Mamen dan Keadilan Tuhan

30 November 2013 pukul 12:27 | Ditulis dalam Daily Prophet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Di sosial media, sampai sekarang, saya masih memakai nama alay saya, mamen chiell. Nama yang saya pakai pas masih ABG untuk gaya-gayaan. Kata “mamen” sendiri berasal dari kata “pengamen” yang artinya manusia penga. Manusia penga adalah sejenis makhluk yang memperoleh penghasilan dari menjual suaranya.

Namun, jangan berpikir bahwa saya mempunyai suara yang sebagus manusia penga. Justru sebaliknya, disematkannya nama mamen pada saya justru sebenarnya telah mempermalukan dunia tarik suara karena saya mempunyai sebuah kelemahan besar : saya sama sekali tidak bisa menyanyi. Mmmm, sepertinya kalimat tersebut sedikit berlebihan. Istilah yang tepat bisa jadi adalah suara kaleng bekas yang dipukuli sembarangan lebih merdu daripada saya menyanyi.

Saya menyadari kelemahan besar ini sejak saya kelas 3 SD. Tentu saja saat itu saya masih sempat lugu. Dalam sebuah pelajaran menyanyi di kelas, guru saya menilai semua anak untuk menyanyi lagu berjudul “Burung Kuhilang”, eh, “Burung Kutilang“. Saya masih ingat dengan jelas komentar guru saya setelah saya selesai menyanyikan lagu itu, “Kok kamu nyanyinya ga bisa meliuk-liuk ya?”.

Sungguh suatu pernyataan yang sopan.

Sejak itu saya ingatkan diri saya selalu : Saya tidak bisa menyanyi. Apalagi ketika beranjak ke kelas  SD, saya disingkirkan dari grup koor upacara SD saya, padahal semua murid lain di kelas, ikut.

Tanjung Mas Ninggal Janji

Kejadian paling dramatis terjadi waktu saya SMA. Pas kelas tiga SMA, jam pelajaran Bahasa Indonesia kebetulan ada setelah Olahraga. Berhubung memang jam pelajaran tersebut rawan telat, maka guru Bahasa tersebut membuat kesepakatan dengan murid di kelas, yang telat harus nyanyi di depan kelas. Sialnya, dalam salah satu kesempatan, saya sukses telat.

Walhasil, sebagai hukuman, guru Bahasa tersebut memaksa saya nyanyi. Saya memohon dengan sangat kepada guru tersebut agar bisa diberi dispensasi terlepas dari hukuman. Bukan karena saya malu, tetapi saya kasihan dengan teman-teman kelas saya kalau harus mendengar saya menyanyi di depan kelas. Alasan tersebut ditolah mentah-mentah oleh sang guru Bahasa. “Banyak alasan kamu!”, katanya. Dan saya tetap disuruh menyanyi.

Lagu yang saya pilih adalah lagu “Tanjung Mas Ninggal Janji” oleh Didi Kempot, karena saya berpikir bahwa tidak banyak teman kelas saya yang tahu lagu tersebut maka mereka tidak tahu nadanya dan tidak tahu saya nyanyinya fals.

Tapi, apa pun lagunya, saya tidak akan bisa menyembunyikan fakta bahwa suara kaleng bekas lebih merdu dari suara saya.

Bebasan koyo ngenteni (pom pom pom)
Udan ing mongso ketigo…
Snadyan mung sedhilok, ora dadi ngopo
Penting biso, ngademke ati… (wow wow wow)

Belum sampai satu bait saya menyanyi, ganti guru saya yang memohon dengan sangat : meminta saya berhenti. Kasihan teman-teman saya, katanya. Karena guru saya sudah mencabut kata-katanya sebelumnya bahwa saya banyak alasan, saya memberi belas kasihan. Saya berhenti bernyanyi. Dan sejak saat itu, biarpun saya telat lagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia, guru saya dengan baik hati mengizinkan saya tetap masuk kelas tanpa harus menyanyi.

Keadilan Tuhan

Jika seorang penyanyi terkenal membutuhkan tiga aspek untuk bisa sukses, saya sebenarnya punya dua diantaranya. Suara saya lantang, bukti bahwa suara saya punya power yang kuat. Selain itu, saya juga gampang hapal lirik lagu, lagu berbahasa Inggris sekalipun. Sayangnya, itu tadi, range vocal saya, menurut mas Septo, salah satu kakak kelas di Ilmu Komputer UGM, paling banter hanya dari do sampe fa. Itu pun setelah berusaha keras. Dalam keadaan biasa, range vocal saya paling cuma dari do sampe do alias hanya satu nada.

Omong-omong, sebenarnya saya juga tidak bisa menyanyi dengan nada do. Saya cuma bisa menyanyi dengan satu nada, entah nada apa itu.

Mungkin itu adalah salah satu bukti adilnya Tuhan. Saya hanya dianugerahi dua dari tiga aspek seorang penyanyi bisa sukses. Kalau sampai misalnya Tuhan menganugerahi saya suara yang merdu, maka saya bakal bisa lebih sukses dari Fatin Shidqia. Kita semua tahu, Fatin pun hanya punya dua dari tiga anugrah tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: