Gombalan Kecil untuk Istri Saya

17 Oktober 2015 pukul 08:53 | Ditulis dalam Nggombal..!!! | 1 Komentar

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, bisa dibilang saya ini cukup jago dalam menggombal. Lagipula sebenarnya nggombal itu kan nggak susah-susah amat. Puja-puji sana sini yang nggak berlebihan plus strategi tarik ulur biasanya sudah cukup untuk membuat klepek-klepek. Sampai ada juga yang namanya Secondhand Serenade, gombalan second alias gombalan bekas. Jurus yang sudah terbukti ampuh buat satu cewek, biasanya manjur juga untuk nggombalin cewek selanjutnya.

Level selanjutnya untuk yang mengaku jago menggombal itu adalah menggombal pada istri. Soalnya, wanita yang satu ini sudah hidup bareng saya selama beberapa tahun. Dia sudah tahu semua jurus-jurus saya, bahkan saat saya baru memasang kuda-kuda. Butuh jurus gombalan yang lebih tinggi untuk bisa bikin istri tersipu.

Ini yang lagi saya coba, menggombal di depan umum melalui blog post.

Kata istri saya suatu kali, saya ini suka mengumbar mata ke mana-mana kalau lagi di tempat umum. Yang dia nggak tahu, seringkali ada cerita lucu yang berulang soal kelakuan saya ini. Terakhir kali kejadiannya minggu lalu pas nganterin anak renang.

Pas nemenin anak renang itu, mata saya sambil perhatiin pinggir kolam, siapa tahu ada mamah muda yang lucu. Bener saja, mata saya menangkap satu sosok mamah muda berjilbab yang terlihat manis. Pas diperhatiin, eh lahdalah, ternyata istri saya sendiri. Ini sering kejadian, salah satunya karena istri saya sedang memasuki fase mamah-muda-anak-baru-satu yang lagi lucu-lucunya.

Seiya Sekata, Sehidup Semati

Kalau ada yang bilang suami istri itu harus seia sekata, saya tak selalu percaya. Buktinya tempo hari, di dalam taksi, pas saya nyanyi Burung Kakatua, si istri malah nyanyi Topi Saya Bundar, yang mana nadanya memang sama persis. Saya nyanyi keras-keras, mencoba mengintimidasi biar si istri ketuker liriknya. Eh, dianya juga mbales.

Hasilnya menyanyilah kita keras-keras di dalam taksi, sementara di tengah-tengah, ada anak kecil yang ketawa-tawa. Saya juga ketawa-tawa abis itu, sambil menyadari bahwa hal-hal bodoh seperti inilah yang bikin saya yakin bahwa kami adalah kepingan yang pas saling melengkapi.

Kejadian bodoh lain, membuat saya percaya bahwa suami istri itu memang sehidup semati. Hari Minggu kemarin lampu kamar atas mati dan harus diganti. Masalahnya, lampu kamar itu menggantung pada kabel, bukan nempel di langit-langit. Jadinya, untuk ganti lampu nggak bisa pakai tongkat, emang harus dipanjat. Karena tak ada tangga, lemari adalah pilihan yang paling mungkin untuk dinaikin.

Memanjatlah saya ke lemari itu. Lewat samping setelah sebelumnya saya mematahkan salah satu rak. Maklum, itu lemari adalah lemari kayu lapis nan rapuh. Sampai di atas, ternyata lemarinya tak cukup tinggi. Sayanya tetep harus berdiri di atas lemari untuk menjangkau lampu. Sementara istri saya, bertugas memegang lemari agar tidak goyang.

Itu posisi di mana terlalu banyak point of failure. Saya di ketinggian, berdiri di atas lemari yang rapuh, mengganti lampu yang bergantung pada kabel listrik. Sementara istri saya ada di bawahnya. Kalau lah ada sesuatu, bisa jadi saya jatuh menimpa lemari dan istri saya.

Kami berdua tak memikirkan itu, sampai pada saat di mana saya gemeteran dan menular ke istri saya. Karena takut dan gemeteran, saya dan istri saya justru nggak bisa melakukan apa-apa selain ketawa-tawa. Padahal kalau lah ada apa-apa, bisa jadi sah sudah saya dan istri jadi pasangan sehidup semati.

Kelebihan lain istri saya adalah inisiatifnya yang luar biasa. Istri mana lagi yang membangunkan suaminya jam 1 malam hanya untuk ngajakin  melakukan…

Eh, nggak jadi ding. Cerita yang satu itu biar untuk konsumsi saya dan istri berdua saja.

Tapi jujur, tak ada manusia yang sempurna. Termasuk juga istri saya. Kalau lah boleh jujur mengungkapkan, teh buatan istri saya tak seenak buatan ibu dan mertua saya. Kadang-kadang rasanya seperti larutan gula dengan sedikit rasa teh, kadang-kadang malah tehnya kebanyakan tanpa rasa manis yang terkecap. Dalam diam, setiap pagi sebenarnya saya berharap yang membuat teh adalah mertua saya, bukan istri saya.

Sayang, sungguh kamu harus belajar membuat teh kepada mamahmu.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hahaha dasar mas chiel!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: