SkyFall, Film James Bond ala Surat Cinta Anak SMA

16 November 2012 pukul 03:00 | Ditulis dalam Daily Prophet | 4 Komentar
Tag: , , , , , ,

Disclaimer : Spoiler Alert.

Sebelumnya, saya jelaskan bahwa saya menulis review film terbaru James Bond yang berjudul Skyfall ini tanpa pernah membaca review dari orang lain, termasuk review dari Mas Joe, yang sepertinya semua artikel dalam blog-nya telah saya baca. Ini tentunya, bisa memastikan review yang saya tulis kemudian, lepas dan bebas dari pandangan orang lain. Biasanya, saya memang cukup gampang terpengaruh. Jika saya baca review sebuah film yang memuji-muji, biasanya pas nonton saya jadi latah ikut-ikutan mengagumi film tersebut.

Skyfall menjadi film rilis terbaru pertama yang saya tonton dalam beberapa bulan terakhir. Film terakhir yang saya tonton sebelum Skyfall adalah The Dark Knight Rises. Artinya, saya melewatkan film-film seperti Looper dan Premium Rush. (insert “I know F me, right?” meme here). Jadi, Skyfall harusnya juga tidak kebanting dengan perbandingan dari film-film yang saya tonton sebelumnya dalam waktu dekat.

Sayangnya, semua objektivitas tersebut, membawa Skyfall pada satu kesimpulan yang bahkan telah saya dapatkan dalam setengah jam terakhir film tersebut. Skyfall film yang jelek. Untungnya, saya bukanlah seorang ekstrimis yang langsung pergi sebelum film selesai. Meskipun saya juga sebenarnya sudah tahu (Thanks to Topan atas spoiler-nya) M mati dalam film tersebut, saya masih penasaran bagaimana cara dia mati. Rasa penasaran tersebut menjadikan setengah jam terakhir film Skyfall sebagai setengah jam paling membosankan yang pernah saya alami di gedung bioskop.

“Kerja kreatif” yang dilakukan oleh sutradara Skyfall dalam film ini mirip dengan yang saya lakukan bertahun-tahun yang lalu pas masih berseragam putih abu-abu. Waktu itu, pas naksir seorang cewek, biar kelihatan kreatif dan mempunyai referensi luas, saya mengirim surat cinta yang isinya gabungan lirik-lirik romantis dari lagu-lagu yang aku tahu waktu itu. Setiap satu kalimat berasal dari satu lagu berbeda yang disatukan membentuk sebuah cerita utuh dalam sebuah surat cinta.

Nah, saya ngerasa-nya ini film juga begitu. Sam Mendes (nama sang sutradara yang saya tahu setelah lihat di IMDB) menggabungkan berbagai tema yang pernah diangkat dalam film-film sukses sebelumnya dalam satu film. Anda tentunya ingat tema resurrection yang diangkat dalam The Dark Knight Rises. Dan rasa itu terasa sekali mengingat James Bond “mati” di awal film.

Silva sang musuh utama adalah kombinasi dari kegilaan yang dimiliki oleh Joker dalam The Dark Knight dengan kecerdasan teknologi tingkat tinggi yang dimiliki oleh musuh John McClane dalam Live Free or Die Hard alias Die Hard 4. Silva  tinggal di pulau tak berpenghuni yang benar-benar mengingatkan dengan set pada film Inception. Jangan lupa, trik “tertangkap yang merupakan bagian dari keseluruhan rencana” juga sudah digunakan Joker dalam The Dark Knight. Sudah kuno.

Sebenarnya sampai dengan bagian Silva tertangkap, film ini masih bisa mendapatkan angka 3 dari 5 untukku. Tapi setelah itu, cerita jadi semacam kacau khas film-film Indonesia. Tidak seperti Joker yang masih punya tujuan jelas (just to see the world burn), Silva ini tujuannya cuma untuk membunuh M, ibunya. Bodohnya, sumber daya yang digunakan untuk melakukan motivasi personal yang not-so-important tersebut menggunakan sumber daya yang sebenarnya bisa dia gunakan untuk membuat kekacauan yang lebih besar, menciptakan kerusuhan di pasar modal atau membuat Rhoma Irama terpilih jadi presiden Indonesia, dimana akibat yang ditimbulkan dua kejadian tersebut akan sama parahnya.

Kesuksesan Batman sepertinya memang menjadi kiblat bagi sutradara yang mungkin nama lengkapnya adalah Samsudin Mendes ini. Tiga film trilogi Batman yang sukses benar-benar dijadikan referensi oleh Sam (yang menolak dipanggil Udin). Melengkapi dua film yang telah saya sebutkan sebelumnya, rasa Batman Begins, muncul ketika Sam memanggil masa lalu James Bond. Orang tua yang meninggal sewaktu James ada di usia mulai ABG, rumah tua seperti kastil, ditambah dengan seorang pelayan setia layaknya Alfred the legend …wait for it… dary dalam Batman Begins. Saya sendiri tidak pernah membaca novel James Bond, jadi mungkin cerita tentang orang tuanya memang begitu adanya. Tetapi kesetiaan dan kebijaksanaan Kincade ini benar-benar mirip dengan Alfred yang membesarkan Bruce Wayne.

Yang paling konyol, Sam alias Udin menggunakan satu lagi tema dari film terkenal yang tak terbayangkan sebelumnya. Tebak apa? Nah. Si elegan dan glamor James Bond berubah menjadi Macaulay Culkin dalam film Home Alone. Memasang berbagai macam jebakan untuk menyambut perampok yang datang ke rumahnya.

OKeh. Film ini memang mempunyai satu tema pemersatu yang terlihat yakni “The old ways are the best”. Tema ini mencapai puncaknya ketika Silva mati hanya dengan sebuah pisau. Tapi entah kenapa tema pemersatu ini terasa sangat mentah dan kurang berbaur dalam keseluruhan film yang disajikan.

Di IMDB film ini mempunyai rating 8.1. Tapi saya mungkin cuma bisa memberi rating setengahnya. Keluar dari bioskop, saya berharap tadinya saya memilih film Wreck it, Raplh yang ditayangkan di studio sebelah untuk long weekend ini.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hahaha “Si elegan dan glamor James Bond berubah menjadi Macaulay Culkin dalam film Home Alone. Memasang berbagai macam jebakan untuk menyambut perampok yang datang ke rumahnya.” Mas Chiell trlalu sensi nih..
    Kalo aku lbh milih nunggin breaking dawn 2 drpd dpt kursi di baris L dan ngluarin kocek 30rb karena besoknya tanggal meraaaahh -___- Tp ya brhubung sdh trjadi, gapapa deh..

  2. wah harusnya ini di awal post dikasih spoiler alert dong chieeeell..

  3. Audrey :: Kan ga usah nonton pas premiere juga bisa…😀

    Andi :: Udh ya.. Di awal post banget….

    • beuuh.. itu nontonnya nggak pas premiere lho..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: