Pernikahan yang Sempurna

4 Juli 2013 pukul 11:30 | Ditulis dalam Daily Prophet | 1 Komentar
Tag: , , , , ,

Orang bilang, tidak ada sebuah resepsi pernikahan yang sempurna.

Akan selalu ada saja ada yang kurang sesuai menurut tamu undangan. Dalam satu pernikahan, bisa saja tamu undangan berpikir bahwa makanan yang disajikan tidak enak atau terlalu cepat habis. Dalam pernikahan yang lain, bisa jadi kostum kedua mempelai dianggap tidak serasi. Atau tamu undangan yang terlalu sepi, atau bahkan terlalu ramai sehingga ruangan menjadi penuh sesak dan panas. Hal sekecil penataan tempat duduk pun bisa dikomentari oleh tamu undangan yang hadir dalam suatu pesta pernikahan.

Kalau ada hal yang bisa dikomentari dalam pesta pernikahanku kemarin, mungkin adalah hujan dan penghulu yang telat datang.

Sejak dini hari sekitar jam3 pagi (aku nggak tidur pas jam segitu itu), hujan deras membasahi tanah Pangandaran. Hujan belum berhenti sampai aku bangun pagi harinya. Setelah agak reda pada jam-jam delapan sampai sekitar jam sepuluh, hujan kembali turun dengan lumayan deras setelah itu,  pada jam-jam seharusnya aku melakukan akad nikah. Seharusnya, karena seharusnya penghulu juga sudah siap pada jam10. Tapi karena aku dan Wawa adalah pasangan ketiga yang dinikahkan oleh sang penghulu pada hari itu, penghulu telat datang dan baru datang sekitar satu setengah jam kemudian.

Aku baru diresmikan menikah pada pukul 11.45. Keuntungannya, pada jam tersebut tamu banyak berkumpul. Tamu-tamu yang seharusnya datang terlambat kalau aku jadi nikah tepat waktu jadi bisa menyaksikan langsung acara akad nikahku.

Hujan deras kembali turun sore hari, membuat lokasi resepsi yang ada di halaman rumah, dialiri air yang lumayan deras. Tamu pun tidak terlalu banyak yang datang pada malam itu.

Sempurna bukan soal semua bagus di mata semua tamu. Sempurna adalah soal warna. Kalau yang datang bukan hujan, tapi panas terik, aku nggak yakin tamu akan betah dengan panasnya udara pantai di Pangandaran. Penghulu yang telat datang membuatku punya waktu meredakan deg-deg sebelum menghadap wali minta dinikahkan. Tamu yang tidak banyak datang malam harinya membuatku punya cukup waktu istirahat untuk malam pertamanya. (eh).

Lagipula, sempurnanya sebuah pernikahan bukan ditentukan hanya dari resepsinya saja. Resepsi hanyalah awal. Awal sebuah proses panjang bersatunya dua jalan anak manusia. Dua anak manusia itulah yang nanti akan menentukan sendiri sempurnanya proses tersebut. Tamu undangan hanya bisa berpartisipasi melalui doa yang mereka berikan pada resepsi pernikahan.

Karenanya, doa tersebut sangat kami hargai. Doa yang dikirim dari jauh, apalagi doa oleh teman-teman yang menyempatkan diri datang ke Pangandaran. Mulai dari empat sekawan yang nekat naik mobil sendiri dari DjoKja : Rifqi, Kiki, Tesar, dan Unding. Lalu ada Diaz, Adhit, Cius yang mengejar-ngejar bis terakhir ke Pangandaran di terminal Kampung Rambutan. Ryan yang melakukan uji coba pesawat Susi Air rute Pangandaran-Jakarta. Yang paling seru adalah teman-teman yang terjebak dalam total 35 jam kemacetan Jakarta-Pangandaran-Jakarta, Geng Jatis : Rizal, Yahman, Bobby, Diah, Sigit, Yola, Yuli, Dino, serta geng PCPB 2012 : Ina, Adi, Matt, Akrom, Zizi, Riza, Yana, Prana dan Nuki, ditambah Siddhi yang jauh-jauh dari Garut meskipun harus melewatkan acara jalan-jalan di Pangandaran. Terakhir ada teman-teman dari BCA Finance : koh Eddy Chandra, mBak Hanny, dan mBak Dewi.

Transaksi Online

Sebagai tambahan, secara tak langsung pernikahanku kemarin juga menjadi bukti bagaimana transaksi online bisa berjalan dengan aman dan memuaskan. Beberapa vendor ubarampe acara pernikahan kemarin aku dapatkan dari browsing internet yang bahkan tidak pernah bertemu sama sekali. Souvenir pernikahan kami (aku dan istri) pesan dari Kasongan, Bantul melalui Lakeisha Souvenir. Sejak proses pemilihan produk, pemesanan, pembayaran hingga pengiriman, kami sama sekali tidak pernah bertemu dengan pemilik Lakeisha Souvenir ini. Alhamdulillah souvenir nyampe dengan selamat dan sesuai dengan preview yang diberikan sebelumnya.

Begitu juga dengan fotografer untuk acara resepsi pernikahanku. Sebelum hari-H, kami dan mas-mas Daylight Photograph ini sama sekali tidak pernah bertemu. Kami booking melalui WhatsApp, bayar down payment, dan mas-mas baik hati dari Daylight ini datang sendiri ke Pangandaran pada malam sebelum hari H. Enaknya bersama Daylight, mereka banyak melakukan candid dan bisa kita minta foto sesuai dengan konsep yang kita inginkan.

Proses pesan undangan pun tak jauh berbeda. Berbekal hasil browsing di internet, kami hanya sekali datang ke tempat Aliyah Cards di Pondok Labu untuk nego harga. Hal-hal berikutnya seperti negosiasi desain, kami lakukan via email. Dengan mas Chandra yang sangat accomodating, bisa dibilang konsep yang kami inginkan benar-benar terwujud dalam undangan pernikahan.

Sekali lagi, terima kasih untuk semua keluarga, teman, dan segenap pihak untuk doa dalam sebuah resepsi pernikahan yang tidak sempurna yang semoga menjadi awal bagi pernikahan sempurna kami berdua.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. chill & wawa…. perjalanan yg cukup jauh utk sampai ke pangandaran terbayarkan setelah aku,boss eddy, dan dewi bisa hadir dipernikahan wawa dan chill yg sangat berbahagia pada saat itu. semoga wawa dan chill menjadi kel. yg sakinah, mawahdah dan marohmah. aminnnn


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: