Tikus Idul Fitri

18 Agustus 2012 pukul 18:10 | Ditulis dalam fiksi | 1 Komentar
Tag: , , ,

“Alhamdulillah.”

Ucapan syukur Ibuku membangunkanku. Sepertinya bukan karena hari ini Idul Fitri, itu udah jelas sejak kemarin juga. Sebelum otak bangun tidurku memproses apa kira-kira penyebab Ibu segirang itu sepagi ini, Ibuku sudah meneriakkan alasannya.

“Tikusnya akhirnya ketangkap.”

Oh tikus. Baru semalem aku mendengar cerita Ibuku tentang tikus ini. Tikus ini telah meneror keluargaku selama bulan Ramadhan kemarin. Berkeliaran di rumah dalam waktu-waktu antara tarawih dan sahur, tikus ini membuat seisi rumah, terutama Ibuku tidak bisa tidur nyenyak.

Seperti kebanyakan tikus lainnya, tikus ini mencuri makanan dan sisa-sisa makanan di rumah. Namun yang paling membuat kesal, tikus ini tidak melakukannya secara diam-diam. Tikus yang satu ini berisik. Mengambil makanan di satu piring, dia menyenggol dan menjatuhkan piring lain di meja tersebut. Kalau didatangi, tikus ini hanya terlihat sebagai sebuah bayangan yang bergerak cepat sebelum menghilang entah kemana.

Sepertinya si tikus melakukannya secara sengaja. Tikus ini pintar. Buktinya, jebakan tikus yang dipasang selama Ramadhan dipecundanginya. Seringnya, jebakan itu menganggur sepanjang malam. Namun yang aneh, tak jarang jebakan itu telah tertutup, umpannya telah dimakan, tapi tidak ada tikus di dalamnya.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, kata mereka. Sepandai-pandainya tikus ini, akhirnya ketangkap jebakan juga. Pastinya ada perhitungannya yang salah malam ini.

Dalam perjalananku ke kamar mandi, aku sempatkan melongok tikus kurang ajar yang malang itu. Aku sendiri tidak punya dendam, aku baru pulang dari perantauanku kemarin pagi. Semalem adalah pertama kalinya aku tidur di rumah dalam beberapa bulan terakhir.

Tikus itu sebesar anak kelinci. Jebakan berbentuk semacam kandang itu hampir penuh oleh tubuhnya. Mukanya memelas, setidaknya itu menurut pendapatku. Aku tidak tahu apakah tikus juga punya mimik muka memelas yang sama seperti manusia. Tapi memasang muka memelas itu tidak akan membantunya. Selepas sholat Ied, entah apa yang dilakukan Ibuku padanya. Tidak ada cara yang manusiawi memang untuk urusan membunuh.

Abahku menyarankan untuk menenggelamkannya. Tapi Ibuku menolak. Sayang embernya katanya. Gara-gara kali sebelah rumahku sekarang ini lebih sering kering, tikus yang tertangkap memang lebih jarang ditenggelamkan. Kalau mau ya pake ember, tapi ember itu selamanya akan jadi bau tikus.

Cara lain adalah dibakar hidup-hidup. Dalam jebakan, tikus itu akan ditaruh di atas api dari sampah yang dibakar. Tikus itu akan mencicit-cicit dalam jebakan, panik mencari jalan keluar. Percuma yang ada, dia akan terbakar sampai mati. Aku menentang cara ini. Bau daging tikus yang terbakar di pagi Idul Fitri akan membangkitkan pertanyaan tetangga. Keluarga macam apa yang menyate tikus di hari Lebaran?

Aku selalu setuju cara lain. Meminjam tangan orang untuk membunuh si tikus. Caranya, tikus itu ditaruh di tengah jalan, mobil yang lewat akan melindasnya sampe gepeng. Masalahnya, tikus sehat tidak akan diam saja menunggu dilindas mobil, dia akan kabur sebelum ada mobil lewat. Entah bagaimana caranya, tikus itu harus dilumpuhkan dulu.

Keputusan hukuman mati kepada si tikus belum diambil sampai kami sekeluarga berangkat sholat Ied. Ini hari baik, masih ada waktu untuk si tikus merenungi kesalahannya dulu di dalam jebakan sampai dia dieksekusi nanti. Itu pastinya bakal jadi agenda pertama keluargaku setelah sholat Ied. Bahkan sebelum tradisi sungkeman seperti biasanya.

— 000 —

Sensasi yang dibuat si tikus tak berhenti sampai di situ. Sepulang sholat Ied, Ibuku yang masuk rumah pertama kali lewat pintu dapur, langsung menjerit-jerit tak jelas. Rupanya, Ibuku menemukan jebakan tikus dalam keadaan kosong. Si tikus berhasil kabur dari jebakan tertutup itu. Dan untuk membuatnya lebih dramatis, si tikus masih sempat menampakkan diri kepada Ibuku. Seakan mengejek, si tikus berlari dari dapur ke arah depan rumah sampai ruang tamu, tepat saat Ibuku masuk rumah. Rupanya selama ini jebakan tikus itu memang terlalu lemah untuk menahan tubuh besar si tikus.

Ibuku tidak tinggal diam. Dipanggilnya segera tiga laki-laki yang dimilikinya untuk mengepung si tikus. Ibuku meminta aku dan adikku mengambil kayu yang ada di depan rumah, sementara Abahku sudah mencabut pedang samurai hias yang ada di rumah. Aku bingung, tetapi demi melihat Ibuku berteriak-teriak panik, tak ayal aku dan adikku mengambil kayu semacam tongkat baseball untuk dibawa ke ruang tamu.

Di ruang tamu, Ibu dan Abah sudah mengepung meja ruang tamu. Rupanya si tikus terpojok di kolong meja itu. Ibu memintaku menggantikan posisinya sementara adikku menjaga arah lain. Nanti dengan aba-aba, Ibu akan menakut-nakuti si tikus. Dikepung dari berbagai arah, si tikus tak akan punya pilihan selain berlari ke pojok ruangan.

Begitu Ibuku menggebrak kolong meja dengan sapu, si tikus yang memang tak punya pilihan lain, lari ke pojok ruangan. Dan dalam satu kelebatan, Abahku tiba-tiba sudah menusukkan pedangnya ke arah si tikus.

Aku sudah membayangkan setelah ini bakal membersihkan ruang tamu dari ceceran darah dan usus yang terburai dari bangkai tikus. Tapi nyatanya, entah pedangnya yang tumpul atau tikusnya yang sakti, pedang itu menusuk perut si tikus tanpa melukai kulitnya. Tusukan pedang Abahku hanya membuatnya terjepit antara pedang dan dinding. Si tikus tak bisa bergerak, tapi juga tak luka.

Gebug!! Gebug!” teriak Ibuku memerintah aku untuk memukul si tikus dengan kayu yang aku bawa.

Butuh beberapa saat bagiku untuk berpikir apa yang harus dilakukan, tetapi tikus ini memang harus mati. Segera aku ambil ancang-ancang, kepala tikus jadi targetnya. Aku kumpulkan niat dan sekuat tenaga kayu yang aku pegang berayun ke kepala si tikus. Pasti mati, pikirku.

Goblognya, begitu aku angkat kayunya setelah satu pukulan itu, aku lihat si tikus cuma diam memandangku. “Cuma segitu?”, tanyanya.

Dan dengan emosi, beberapa pukulan kayu kembali mengayun ke arah kepada si tikus, aku sendiri lupa berapa kali tepatnya. Aku baru kembali sadar ketika melihat gumpalan darah di kepala si tikus. Si tikus masih hidup, tapi sudah tergeletak lemah, rasanya tak akan mungkin lagi dia berlari.

Aku tambah satu pukulan lagi.

Ibuku segera menyuruh adikku mengambil karung. Dalam posisi tikus masih dijepit pedang oleh Abahku, aku memasukkan si tikus ke dalam karung. Lalu mengikat karung itu erat-erat. Semua aku lakukan dengan cepat namun hati-hati, menghindari kemungkinan sandiwara lain yang bakal dilakukan si tikus. Dia sudah melakukan beberapa banyak hal mengagumkan sebelumnya, bukan tidak mungkin dia hanya berpura-pura lemah dan kemudian ketika kami lengah dia kembali berlari dan menghilang.

Tapi tidak, si tikus udah ada dalam karung sekarang. Aku membawanya segera ke halaman. Semua keluargaku mengikutiku. Aku berpikir akan membuangnya begitu saja, tetapi Ibuku punya pikiran lain. Dipinjamnya kayu yang tadi aku pakai, tikus yang entah masih hidup atau tidak dan sekarang terkurung di karung itu, beliau pukuli beberapa kali. Adikku juga ikut-ikutan. Dari cara mereka memukul si tikus, aku tahu betapa besarnya dendam mereka kepada si tikus. Apa pun yang si tikus lakukan, pastinya sesuatu yang buruk sehingga keluargaku menghukumnya seperti itu.

Jimat sakti dan kepintaran apa pun yang dimiliki si tikus, mungkin sekarang sudah lenyap. Karung itu sudah tidak bergerak-gerak lagi sejak beberapa pukulan yang lalu. Makhluk di dalamnya mungkin menderita beberapa patah tulang, seharusnya termasuk tulang tengkoraknya dan pendarahan dalam yang hebat. Tidak perlu dokter hewan untuk memastikan tikus itu sudah mati.

Penderitaan si tikus tak berhenti sampai di situ. Ibuku memintaku membuang bangkai tikus itu di jalan raya. Dalam keadaan mati, pastinya tikus itu tak bisa lari lagi dari kejaran ban mobil yang akan menggepengkannya.

Aku segera membuang tikus itu ke jalan dan masuk kembali ke dalam rumah. Tak ingin aku dilihat tetangga sebagai manusia tidak berperikehewanan.

Idul Fitri kami kembali damai. Seperti seharusnya Idul Fitri, kami sungkeman. Kemudian makan opor ayam dan mencicipi jajan yang harusnya untuk tamu. Tak ada darah yang perlu dibersihkan pagi itu. Tak ada yang merasa bersalah dengan kematian si tikus. Perasaan bersalah juga tak muncul sama sekali ketika siang hari aku lewat jalan itu dan menemukan bangkai tikus itu sudah gepeng.

Idul Fitri kami tahun itu berjalan normal dan indah.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hehehe seru bgt cerita perang sama tikusnya.. gua jg punya masalah yang sama kyk bro nih.. tp smpe sekarang itu tikus ga pernah ketangkep..😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: