Tiga untuk Kudus : Usulan untuk Bupati Kudus yang Baru

11 Juli 2013 pukul 11:30 | Ditulis dalam Daily Prophet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , ,

Dengan ditolaknya gugatan sengketa Pilkada Kudus oleh Mahkamah Konstitusi, selama lima tahun ke depan Kabupaten Kudus akan kembali dipimpin oleh Bupati sebelumnya, Musthofa. Menurut saya, dalam sebuah proses demokrasi, ketika sebuah keputusan telah diambil, semua pihak baik yang sebelumnya pro dan kontra seyogyanya mendukung keputusan tersebut. Karenanya, begitu pemerintah yang baru tapi lama ini terbentuk, yang bisa kita lakukan adalah mendukung pemerintahan ini sambil memberikan usul, saran atau pun juga kritik.

Menara Kudus

Menara Kudus sebagai Ikon Kota Kudus

Dalam hal ini, saya setidaknya mempunyai tiga ide yang mungkin bisa membantu kota Kudus berkembang menjadi lebih baik :

1. Kudus Mengajar

Program Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies Baswedan telah menginspirasi banyak orang. Tak hanya bagi siswa dan para Pengajar Muda-nya, Indonesia Mengajar juga telah menginspirasi berbagai macam kalangan untuk melakukan hal yang serupa demi peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Kenapa kualitas pendidikan bisa meningkat? Karena orang-orang yang lebih berkualitas mau meluangkan waktunya menjadi pengajar di daerah-daerah terpencil yang kurang diminati oleh guru biasa.

Tak usah jauh-jauh ke pulau terpencil atau perbatasan Malaysia, di beberapa daerah di Kudus pun saya yakin beberapa sekolah terutama sekolah swasta kekurangan guru yang berkualitas. Bukan bermaksud mengecilkan guru-guru di sekolah-sekolah tersebut, tetapi harus diakui bahwa di negara ini, sarjana-sarjana terbaik dengan kemampuan intelektual yang di atas rata-rata jarang memilih profesi pendidik di sekolah dasar dan menengah sebagai karir mereka.

Begitu juga di Kudus, tidak banyak kawan se-almamater SMA saya, yang notabenenya merupakan sekolah SMA terbaik di Kudus, yang memilih menjadi seorang guru. Tentu saja alasannya adalah karena profesi ini dianggap tidak memberikan kesejahteraan yang sepadan dengan kualitas intelektual mereka-mereka ini.

Karenanya, perlu ada program khusus untuk memberikan insentif yang memadai untuk mendorong putra-putra daerah terbaik Kudus untuk mau mengajar di beberapa desa dan daerah terpencil di Kudus seperti daerah pegunungan Muria atau di pelosok kecamatan Undaan termasuk di sekolah-sekolah swasta. Agar lebih mengena, harusnya penempatan guru-guru ini bukan merupakan penempatan sementara seperti Indonesia Mengajar, tetapi dalam jangka waktu yang menengah, mungkin sekitar 5 tahun. Walaupun jangka waktunya lama, toh daerah yang terpencil ini hitungannya masih dekat karena masih dalam wilayah kabupaten Kudus yang termasuk kecil. Seharusnya, dengan insentif yang memadai, guru-guru berkualitas ini tidak terlalu keberatan dengan jangka waktu yang cukup panjang ini.

Seleksi putra-putra terbaik Kudus, jadikan mereka guru di beberapa daerah terpencil di Kudus, beri mereka insentif yang lebih selama 5 tahun atau bahkan permanen, dan saya yakin, kualitas pendidikan di Kudus akan meningkat.

Dana dari mana? Saya yakin APBD Kudus masih mampu misalnya membiayai 20 orang tambahan ini setiap tahun. Kalau pun tidak ada, tarik saja dana-dana dari swasta yang melimpah itu. Takut akan adanya kecemburuan sosial dari guru lainnya? Persilakan saja mereka mengikuti seleksi. Insentif yang memadai itu terbuka bagi siapa saja yang berhasil lolos seleksi dan mau ditempatkan di daerah pedesaan. Bukan pilih kasih.

Program “Kudus Mengajar” ini sebenarnya lebih cocok dilakukan oleh pihak swasta. Sebenernya pengen juga menggarap program ini sendiri dengan minta bantuan sama teman-teman, tetapi apa daya, saya sendiri terdampar di belantara ibu kota.

2. Kampung Kretek

Selama ini, bidang industri wisata di Kudus bergantung pada keberadaan dua makam Walisongo yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Padahal julukan kota Kudus sebagai kota Kretek bisa menjadi modal tersendiri untuk meningkatkan pariwisata Kudus. Penggemar-penggemar Kretek di dunia, pastinya penasaran bagaimana sumber kenikmatan sepanjang sekitar 9 centimeter itu dibuat. Potensi ini semestinya dimanfaatkan oleh pemerintah Kabupaten Kudus, tak cukup hanya dengan Museum Kretek yang diam tak bercerita.

Bagaimana dengan sebuah Kampung Kretek? Ide ini sebenarnya berasal dari Ratih Kumala, penulis novel “Gadis Kretek” sekaligus kakak ipar saya. Pilih salah satu kampung tradisional di Kudus untuk ditata menjadi sebuah Kampung Kretek. Di Kampung inilah wisatawan bisa melihat budaya asli Kudus, misalnya dengan tinggal di sebuah rumah adat Kudus di mana di sekitarnya disediakan berbagai macam warung makanan asli Kudus : Soto Kudus, Garang Asem, Sate Kerbau, dan Lentog Kudus.

rumah adat kudus

Rumah Adat Kudus

Idealnya, Kampung Kretek ini berada di dekat pabrik rokok yang tersebar di berbagai wilayah Kudus. Dengan begitu, wisatawan bisa melihat langsung bagaimana ekonomi masyarakat Kudus digerakkan oleh buruh-buruh pabrik rokok yang begitu riuh saat masuk dan pulang kerja. Selain itu, wisatawan juga mempunyai akses untuk melihat secara langsung bagaimana rokok kretek dibuat, baik secara tradisional dan modern. Penting juga untuk menyediakan toko oleh-oleh dan pernak-pernik khas Kudus sebagai buah tangan para wisatawan saat pulang ke rumah.

Dana? Sekali lagi saya yakin APBD Kudus punya dana yang melimpah, meski mungkin masih kurang untuk ide Kampung Kretek ini. Tapi kita sedang bicara pariwisata yang berkaitan dengan sebuah industri besar. Salah satu perusahaan industri tersebut yang berada di Kudus, dimiliki oleh orang terkaya se-Indonesia. Jadi, asal pintar ngitik2 dan sedikit bersilat lidah, Kampung Kretek ini tidak sulit untuk diwujudkan.

Lokasi? Kalau saya sampai harus mikir lokasinya juga, ya mending saya saja yang jadi bupatinya.

3. Bulutangkis

Kalau Indonesia terakhir menjadi juara Piala Thomas pada tahun 2002, menurut saya Kudus ikut bertanggung jawab terhadap penurunan prestasi bulutangkis Indonesia tersebut. Kudus di masa lalu merupakan tempat lahir dan besar setidaknya dua legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King dan Hariyanto Arbi. Kini, meskipun masih banyak pemain-pemain nasional yang lahir dari Perkumpulan Bulutangkis Djarum (PB Djarum), sepertinya tidak satupun dari mereka merupakan putra asli Kudus.

Padahal di Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, telah berdiri dengan megah Pusat Pelatihan Bulutangkis Djarum sejak 2006. Di pusat pelatihan yang begitu megah ini, PB Djarum menempa calon-calon bintang olah raga bulutangkis alias wulu tamplek. Selain Pusat Pelatihan yang megah tersebut, di berbagai tempat di Kudus PB Djarum juga mempunyai fasilitas Gedung Olah Raga yang bisa digunakan sebagai tempat berlatih bulu tangkis.

Pada masa kepemimpinan bupati HM Tamzil, Kudus berhasil menjadi juara Divisi I Liga Indonesia melalui klub sepak bolanya, Persiku Kudus. Namun begitu, HM Tamzil lengser, prestasi Persiku Kudus tetap begitu-begitu saja hingga sekarang tetap berkutat di Divisi Utama.

Kalau ingin sebuah prestasi yang berkelanjutan dari bidang olah raga, mungkin Bupati bisa mengarahkan Kudus menjadi sebuah kota yang akrab dengan bulu tangkis. Populerkan olah raga wulu tamplek hingga ke pedesaan serta dengan membuat sebuah kompetisi mulai dari kelompok umur paling muda hingga ke dewasa. Sebagai kepala pemerintahan, tentu saja Bupati mempunyai kekuasaan untuk misalnya, mewajibkan sekolah dan desa mempunyai lapangan dan klub badminton.

gor jati djarum

Pusat Pelatihan Bulutangkis PB Djarum di Jati, Kudus

Saat ini memang sudah ada yang namanya Bupati Cup sebagai sebuah turnamen bulu tangkis untuk pelajar. Tetapi, satu turnamen setiap tahun tentunya tidak cukup untuk membangkitkan kembali prestasi bulu tangkis Indonesia. Hal-hal yang kecil dan berkelanjutan, perlu dilakukan untuk mengangkat nama Kudus melalui bulutangkis. Jika Kudus bisa terkenal akan prestasi bulu tangkisnya, orang akan mudah memaafkan prestasi Persiku Kudus yang begitu-begitu saja.

Ketiga program tersebut, adalah hal-hal yang menurut saya bisa membuat Kudus menjadi “berbeda”. Seperti yang telah saya ungkap dalam tulisan sebelumnya, Kudus mempunyai banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk tidak menjadi Kabupaten yang biasa saja. Penduduk yang relatif sedikit dan maju, luas wilayah yang tidak terlalu besar, banyak perusahaan berlevel nasional dan internasional, serta keunikan budaya yang lain daripada daerah lain adalah modal-modal untuk membangun Kudus dan masyarakat di dalamnya.

Jika diurus dengan benar, orang Indonesia akan lebih sering mendengar nama Kudus ketika tidak sedang berbicara tentang Soto.

Sumber Gambar :

Menara Kudus : Travel Pictures of Indonesia
Rumah Adat Kudus : IndoNetwork
Gor Jati, Kudus : PB Djarum.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: