : Ngopo ?

G : Yo, ngaplo-ngaplo tah lapo.

Yak, semua kata yang aku pake di baris ketiga itu tidak ditemukan di bahasa Jawa DjoKja. Padahal frase tersebut sering di pake saat aku masih di SMA. “Ngaplo-ngaplo tah lapo” berarti “Nglamun2 aja atau ngapain kek”, yang artinya yah, kongkow2 aja….

Memang bisa di bilang kalo bahasa Jawaku, apalagi sekarang, sudah tidak jelas lagi beraksen atau berdialek mana. Aku lahir dan besar di Kudus, yang punya dialek yang agak beda dengan tetangganya (nanti aku ceritakan). Tapi tiap liburan sekolah aku maen ke rumah mBah di Semarang. Hampir tiap Lebaran, aku maen ke Lamongan, Jawa Timur, tempat mBah yang lain lagi. Berhubung sejatinya aku seorang spon yang suka menyerap sembarangan, hasilnya bahasa Jawaku sudah ga gitu jelas lagi memakai dialek mana. Apalagi setelah sekitar 9 semester aku tinggal di DjoKja.

He.. Cerita di atas sebenernya cuma sekedar intro untuk apa yang aku mau jelaskan ini. Sesuai judul, ketikan ini mau membahas tentang dialek Jawa Kudusan yang, katakanlah unik. Meskipun berada di pesisir pantai Utara Jawa Tengah, dialek Jawa Kudusan tidak mirip dengan tetangga-tetangganya seperti Semarang, Jepara, atau Demak. Ketiga kota tersebut notabenenya adalah kota pelabuhan zaman dulu, tempat berkembangnya masyarakat dan budaya pada zaman itu. Namun, Kudus ternyata membangun budaya sendiri.

Contoh bahasa Kudus yang paling terkenal tentu saja adalah akhiran –em untuk menggambarkan kata ganti milik orang kedua. Bapakmu dan mbokmu, akan berubah menjadi bapakem (ba-pak-em) dan mbokem (mbok-em) di Kudus. Ususmu, ndhasmu, raimu juga berubah menjadi ususem, ndhasem, rainem. Begitu juga semua kata lainnya. Partikel –em ini jelas-jelas khas Kudus. Karena tidak banyak yang mengerti, aku langsung menggantinya dengan yang biasa (-mu) tak lama setelah sampai di DjoKja.

Kata lain yang sering di pake di Kudus (namun tidak di daerah tetangganya) adalah tah. Kata ini bisa berarti “atau”, dalam kalimat “Lungo tah ora??“, atau pengganti partikel tho dalam bahasa Jawa Semarangan dan je dalam bahasa Jawa Jogja. Contohnya dalam kalimat “Piye tho??” (Semarang) atau “Piye je??” (Jogja), di Kudus akan menjadi “Piye tah??“. Contoh penggunaan tah baik sebagai partikel maupun kata “atau” bisa di temui dalam kalimat “Ojo ngono tah!” dan “Sido tah ga?“. Nah, penggunaan tah(terutama sebagai partike) bukan monopoli orang Kudus. Daerah Jawa Timur juga memakai kata ini, makanya banyak yang mengira kalo Kudus itu deket dengan Jawa Timur.

Orang Kudus juga cenderung memakai kata “Orak”, sebagai kata “Tidak”. Sementara orang Jawa Tengah lain mungkin memakai “Ora”. (Aku sendiri lebih sering memakai “Gak”, seperti orang Jawa Timur. Mungkin karena pengaruh Lamongan tadi yang masih sering di pakai oleh Ibuku ketika di rumah).

Selama sembilan semester di DjoKja itu, aku juga menemukan banyak kata yang aku pakai, tidak ditemui dalam bahasa Jawa di DjoKja. Listnya akan aku tulis di bawah ini dan di update sewaktu-waktu aku menemukan kata yang lain lain. Silakan di cek.

Kudus Arti(Jawa) Penggunaan Kalimat
nyakang nanggung Duit e nyakang. Rak cukup nek wong loro.
lapo ngopo Lapo kowe rene ??
wantah banyu putih Ngombe opo? Wantah tah teh??
kelancor kebablasen Wah, kelancor. Mbalek-mbalek.
njarag sengojo Sorry-sorry. Rak njarak.
kirangan ga reti Simbah : Di, mBokem neng ndi?
Adi : Wah, kirangan nggih, mBah.
kaku ati  mangkel  Bocah kok marai kaku ati.
barang juga(Indonesia) Adek melu barang
ewuh pekewuh Wis, ayo sikat. Rasah nganggo ewuh-ewuhan.
cumak mung Wah, maen e cumak sedhiluk.

Tambahan : Ada satu kata umpatan yang begitu terkenal di daerah Semarangan termasuk Kudus. Penggunaan di Kudus sendiri, waktu zaman aku eS De, adalah peringkat kedua setelah kata “a*u“. Dari sisi tingkat kekasaran, kata ini berada setingkat di atas “a*u” (lebih kasar). Pas ga sengaja kata ini keluar zaman aku kuliah (namanya juga mahasiswa, kadang-kadang kalo kesel ngumpat juga toh), ga ada satu pun temen yang ngerti. (Aman, aku bilang. Soalnya di Kudus,  kata ini kasar. Lebih kasar dari “a*u” tadi.) Saya cuma bakal nulisnya sekali. Lagian sekarang kata ini juga udah terkenal. Kakeane (baca: kakek ane).

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “kuJus” ini bagian mananya galaksi Bimasakti??? kok muka-mukamu gak mirip manusia kebanyakan ya….hehehe
    Btw emang kayanya bahasa kudus lebih mirip bahasa jawa timuran…

  2. Kata “barang” dengan pengertian seperti di atas juga ditemukan lhoh di dalam dialek Semarangan.

  3. bahasa jawaku juga yo ra jelas… lahir – bapak – ibu seko kudus, cilike ngapak2 ng cilacap, njur kuliah ng jogja.. -_-”

    eh ono meneh logat kudus sik durung tok sebutke..
    dawa banget —–> dowuuu
    lara banget —-> loruuu
    *iya gag sih itu logat kudus? *kok jadi ragu sendiri

  4. age go


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: