Tiga untuk Kudus

9 Mei 2013 pukul 01:30 | Ditulis dalam Sharing | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,


Pada pilkada Kudus yang bakal digelar 26 Mei mendatang, sepertinya saya akan mendukung pasangan independen Erdi Nurkito dan Anang Fahmi. Saya mempunyai setidaknya empat alasan sederhana kenapa saya akan mendukung mereka. Dan jujur saja, ada alasan yang sifatnya emosional dari keempat alasan itu.

April sampai November tahun lalu, saya tinggal sekaligus secara de facto dan de jure di Kudus, di kota kelahiran saya. Saat-saat itulah saya mencoba merasakan perkembangan kota itu secara langsung. Dan seperti sudah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya, saya kecewa dengan kepemimpinan bupati sekarang. Sama kecewanya dengan kepemimpinan di berbagai jenjang pemerintahan di negara ini.

Saat itu saya berpikir, sebenarnya, kalau hanya untuk memimpin sebuah kota kecil seperti Kudus itu, pastinya ada banyak putra daerah yang mampu. Saya menciutkan pemikiran saya kepada beberapa teman dan orang-orang yang saya kenal waktu masih SMA, dan saya melihat beberapa orang yang menurut saya kompeten.

Sayangnya, beberapa orang tersebut saat ini sudah keluar dari Kudus. Tampaknya, Kudus adalah kolam kecil bagi ikan-ikan besar seperti mereka. Kota-kota besar seperti Jakarta menawarkan tantangan lebih bagi mereka. Namun saya yakin, justru dengan keluar dari Kudus mereka akan berkembang lebih hebat. Dalam hati, saya berjanji, jika salah satu putra daerah terbaik Kudus tersebut mau kembali untuk membangun Kudus, saya akan mendukungnya sepenuh hati.

Ternyata, penantian saya tersebut tidak berlangsung lama.

pilkada kudus

Akhir April lalu, saya sempat menghabiskan weekend di Kudus. Sepanjang weekend tersebut, saya melihat hingar bingar persiapan pilkada telah dimulai. Kemanapun saya pergi, saya pasti melihat salah satu wajah calon bupati terpasang di baliho. Sampai suatu saat, saya melihat sebuah baliho dengan nama yang tampaknya tidak asing, Anang Fahmi. Seingat saya, ada nama yang hampir mirip dalam daftar teman Facebook saya.

Setelah mengusut ke Facebook, saya dapati bahwa Anang Fahmi yang mencalonkan diri sebagai wakil bupati Kudus tersebut memang ada dalam daftar teman Facebook saya. Beberapa tahun kemarin memang saya meng-add nama tersebut sehubungan dengan salah satu peran saya sebagai Seksi Humas Ikatan Alumni Jodhipati Candrasari (IAJC) dan Anang Fahmi ini adalah alumni Jodhipati.

Berbicara soal Jodhipati, saya sangat yakin bahwa seorang alumni Jodhipati, siapa pun dia, kompeten untuk memimpin Kudus. Jodhipati adalah ambalan Pramuka di SMA 1 Kudus. Sebenarnya Jodhipati hampir sama dengan banyak ektrakurikuler dan kegiatan kepemudaan lainnya, mengajarkan pengembangan karakter bagi anggota-anggotanya. Yang saya rasakan, Jodhipati mengajarkan mental yang kuat, kejujuran, dan semangat kekeluargaan. Mungkin alumni lain merasakan hal yang berbeda, tetapi yang pasti, alumni Jodhipati seharusnya punya karakter yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin.

Dengan fakta tersebut saya telah meyakinkan diri untuk mendukung Anang Fahmi menjadi Kudus 2. Apalagi setelah mengkonfirmasi dengan salah satu kakak angkatan, saya dapati fakta bahwa Erdi Nurkito (pasangan Anang Fahmi sebagai calon bupati) juga merupakan alumni Jodhipati. Mungkin Anda sudah bisa membayangkan bagaimana rasa kekeluargaan yang dibangun oleh Jodhipati ketika dua orang yang berbeda angkatan lumayan jauh bisa berkomunikasi untuk akhirnya bekerja sama untuk menuju Kudus-1 dan Kudus-2.

Alasan Logis

OKeh, itu tadi alasan emosional yang mendasari dukungan saya. Tapi sebagai lulusan fakultas science, pantang rasanya jika sebuah putusan diambil hanya berdasarkan pertimbangan emosional tanpa mempunyai argumentasi logis. Untungnya, selama dua hari di Kudus tersebut saya sudah melakukan pengamatan untuk mencari pembenaran bagi dukungan saya.

Yang pertama, pasangan Erdi Nurkito dan Anang Fahmi maju melalui jalur independen. Hal ini bisa berarti banyak. Pasangan dari jalur independen membutuhkan dukungan langsung dari warga berupa puluhan ribu Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang digunakan untuk mendaftar ke KPU. Menurut saya, dukungan ini menunjukkan bahwa pasangan ini memang punya salah satu kelebihan yang tadi saya sebutkan, rasa kekeluargaan. Dalam skala yang lebih besar, rasanya tidak salah jika rasa kekeluargaan ini saya terjemahkan menjadi “merakyat”. Pasangan Erdi Nurkito dan Anang Fahmi mendekati warga secara langsung untuk mendapatkan dukungan mereka, berbeda dengan pasangan yang diusung partai yang cukup mendekati kalangan elite politik setempat untuk mengusung mereka.

Status independen juga berarti bahwa pasangan Erdi Nurkito dan Anang Fahmi bebas dari kontrak politik dengan partai. Tidak ada balas jasa yang harus dibayar oleh pasangan ini kepada partai politik jika nantinya mereka terpilih. Kontrak mereka langsung kepada rakyat dan kepada rakyat lah mereka akan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan yang mereka ambil nantinya.

Selain masalah kesepakatan politik, diusung partai juga berarti ada dana dari partai yang mengalir sebagai dana kampanye bagi pasangan calon bupati dan calon wakil bupati. Biasanya, ini biasanya bukan berarti selalu, jika pasangan yang mereka usung terpilih, partai akan mencari cara agar mereka bisa balik modal. Cara yang ditempuh sih biasanya tidak legal. Nah, praktik-praktik seperti ini bisa dihindari oleh pasangan yang berasal dari jalur independen. Alasan-alasan ini menjadi poin penting dasar dukungan saya.

Namun, jalur independen ini juga menjadi kekurangan tersendiri berkaitan dengan dana kampanye. Dana kampanye pasangan independen biasanya berasal dari kocek mereka sendiri atau sumbangan dari sukarelawan yang bersimpati. Hal ini membuat dana kampanyenya tidak sebanyak pasangan lain. Namun, hal ini bisa diakali dan justru menjadi alasan kedua kenapa saya mendukung Erdi Nurkito dan Anang Fahmi.

Dengan dana kampanye yang terbatas, saya tidak menemui baliho berukuran besar yang menampilkan wajah pasangan ini. Tetapi, pasangan ini justru mempunyai langkah jitu untuk menyiasati keterbatasan ini. Alih-alih mencetak poster berisi wajah calon bupati seperti yang dilakukan pasangan-pasangan lain, pasangan ini mencetak poster dengan ukuran sedikit lebih besar tetapi berisi hal yang penting, yakni visi dan misi pasangan tersebut. Jadi, mereka tidak sekedar menjual wajah calon bupati atau calon wakil bupati, tetapi secara jelas menjual visi dan misinya.

Alasan ketiga, mungkin sangat sederhana, tetapi bisa berarti banyak. Di jalan-jalan yang saya lewati selama di Kudus kemarin itu, saya tidak mendapati alat peraga kampanye pasangan ini dipasang dengan dipakukan ke pohon-pohon. Anda pasti sudah sering mendengar para pecinta lingkungan ribut setiap kali ada poster yang dipaku ke pohon-pohon. Entah sengaja atau tidak, beberapa poster pasangan Erdi Nurkito dan Anang Fahmi yang saya lihat, menggunakan bambu yang memang mereka buat sendiri untuk memasang poster tersebut. Selain tidak menganggu pohon, cara pemasangan seperti ini (yang memang lebih ribet) bisa dicopot dengan gampang begitu masa kampanye selesai.

Pada alasan ketiga itu jadi ketahuan siapa yang lebih peduli lingkungan dan kebersihan kota.

Ketiga alasan tersebut belum menyentuh lebih jauh tentang rekam jejak dan karakter calon bupati dan calon wakil bupati. Tentu saja sebelum benar-benar mencoblos yang bersangkutan pada pilkada nantinya, saya akan melakukan Google research.  Jika saya tidak sempat menuliskannya, mungkin Anda bisa melakukannya sendiri sebelum meyakinkan diri Anda untuk ikut mendukung pasangan independen dalam pilkada Kudus 2013 ini.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: