Souvenir Pernikahan

16 Februari 2013 pukul 00:48 | Ditulis dalam fiksi | 3 Komentar
Tag: , , , ,

Jangan pernah mencoba menafsirkan cara pikir seorang wanita dengan logika. Tidak bakal sampai. Wanita tidak mudah dipahami hanya dengan akal dan nalar. Seorang laki-laki harus mampu memasukkan parameter perasaan untuk bisa benar-benar mengerti apa yang wanita mau. Nah masalahnya kan, tidak mudah bagi seorang laki-laki untuk bisa menggunakan hati dalam logika berpikir mereka.

Itu juga yang sedang aku alami. Sudah beberapa hari ini aku kehilangan kontak dengan Elly. Semua jalur komunikasi yang aku coba, seperti ketemu dengan sebuah rumah kosong. Pesan-pesan itu terkirim, tapi tidak berbalas. Entah dia baca atau ga.souvenir pernikahan

Pesan via BBM yang aku kirim mula-mula dibacanya, tetapi tidak dibalas. Dua hari terakhir pesan yang aku kirim bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dibaca. Semua pesan BBM dariku sepertinya dia abaikan begitu saja. Hari-hari ini Elly juga tidak mengaktifkan GTalk-nya saat jam-jam kantor. Padahal biasanya, setiap hari aku dan dia ngobrol di sela-sela kerjaan kantor lewat layanan pesan instan dari Google itu.

Tentu saja panggilan telepon juga tidak pernah mendapatkan respon. Masih untung sih tidak langsung di-reject.Yang ajaib,  telepon lewat ekstensi kantor pun tidak diangkatnya seolah-olah dia tahu telepon itu dari aku. Elly juga tidak lagi terlihat di kantin kantor kala jam-jam makan siang. Sebenarnya aku bisa saja pergi ke lantainya dan mendatangi mejanya, tetapi resiko hubungan kami akan ketahuan oleh teman kantor yang lain membuatku mengurungkan niat itu.

Semua ini berawal cuma gara-gara masalah souvenir pernikahan.

“Sabtu jadi?”, tanya Elly seminggu yang lalu.

“Jadi yuk!”, jawabku cepat. Sesibuk apa pun aku waktu itu, kalau datang chat dari Elly lewat GTalk, selalu aku jawab secepatnya. Kecuali kalau lagi ada bos di sebelahku tentunya.

“Ketemu di mana?”, tanyaku kemudian.

“Di blok M yah. Gw kan g thu jalan.”

“Jam?”

“10.”

“OKeh. Eh, hari ini mau pulang bareng ga?”. Ada rasa kangen juga. Meskipun sekantor aku dan Elly lebih sering berkomunikasi secara tak langsung dan terbilang jarang bertemu. Selain karena kesibukan kami masing-masing, kami juga berhati-hati agar hubungan kami tidak diketahui oleh teman kantor yang lain.

“Boleh. Tp jam7 yah. Gw byk kerjaan.”

“Sip. Ketemu di lobby.”

“Sippo.”

Dan begitulah. Sabtu itu aku dan Elly menjajal reputasi Pasar Asemka. Pasar yang terkenal menjual banyak pernak-pernik dan aksesoris yang bisa dijadikan souvenir pernikahan. Selain punya pilihan beragam, pasar ini juga menawarkan harga yang murah jika pengunjung membeli barang dalam jumlah besar.

Pasar Asemka terletak dekat dengan kawasan Kota Tua, yang sering disangka orang masuk dalam wilayah Jakarta Utara, padahal baik Kota Tua maupun Pasar Asemka ini secara administratif ada di wilayah Jakarta Barat. Ga salah juga sih kalo orang mikir begitu, karena untuk mencapai daerah ini, arah yang dominan dituju adalah Utara. Sepanjang perjalanan, aku baru mengarahkan mobil Elly ke arah Barat, justru setelah melewati perempatan Stasiun Kota.

Aku dan Elly tiba di pasar ini menjelang siang. Pada jam segitu, pasar Asemka sudah ramai dan sesak.

“Kamu udah tahu mau beli apa?”

“Justru gue ke sini gara-gara katanya di sini banyak pilihan.”

Jawaban seperti itu saat cewek akan berbelanja bisa berarti bencana bagi cowok yang menemaninya. Pertama-tama Elly tidak puas dengan berbagai model kipas yang ada di toko pertama yang kami datangi, selanjutnya Elly merasa harga pin di toko kedua terlalu mahal. Elly sempat tertarik dengan gelas di toko berikutnya, tetapi urung menawar karena merasa gelas itu terlalu besar untuk souvenir pernikahan.

Aku merasa hal ini bisa berlangsung seharian, sampai Elly terlihat benar-benar tertarik dengan berbagai model gantungan kunci yang ada di sebuah toko.

“Ini lucu.”, kataku, mencoba memanipulasi pikiran Elly agar benar-benar tertarik dengan gantungan kunci yang satu ini.

“Iya, lucu. Unik, di toko yang lain kayaknya ga ada yang model kayak gini.”

Elly melakukan tawar menawar dengan penjaga toko yang menurutku kelewat ramah. Yah, mungkin itu cara dia untuk mengambil hati pembeli hingga akhirnya melakukan transaksi di toko itu. Menurutku, cara itu sedikit menyebalkan, tapi tampaknya hal itu tidak menjadi masalah bagi Elly. Gadis manis itu menunjukkan keramahannya, kelebihannya yang sangat aku sukai.

Aku pertama bertemu Elly di lift kantor. Yang membuka percakapan pertama kali waktu itu memang aku, tapi keramahannya lah yang membuatku merasa nyaman, seolah aku sudah mengenal dekat gadis ini. Dan boom, hubunganku dan Elly beringsut menjadi lebih dari sekedar teman kantor biasa. Terlebih lagi Elly punya kelemahan dalam mengingat arah jalan. Dipadukan dengan pengetahuan navigasiku yang hampir setara dengan sopir angkot (dan dibantu Google Maps tentunya), aku dan Elly menjadi pasangan jalan yang cocok.

“Mas sama mBaknya mirip loh. Katanya sih kalo jodoh emang gitu, mirip mukanya.”, basa-basi si penjaga toko kali ini menyadarkanku dari lamunan. Mungkin pertanyaan ini ditanyakan oleh si penjaga toko kepada setiap pasangan yang datang. Tapi fokusku bukan itu, aku langsung melihat ekspresi Elly untuk melihat responnya atas perkataan tadi. Kupikir dia akan marah, membantah setidaknya. Tapi yang aku lihat hanya senyum tipis Elly yang manis.

“Jadi, kapan nikahnya?”, tanya si penjaga toko.

“Dua minggu lagi. Ada kan stoknya 900 biji?”, jawab Elly.

“900? Banyak juga ya tamunya. Tapi kita lagi ga ada stok segitu sekarang. Cuma ada 600 biji, ntar baru ada lagi bulan depan.”

“Ga apa-apa kok. Yang 500 aku ambil sekarang, yang 400 aku ambil tiga minggu lagi. Bisa kan? Tapi harganya sama lho.”

“Oh, yang 400 buat acara ngunduh mantu ya? Bilang dong, pantes kok ambilnya banyak banget.”

Sebenernya aku udah sebel dengan basa-basi ga penting ini. Tapi Elly justru malah tampak makin akrab dengan ibu-ibu penjaga toko ini.

“Bukan sih. Yang 500 buat nikahanku, Sisanya buat nikahan dia.”

“Lho kok?”

Aku berharap basa-basi ini dihentikan. Bayar, ambil barang dan pulang.

“Iya, dia bukan pacarku kok…. Aku nikah sama pacarku dua minggu lagi. Dia sendiri nikah sama pacarnya bulan depan.”

Jawaban Elly seperti mempunyai kekuatan magis. si Ibu yang dari tadi cerewet dan sok akrab tiba-tiba menjadi pendiam.

“Eh buk, kita ambil 500 dulu aja deh. Yang 400 tunggu dulu.”, kataku.

“Lho, kenapa?”, Elly dengan cepat menanggapi pernyataanku.

“Ya, masak kita souvenirnya samaan sih?”, jawabku.

“Loh bukannya kita udah sepakat?”. Elly tampak sewot.

“Kalau dipikir-pikir, aneh kalo nikahan kita souvenirnya sama.”, jawabku.

“Ih, gimana sih?”

“Aku kan juga harus nanya dulu ke pacarku, setuju atau nggak sama souvenir ini.”

Penjelasan-penjelasan yang aku buat selogis mungkin itu bukannya membuat Elly tenang, justru mukanya terlihat makin sewot. Tampaknya kali ini Elly beneran marah. Setelah itu, dari toko sampai kembali ke mobil dia tidak lagi ngomong. Aku mencoba mengajaknya bercanda dengan ngomong kayak, “Kamu kalau marah gitu justru makin manis.“, tapi sama sekali tidak ditanggapi. Dia juga tidak menjawab saat aku tanya kenapa dia marah dan kenapa dia pengen souvenir nikahan kami sama. Sisa perjalananku dan Elly sampai Blok M dilalui dalam diam.

Sampai sekarang.

Aku masih belum bisa menghubungi Elly. Hari ini adalah hari terakhir dia kerja sebelum besok mulai dia mulai cuti untuk pernikahannya. Dia mungkin akan terbang ke Makassar hari ini atau besok. Apa aku datang ke mejanya aja ya?

Sebelum aku melakukan tindakan nekat itu, aplikasi GTalk-ku membawa pesan dari Elly.

“Besok mau anterin aku ke bandara ga?”

“Boleh. Jam berapa?”

“Jam 8 kamu ke kosku.”

“El, ntar mau pulang bareng ga? Aku pengen ketemu kamu dulu sebelum besok.”

“Besok aja.”

GTalk-nya ga lagi aktif setelah itu. Aku langsung ke ruangan bosku untuk izin aku cuti mendadak besok.

Keadaan masih sama saja besoknya. Elly masih dingin. Di dalam mobil di jalanan Jakarta yang bahkan sudah padat merayap di pagi hari ini. Saat aku sampai di kosnya tadi, dia cuma berkata dengan cepat, “Flight-ku jam10, ngebut ya?”

Berangkat dari rumah dua jam sebelum jadwal penerbangan itu terlalu beresiko untuk Jakarta. Aku tidak tahu kenapa Elly menyuruh datang jam8. Yang pasti akhirnya aku sendiri harus berkonsentrasi dengan jalanan Jakarta. Beberapa kali aku menengok Elly, mencari kesempatan untuk bicara padanya. Tapi dia merenung memandang jendela sepanjang perjalanan. Akhirnya aku putuskan untuk bicara setelah sampai di bandara saja.

“El, bentar.”, kataku setelah aku menurunkan koper Elly di parkir bandara. Aku menghela nafas. Aku harus berterus terang padanya sekarang. Apa pun resikonya.

Elly cuma diam. Dan terus diam selama aku melanjutkan kata-kataku.

Kukatakan padanya bahwa selama ini aku tidak pernah sedang mempersiapkan pernikahan. Pacar pun aku tak punya. Semua itu aku karang agar bisa dekat dengan Elly. Tak mungkin Elly mau pergi dengan cowok lain sementara dia sedang mempersiapkan pernikahannya. Dengan mengarang cerita itu, aku bisa mengajaknya pergi berdua untuk alasan persiapan pernikahan atau sekedar sharing tentang stress pra-nikah.

Aku meminta maaf dan bersiap dengan kemungkinan Elly akan marah. Aku tidak peduli lagi, toh sebentar lagi dia akan terbang dengan pesawat berikutnya. Di ujung lain tempat pesawat itu mendarat, pelaminan telah menunggunya. Elly masih terdiam. Dengan cepat aku beranikan diri untuk mengungkapkan alasan semua tindakan sebagai pembelaan,

“Aku sayang kamu.”

Sedetik, dua detik mungkin hingga tiga jam karena kurasa sangat lama sekali hening berlangsung. Sampai di kejauhan terdengar suara panggilan untuk check-in terakhir pesawat ke Makassar, hingga Elly baru menanggapi semua omonganku tadi,

“Kenapa ga bilang dari awal?”

Jakarta, Februari 2013.
[Sumber Gambar]

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mabuk, Chiell?

  2. Mei wae…😀

  3. […] bakal tau, Mbak. Sopo ngerti lanangan yang sampeyan taksir itu juga termasuk jenis yang pemalu. Cinta kalian saling berbalas, tapi kalian berdua sama-sama dungu. Kalo sudah macam gitu, gimana mau […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: