Muka Orang Susah 2

2 Januari 2013 pukul 12:58 | Ditulis dalam Daily Prophet | 4 Komentar
Tag: , , , , ,

Lebih dari setahun yang lalu, aku nulis tentang beberapa pengalamanku mempunyai muka yang bisa disinonimkan sebagai muka orang susah. Menulis pengalaman itu dan waktu yang berjalan, ternyata sama sekali tidak membantu dalam mengatasi kondisi tersebut. Tak tanggung-tanggung, dua kejadian yang ada hubungannya dengan tampang dan penampilanku itu terjadi secara berturut-turut dalam bulan November kemarin.

Ceritanya, selama bulan November kemarin, aku nge-kost di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Kawasan tersebut terkenal sebagai salah satu kawasan elite di Jakarta. Banyak rumah-rumah gedong besar berdiri di daerah tersebut. Banyak di antaranya dihuni oleh ekpartriat yang bekerja di Indonesia.

Kejadian pertama, terjadi malam hari. Karena daerah Kemang merupakan sebuah kawasan yang elite, lumayan jarang angkutan umum yang lewat daerah tersebut. Rata-rata penduduk daerah tersebut memang punya kendaraan pribadi. Walhasil, saat pulang ngapel di malam hari, aku harus naek kendaraan umum yang rada elite dibanding bus umum (baca : ojek) dari jalan Ampera.

Saat itu, aku tampil dengan tampilan standarku. Jeans dan kaos plus sebuah jumper, ditambah satu tas ransel yang lumayan gedhe di belakang.

Nah, saat sampai di depan kos, melihat rumah kosku yang dari luar terlihat gedhe dan mewah, pak ojek tersebut langsung bertanya :

Tukang ojek : “Oh, mas yang jaga rumah ini ya?”

Aku : terdiam beberapa saat. mikir dulu harus jawab apa. “Oh, enggak. Aku ngekos di sini.”

Tukang ojek : tanpa rasa bersalah, “Oh. Kirain ini gedong bule.”

Aku masuk kos. Terdiam sedih. Kalau misalnya malam itu ga dingin, mungkin milih untuk duduk merenung di bawah pohon gedhe depan kos sepanjang malam.

Kejadian kedua terjadi beberapa hari setelah kejadian pertama, masih dalam minggu yang sama. Di sela-sela gedong besar di daerah Kemang, ada juga pemukiman pada penduduk yang juga diisi dengan kos-kosan tempat para mahasiswa yang kebetulan sedang ngampus di daerah sekitar Kemang itu. Layaknya pemukiman yang banyak mahasiswanya, ada juga fasilitas pendukung seperti warteg, laundry, dan warnet.

Suatu malam, aku makan di salah satu warteg. Karena emang lokasinya dekat dengan kosku, aku keluar dengan tampilan seadanya, kaos ditambah celana tiga perempat. Sayang, timing datangku ke warteg tersebut bisa dikatakan tidak pas.

Pas aku dateng dan siap memesan, masuklah sang pemilik warteg ke dapur. Sendirianlah aku menunggu pemilik warteg di depan tempat nasi dan perlengkapan lauk pauknya disediakan. Tak lama berselang, datanglah seorang mbak2 ke warteg dan dengan pedenya langsung ngomong :

“Mas, pesen makan dong.”

Aku cuma diem.

Aku yakin kalo mbaknya ini bukan pertama kalinya dateng ke warteg ini. Dan seharusnya dia tahu dengan benar siapa saja pemilik warteg beserta kelengkapannya sehingga harusnya dia bisa tahu kalo aku bukan salah satu diantara yang berkewajiban melayani di warteg tersebut.

mBaknya tampaknya memang langsung sadar langsung setelah dia berucap kalimat di atas. Setelah itu dia diem, aku juga diem, sampai datang pemilik warteg dan sebenarnya. Karena emang laper, dan menahan gondok, aku makan agak banyak malem itu.

Lalu, sebenarnya bagaimana perasaan dan tanggapanku dengan kejadian yang terus berulang kayak gitu? Yang pertama kali kepikiran saat ada kejadian kayak gitu sih, this is a blog material.😀 Aku jadi punya sesuatu yang bisa aku tulis untuk blog. Aku sendiri sadar bener bahwa penampilanku kadang-kadang emang rada nggembel. Kaos dan jeans, biasanya ditambah dengan jumper, menurutku memang pakaian paling nyaman. Jadi, sampai nanti agak lama juga kayaknya aku masih mengandalkan penampilan kayak gitu kalau pergi-pergi.

Untuk beberapa acara, tentu saja aku ga tampil kayak gitu. Di kantor, atau di resepsi kawinan misalnya. Untuk acara-acara semi-resmi lainnya, aku juga biasanya udah tahu untuk harus pakai kostum yang rada mendingan.

Dan yang paling penting, meski penampilanku nggembel, aku harus pastiin kalo kualitas pribadi yang dibungkus pakaian itu tidak nggembel juga. Orang boleh lihat penampilan luarnya, boleh menilai seenaknya dari sekilas melihat penampilan itu. Tapi aku harus berusaha untuk memastikan, mereka ga berpikiran sama setelah melihat siapa aku sebenarnya, juga dari karya-karya yang aku hasilkan.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Ngekek :)) Gitu2 yang nerbitin duit lho :p

    • #senyam-senyum. cuma bisa nyumbang Puk-Puk. Kalau aku ama cius pasti dikira masih anak kuliah. standar penampilann gitu sih..kaos-jumper-jeans-sendal gunung. plus badan dan muka imut :p

  2. ah ngga sesuai judul nih chiel.
    isinya banyak nyalahin pakaian belel.
    padahal kan inti masalah hidup kamu selama ini memang sesuai judul: muka orang susah! hahaha
    peace bro :* mwah!

  3. […] menulis dua tulisan dengan judul “Muka Orang Susah” (dapat dibaca di sini dan di sini), saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menulis tulisan ketiga dengan judul yang sama. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: