How I Met Your Mother

29 Juni 2013 pukul 01:00 | Ditulis dalam Daily Prophet | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

Ada beragam cerita bagaimana seseorang bertemu dengan jodohnya. Temen sekantorku bertemu dengan istrinya pertama kali di bis, temen SMPku menjalin cinta sejak dari awal SMA hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai anak. Ada yang awalnya teman kuliah, ada yang awalnya temannya teman, ada yang memang bertemu untuk langsung menikah, tapi bagiku dan Wawa, kisah kami dimulai jauh sebelum kami bertemu, saat Wawa mencari kos di Jogja di tahun pertamanya kuliah.

Setelah beberapa bulan di Jogja, Wawa mencari kos yang lebih cocok untuknya. Entah karena takdir atau begitu adanya, Wawa memutuskan untuk memilih sebuah kos di kawasan Perum Swakarya di daerah Jalan Kaliurang. Aku sebut takdir, karena di kos inilah Wawa berkenalan dengan, bukan denganku yang jelas, karena tidak mungkin aku kos di kos wanita. Di kos ini, Wawa berkenalan dengan temen kosnya tentu saja, salah satunya kita sebut saja mBak Ade.

Aku sendiri mengenal mBak Ade sebagai “mantannya teman kuliah” dan “teman SMAnya teman kuliah”. Seingetku, walaupun aku dan mBak Ade ini sekampus, aku tidak pernah mengenalnya secara personal. Makanya, ketika mBak Ade meng-add aku di Fesbuk, requestnya aku biarkan mengedap selama beberapa minggu. Alasannya klasik, tidak terlalu kenal untuk di-accept tetapi tidak enak untuk meng-ignore-nya.

Sampai suatu saat, secara tidak sengaja aku me-like komentar mBak Ade ini pada status Fesbuk temen SMAnya yang sekaligus temen kuliahku itu tadi. Gara-gara komentar selanjutnya dari mBak Ade, kurang lebih isinya, “Chiell, jangan cuma like doang, accept friend request-nya!”, dengan terpaksa saya meng-approve friend request tersebut. Padahal sesungguhnya saya sendiri tidak sadar kapan saya me-like komentar mBak Ade sebelumnya. Mungkin itu terjadi secara tidak sengaja karena pada masa-masa itu, saya masih termasuk baru dalam menggunakan touchpad.

Beberapa bulan kemudian, mBak Ade ini maen ke Jakarta dan mengajak ketemu dengan teman-temannya yang di Jakarta, termasuk saya. Dalam sebuah pertemuan di Poins Square, Lebak Bulus itulah mBak Ade mengenalkanku pada Wawa. Dari tag foto yang di-upload di Fesbuk oleh mBak Ade setelah pertemuan tersebut, aku meng-add Wawa. Semuanya kemudian terjadi seperti yang terjadi pada semua pasangan, aku pedekate, kami beberapa kali jalan bareng, merasa cocok, dan kemudian jadian. Hingga sekarang aku dan Wawa berencana menikah tanggal 29 Juni nanti.

How I Don’t Meet Your Mother Yet?

Apa jadinya jika waktu itu tanganku tidak terpeleset, tidak me-like komen mBak Ade, dan tidak pernah meng-accept friend request-nya? Atau jauh sebelum itu, apa yang terjadi jika Wawa tidak memilih kos di tempat tersebut dan tidak pernah kenalan dengan mBak Ade? Kenapa aku dan Wawa bertemu di saat yang benar-benar tepat, saat aku dan Wawa memang sedang jomblo alias tidak berpasangan? Apakah ceritanya bakal punya akhir yang sama?

Ted Mosby dalam serial “How I Met Your Mother” sangat percaya akan adanya faith atau takdir. Dia percaya, suatu saat, dalam sebuah ketika yang seperti sebuah kebetulan, dia akan bertemu dengan gadis yang nantinya akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Pertemuan tersebut meski nampaknya merupakan sebuah kebetulan, tapi Ted sendiri percaya bahwa hal itu adalah sebuah grand design dari takdir itu untuk mempertemukan mereka.

Aku juga percaya dengan hal ini. Bahwa semuanya tidak terjadi karena kebetulan. Jodoh telah ditentukan semenjak aku belum lahir ketika tulang rusukku diambil satu untuk menciptakan jodohku. Karenanya, suatu saat di waktu yang tepat, aku akan dipertemukan dengan tulang rusuk tersebut.

Mungkin, jika mau berandai-andai dan berfantasi lebih jauh, mungkin saja sang Jodoh telah gagal mempertemukan aku dan Wawa saat kami sama-sama ada di kampus UGM. Kemudian, layaknya the Death dalam franchise film Final Destination, sang Jodoh sedikit melakukan perubahan pada grand design-nya. Membuat sebuah skenario ulang, untuk mempertemukan aku dan Wawa dalam saat yang lebih tepat. Kali ini dia berhasil….

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: