Cukup Dibalik, Senter pun Bisa Dipakai Untuk Telepon

12 Mei 2013 pukul 01:53 | Ditulis dalam Daily Prophet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Hapemu ki mbok diganti!

Kalimat di atas adalah kalimat kedua yang paling sering saya denger saat saya make Nokia 1280 saya. Mungkin menurut teman-teman saya, anak SD zaman sekarang pun ga bakal mau kalo dibeliin hape seperti itu. Nokia 1280 ini memang lebih tepat disebut sebagai senter yang bisa di-pake buat sms dan telepon. Pokoknya setan ora doyan demit ora ndulit. Oh ya, kalimat pertama yang paling sering saya dengar adalah “Kok megang teleponnya kebalik?“.

nokia 1280

Jelek-jelek begitu, Nokia 1280 itu dapetinnya susah. Kalo sekedar beli, hape itu mungkin cuma seharga uang yang dihabiskan dalam satu weekend di Jakarta. Hape itu adalah hadiah sebagai juara ketiga Random Hack of Kindness (RHoK) 2 – Jakarta yang saya raih bersama teman-teman. Sebagai lulusan Ilmu Komputer UGM, pernah juara dalam sebuah lomba yang melibatkan koding mengkoding itu sesuatu yang bisa Anda banggakan seumur hidup. Jadi, rasanya tiada salah kalo senter, eh hape ketinggalan zaman itu dengan bangga saya bawa petentang petenteng ke mana-mana.

Lagipula, hape itu memang khusus saya fungsikan sebagai telepon. Selain kalo sedang mati lampu di mana fungsi senternya menjadi lebih penting, hape itu memang saya khususkan untuk komunikasi dengan pacar. Urusan browsing, email, game, chatting, dan lainnya sudah diurus oleh smartphone saya. Jadi, buat apa juga saya bawa-bawa dua smartphone yang fungsinya kurang lebih sama. Dengan hape sejuta umat itu, hubungan pacaran saya selamat dari ujian LDR selama hampir setahun. Dilengkapi dengan paket telepon Akrab dari XL, hape itu sukses menjalankan tugasnya hanya dengan berbekal pulsa 50 ribu per tiga bulan. #BukanIklan.

Nah, entah kenapa sang desainer Nokia meletakkan speaker 1280 di bagian belakang layar, bukannya diatas layar seperti biasa. Walhasil, setiap kali menerima telepon, saya memegang hape tersebut secara kebalik. Bagian layarnya menghadap ke atas. Orang yang belum tahu akan segera mengambil kesimpulan bahwa hanya orang yang otaknya agak kebalik yang memegang telepon dengan cara seperti itu. Mereka akan menyeletuk, “Kok megang hapenya kebalik?” di tengah-tengah saya sedang menelepon. Biasanya akhirnya saya memberi kode dengan tangan, “Chill out, men.” dan kemudian menjelaskan kepada mereka setelah saya menelepon. Tentu saja biar penjelasan saya semakin mantab, lubang speaker yang ada di belakang itu saya sorongkan ke muka mereka.

Hape Nokia 1280 itu menyimpan kelebihan lain. Dalam dua kesempatan (di pasar Blok M dan di stasiun Gambir), pernah ada mas-mas yang minta sms kepada saya. Tanpa pikir panjang, saya pinjamkanlah 1280 saya itu dan kemudian saya bisa tetap tenang. Coba kalau saya cuma punya dua hape yang mahal. Setelah meminjamkan hape, pasti saya tidak tenang dan terus-terusan melirik mas-nya karena takut hape itu dibawa kabur. Tapi dengan hape murah tapi ga murahan itu, masnya senang sayanya tenang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: