Cantik Itu Luka

6 Juni 2013 pukul 01:47 | Ditulis dalam fiksi | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Jika kami bertengkar hebat, biasanya si Cantik akan langsung mengambil keputusan untuk meninggalkanku. Kemudian aku yang akan mengalah. Aku minta padanya untuk tidak pergi, semua bisa dibicarakan. Demi hubungan kita, kataku. Tapi menurutnya, “hubungan kita” itu sesuatu yang tidak pernah ada, itu hanya hal yang aku karang-karang sendiri. Dia tetap pergi dan aku akan bersedih.

Setelahnya aku akan ke kos Sendowo, sebuah kos di dekat kampus di mana teman-temanku sering berkumpul. Aku hanya akan menghabiskan waktu di sini kalau aku sedang tidak bersama dengan si Cantik. Mereka tahu itu dan mereka tetap menerimaku. Tetapi mereka tidak pernah sebaik itu untuk kemudian menghiburku dan membuatku melupakan si Cantik. Justru mereka akan terus menerus menyebut namanya, membuatku mengingatnya, termasuk semua senyum dan racunnya. Menaburkan garam di atas luka akan membuatnya cepat sembuh, begitu teori mereka.

Harus diakui mereka ada benarnya. Tapi masalahnya, hanya dalam beberapa hari, si Cantik biasanya sudah akan menyapaku. Lukaku tak pernah punya cukup waktu untuk kering.

cantik itu luka

Seperti saat itu, enam hari setelah kami bertengkar hebat dan dia pergi, si Cantik datang ke kosku pagi sekali. Dia membawa tas besar berisi pakaian dan barang-barangnya. Aku akan tinggal di sini mulai sekarang, katanya ringan. Dengan riang dan sambil bersenandung, si Cantik kemudian merapikan kamarku, lalu menata barang-barangnya diantara barang-barangku. Oh iya, kami bercinta sebelum itu. Aku hanya diam saja saat dia menyingkirkan barang-barangku untuk memberi tempat pada barang-barangnya. Tetapi melihatnya beraktivitas dengan hanya memakai kaos dan celana pendekku, membuatku ingin bercinta sekali lagi dengannya pagi itu.

Kemesraan seperti itu biasanya hanya berlangsung beberapa hari. Ah, bukan. Hanya beberapa jam mungkin, karena aku dan Cantik sangat sering bertengkar. Hal-hal kecil seperti makan di mana malam ini pun bisa memicu pertengkaran aku dan si Cantik. Yang jadi masalah bukanlah karena aku ingin makan di sini sedangkan si Cantik ingin makan di sana, kami justru bertengkar karena aku ingin si Cantik yang menentukan kami akan makan di mana sedangkan si Cantik menginginkan hal yang sebaliknya.

Pertengkaran yang lebih serius dari itu akan terjadi dalam beberapa hari. Seingatku, “masa damai” paling lama yang pernah terjadi adalah 11 hari. Rata-rata cuma sekitar tiga hari sampai seminggu. Dulu, topik pertengkaran kami hanya seputar hal-hal tentang aku dan dia. Topik pertengkaran-pertengkaran selanjutnya meluas tentang hal-hal seputar kehidupan kami, terutama tentang pria-pria lain dalam hidup si Cantik.

Seperti namanya, si Cantik memang cantik. Tuhan sedikit tidak adil kepada perempuan lain dengan memberikan si Cantik kecerdasan untuk melengkapi kecantikannya. Kombinasi itu membuat banyak laki-laki tertarik padanya. Aku termasuk yang paling beruntung karena si Cantik pernah mengucapkan kata sayang untukku, meskipun aku tak pernah tahu kebenaran dalam hatinya. Mungkin aku juga bisa dianggap sebagai yang paling sial, dengan rasa sayangnya itu aku menjadi merasa memilikinya dan harus selalu khawatir pada semua pria yang dekat padanya.

Dimas itu punya rasa buat kamu.“. Aku tahu ini akan memulai pertengkaran , tetapi aku harus mengatakannya, si Cantik sudah berungkali saling berkirim pesan singkat dengan Dimas ini. Tidak seperti banyak lelaki lain, langkah Dimas mendekati Cantik tidak surut meski si Cantik pernah mengatakan pada Dimas bagaimana dia menyayangiku.

Dimas itu sudah punya pacar.

Sudah punya pacar bukan berarti tidak bisa jatuh cinta lagi, kan?“, dia tidak akan bisa membantah hal ini. Aku sendiri mulai menyayangi si Cantik waktu aku masih punya pacar lain.

Tetapi dengan kepintarannya, dengan cepat si Cantik akan menemukan pembelaan lain. Intensitas dialog kemudian akan meningkat, memanas, sampai akhirnya menjadi teriakan-teriakan. Bagaimanapun aku ingin memiliki Cantik sepenuhnya dan seutuhnya, bibirnya, tubuhnya, dan hatinya. Sedangkan si Cantik menikmati menjadi pusat perhatian, menjadi pujaan, menggoda pria untuk menjadi taklukan. Menurutnya, tak apa kalau sekedar menggoda, toh hatinya itu milikku.

Seperti pertengkaran besar yang sudah-sudah, pertengkaran ini membuat si Cantik memutuskan agar kami berpisah saja. Dia bahkan kemudian menambahkan lewat pesan Facebook bahwa semua yang pernah terjadi di antara kami adalah sebuah kesalahan. Menurutnya, seharusnya sekarang kami sadar dan kembali ke hidup kami masing-masing.

Namun seperti perpisahan yang sudah-sudah, Cantik akan menemuiku kembali. Terkadang secara tak sengaja, seperti saat kami bertemu di toko buku. Atau seolah tak sengaja, seperti saat kami bertemu di warung fotokopi dekat kampusnya. Seringnya dia memintaku datang ke kosnya atau memintaku menjemputnya di kampus. Ah, kadang-kadang aku sendiri yang berinisiatif ke kosnya, setelah dia mengirim pesan rindu kepadaku. Dan selalu disambut hangat, seolah tak pernah terjadi apa-apa, kami berdua tak pernah benar-benar menginginkan perpisahan.

Satu hari, dalam satu masa kemesraan yang cukup panjang antara aku dan si Cantik, Dimas membenarkan separuh kecurigaanku dengan memutuskan hubungan dengan pacarnya. Aku bilang pada si Cantik, lihat itu, akui aku benar. Dia tidak ingin kalah atau dia memang tidak merasa kalah, aku tak tahu pasti, tapi Cantik benar-benar enggan membenarkanku. Aku marah, bagaimana bisa kamu tak melihatnya. Cantik balas marah, menurutnya aku mengada-ada selalu. Kami bertengkar lagi pagi itu.

Itu hanya pertengkaran kecil sampai Cantik mengatakan padaku bahwa dia akan pergi dengan Dimas siang itu. Aku tahu si Cantik melakukannya, sebagian karena ingin memprovokasiku. Kami terus bertengkar sampai Dimas menjemput Cantik dari kosku. Aku benar-benar marah. Sebelum Dimas menutup pintu mobilnya untuk Cantik, aku teriakkan pada si Cantik untuk tak usah kembali saja.

Dan aku sebenarnya masih marah saat Cantik datang pukul tujuh malam harinya dan memungut barang-barangnya yang aku lempar di depan pintu kosku. Tapi dia meredam marahku, dan juga mungkin sisa marahnya, dengan cumbuan. Kami kemudian bercinta malam itu. Sebelum tidur, si Cantik menceritakan padaku apa saja yang dilakukannya bersama Dimas siang sampai sore tadi. Aku sama sekali tak merasa marah, bukan gara-gara yang mereka lakukan toh hanya sekedar makan dan nonton saja, tapi lebih karena si Cantik ada dalam pelukanku malam itu. Aku tahu dengan jelas, hanya akulah yang pernah dan bisa memeluknya seperti itu.

Aku sudah hampir terlelap saat si Cantik berkata secara tiba-tiba, seperti baru saja teringat,

Mulai besok aku akan tinggal dengan Dimas.

Kemudian semuanya menjadi gelap. Yang aku tahu, aku harus melakukan sesuatu malam itu untuk memastikan si Cantik tetap bersamaku esok, sampai selamanya.

Jakarta, April-Mei 2013

Catatan : Cantik itu Luka adalah judul sebuah novel oleh Eka Kurniawan. Novel yang bagus dan menjadi salah satu favoritku. Tetapi cerita pendek ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan novel tersebut. Cerpen ini adalah penafsiran lain dariku atas frase “Cantik itu Luka”. 

Sumber Gambar : Minzuni’s DeviantArt.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: