Baliho yang Menutupi Potensi yang Sebenarnya

25 April 2013 pukul 11:18 | Ditulis dalam Sharing | 2 Komentar
Tag: , , ,

Pada masa-masa akhir periode pemerintahan Fauzi Bowo di Jakarta beberapa waktu lalu, warga Jakarta menjadi semakin sering melihat kumis beliau. Padahal orang-orang ini bukanlah orang yang bekerja di kantor Gubernur, menonton televisi pun mungkin mereka nggak sempat. Mereka ini melihat kumis sang Gubernur lewat baliho-baliho berukuran besar yang dipasang di banyak tempat strategis di Jakarta.

Sebel? Mungkin iya. Karena rasa sebel juga muncul dalam hati saya tiap kali pulang ke kampung dalam 2-3 tahun terakhir. Setiap kali ke Kudus, kampung halaman saya itu, di mana-mana saya melihat wajah bupati dalam ukuran yang jauh lebih lebar dari ukuran wajah sebenarnya, terpampang di banyak tempat di kota. Mulai dari baliho sekedar ucapan “Selamat Datang di Kudus”, “Selamat Menunaikan Ibadah Haji”, hingga beberapa baliho tentang prestasi kota yang sama sekali tidak membanggakan. Apa artinya memenangkan Adipura misalnya kalau wajah kota penuh bopeng dihiasi baliho di mana-mana. Atau, apa gunanya menjadi kota pro investasi kalau di perempatan lampu merah di dekat pusat kota Anda bisa menemukan pengemis yang meminta-minta? Bagaimana dengan banjir yang berkali-kali melanda warga di beberapa desa?

Rasa sebel yang muncul tersebut bukan semata-mata karena adanya kemungkinan terpakainya uang saya dalam pembuatan dan pemasangan baliho tersebut. Rasa sebel sebenarnya muncul lebih karena menurut saya, selama masa kepemimpinan sang bupati, saya tidak merasakan banyak perkembangan di kota saya tersebut. Kudus adalah kota yang menghasilkan pajak cukai hampir sebesar 18 triliun Rupiah sepanjang tahun 2012 yang lalu. Dengan potensi sekaya itu, seharusnya pembangunan di Kudus lebih dari sekedar memasang keramik di trotoar atau mengecat pohon-pohon penghijauan di jalan-jalan protokol atau sebuah monumen kretek di alun-alun kota. Jauh, jauh lebih dari itu. Seharusnya Kudus bisa lebih maju dari Semarang atau Solo.

Pada tahun 2012, pendapatan daerah kabupaten Kudus hanya berselisih 38 Milyar lebih sedikit dibandingkan dengan pendapatan daerah kota Surakarta. Kota Surakarta yang dulu dipimpin Jokowi dan kini oleh FX. Hadi Rudyatmo tersebut merasakan perkembangan yang berarti, sementara Kudus menurut saya masih begitu-begitu saja. Ada yang salah dengan pengelolaan anggaran Kudus. Jangan dulu berpikiran tentang korupsi, saya hanya merasa pemimpin sekarang tidak bervisi.

Kenapa saya sebut tidak bervisi? Pemimpinnya saat ini menjalankan Kudus secara as it is. Take it for granted. Bagaimana bisa Kudus mempunyai pusat pelatihan bulu tangkis yang disebut sebagai yang terbaik di Asia tetapi sepertinya tidak mungkin menjadi tuan rumah sebuah turnamen internasional? Atau bagaimana Kudus yang mempunyai keberagaman kuliner yang menawan tetapi orang-orang hanya mengenal soto Kudus? Kudus juga mempunyai kebudayaan yang menarik, tapi hanya dikenal sebagai tempat ziarah Sunan Kudus. Kudus punya setidaknya 4 perusahaan nasional dan internasional yang seharusnya tidak sekedar mengurangi jumlah pengangguran, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai rekan pembangunan pemerintah daerah.

Opini dalam tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu. Saya tuangkan dalam bentuk tulisan terkait dengan pilihan kepada daerah Kudus Mei mendatang. Tulisan ini saya tidak saya maksudkan sebagai penyerangan kepada pihak tertentu, justru saya harap tulisan ini bisa menjadi renungan bagi kandidat-kandidat yang bersaing. Saya? Saya sudah punya pilihan dan InsyaAllah akan saya utarakan dalam tulisan berikutnya.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] saya mencoba merasakan perkembangan kota itu secara langsung. Dan seperti sudah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, saya kecewa dengan kepemimpinan bupati sekarang. Sama kecewanya dengan kepemimpinan di berbagai […]

  2. […] oleh Mahkamah Konstitusi, selama lima tahun ke depan Kabupaten Kudus akan kembali dipimpin oleh Bupati sebelumnya, Musthofa. Menurut saya, dalam sebuah proses demokrasi, ketika sebuah keputusan telah diambil, semua pihak […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: