Muka Orang Susah – 3 (Semoga Terakhir)

23 Juli 2016 pukul 07:27 | Ditulis dalam Daily Prophet | Tinggalkan komentar

Setelah menulis dua tulisan dengan judul “Muka Orang Susah” (dapat dibaca di sini dan di sini), saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menulis tulisan ketiga dengan judul yang sama. Tetapi mungkin memang ada hal-hal yang tidak berubah seiring dengan berjalannya waktu. Termasuk wajah saya yang dengan gampang dapat diasosiasikan sebagai Muka Orang Susah.

Satu kejadian telah lewat dua tahun, dalam sebuah perjalanan dinas ke Banyuwangi. Saya menginap di hotel Santika Banyuwangi. Hotel tersebut sebenarnya belum dibuka, namun karena waktu itu ada soft opening dalam rangka pernikahan, saya bisa dapat kamar juga di hotel itu. Jadilah saya menginap di hotel yang sebenarnya belum selesai 100%.

Kejadiannya Minggu sore, saya terbangun dari tidur siang untuk menikmati pemandangan selat Bali berserta pulaunya yang terlihat dari jendela kamar. Pas melihat keadaan sekeliling, terlihat ada laundry persis di samping hotel. Daripada bawa cucian kotor ke rumah, mending laundry aja di sini, pikir saya.

Bangun tidur, dengan kaos dan celana tiga perempat datang lah saya ke laundry itu. Disambut mas-mas yang luar biasa ramah sampai saya sempat khawatir bakal digodain. Kami terlibat obrolan yang lumayan rame tentang ini itu. Sampai mas-nya nanya,

Lagi ngerjain apa mas di hotel?

Sumpret. Jadi selama ngobrol tadi mas-nya mengira saya semacam tukang bangunan, tukang AC, tukang ledeng, atau sejenisnya di hotel itu.

Pas ngambil laundry yang udah jadi, saya hanya berinteraksi seadanya sama mas-nya. Setengah kesel, setengah takut digodain.

Kejadian kedua terjadi tak berapa lama yang lalu. Sepulang kerja, masih menggunakan kemeja batik, saya mengantar anak ke pasar malam yang memang ada tiap hari Selasa di deket rumah. Anak saya lumayan hobi naik odong-odong. Sebuah kebahagiaan tersendiri bisa nyenengin anak cuma dengan naik odong-odong.

Saya nemenin di depan odong-odong-nya. Sampai ada ibu-ibu ngomong,

“Mas, anak saya naik dong.”.

Anaknya cowok, mungkin sekitar 4 tahun, jadi lumayan berat. Saya berinisiatif membantu ibu-ibu itu untuk menggendong anaknya odong-odong. Ibunya berterima kasih.

Tak seberapa lama istri saya manggil.

“Sayang, turunin Bintang.”

Ibu tadi terlihat kaget dan kemudian mengeluarkan kalimat yang bikin nyesek.

“Eh, bukan ya? Maaf ya.”, kata ibunya, sepertinya agak menyesal.

Sungguh itu sebuah kalimat yang tidak perlu. Kalau saja ibunya berhenti pada kata terima kasih, saya akan mengerti bahwa ibunya minta bantuan untuk menaikkan anaknya ke odong-odong. Tetapi kata maaf adalah pengakuan bahwa ibunya sebelumnya mengira bahwa saya tukang odong-odong. Entah dari mana ibunya berpikir ada tukang odong-odong yang pake kemeja batik. Entahlah, mungkin karena gelap.

Istri saya ketawa ngakak melihat langsung kejadian itu. Ah, anak senang istri senang, saya pun terpaksa ikut bahagia.

Tetapi dari semua kejadian yang pernah terjadi, saya heran karena sampai saat ini, belum ada yang mengira saya tukang ojek. Padahal itu profesi yang cukup umum untuk disalahartikan. Mungkin keheranan tersebut berubah menjadi doa pada Ramadhan kemarin.

Setelah berbelanja keperluan lebaran di Carrefour Lebak Bulus, istri saya bersama belanjaan pulang naik taksi sedangkan saya naik motor. Baru saja keluar dari parkiran, ada seorang ibu-ibu dan anak kecil mencegat dan bertanya:

“Mas, ojek bukan?”.

Saya nggak tahu salahnya di mana. Setahu saya biasanya tukang ojek hanya nganter penumpangnya sampai depan, nggak ada yang masuk parkiran.

“Bukan, Bu.”.

Saya masih di situ karena nunggu taksi istri lewat.

“Nyari ojek di mana ya?”. Ibunya nanya.

“Itu di depan bukan?”.

“Bukan katanya.”

Ibunya tetep ngotot.

“Mas, mau nganter ke Pasar Minggu nggak?”.

Buset. Puasa-puasa, siang-siang, ngapain juga saya ngojek jauh-jauh ke Pasar Minggu. Tapi karena kasihan juga sama ibunya, saya tawarin bantuan juga.

“Saya anter ke tempat nunggu bus deh, Bu.”

“Ya udah nggak apa-apa, kalau nggak anterin ke tempat ojek aja.”

Akhirnya, saya nganterin ibunya ke tempat ojek. Ibunya ternyata baru nganter anak yang dibawanya itu ke acara “Belanja bersama Yatim”-nya Carrefour kerja sama dengan PKPU. Anak yang dibawanya adalah salah satu asuhannya bersama 30an orang lainnya yang ditinggal di rumah. Makanya ibunya buru-buru mau pulang.

Saya cuma nganter ibunya ke Pasar Jumat, ibunya dari situ naik ojek beneran. Kalau dipikir-pikir dari Pasar Jumat ke Pasar Minggu kan deket, cuma tinggal ngelewatin Pasar Sabtu aja.

Pas turun, ibunya masih nanya, “Bayar nggak, mas?”.

Muka saya emang kayaknya melas banget ya.

Sampai-sampai halaman Official Fan Page-nya Prudential Indonesia pernah memajang foto profil saya sebagai ilustrasi sebuah artikel yang mereka bagikan. Mereka berbaik hati untuk mencantumkan sumber foto itu, blog saya. Namun, entah dengan pertimbangan apa, mereka terlebih dahulu meng-crop muka saya. Hasilnya, hanya tangan dan buku saya yang muncul.

Andi Mif - OJK

Jangan berharap ada hikmah atas kejadian-kejadian tersebut dalam tulisan ketiga ini. Bodo.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: