Tenggelam dalam Negeri Lima Menara
1 Desember 2009 at 11:17 pm | In Sharing | Leave a Comment“Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya, adalah hati orang sukses.”
Ustadz Salman, Negeri 5 Menara, halaman 108.
Ya, sebenarnya suasana hati kita, kita sendirilah yang menentukannya. Mau senang, sedih, gembira, kecewa, marah, gelisah, kita bisa memilihnya. Kita adalah penguasa bagi diri kita sendiri. Tidak seharusnya kekuasaan mutlak tersebut kita serahkan begitu saja kepada orang lain. Kepada pihak luar yang sama sekali tidak berhak.
Sesungguhnya, jika kita kesal, marah, dan kecewa karena pengaruh dari luar, karena intimidasi dari orang lain atau karena perlakuan makhluk lain kepada kita, kita menyia-nyiakan waktu dan energi kita. Mereka boleh melakukan apa saja, tapi kita bisa tetap berlapang dada dan tersenyum. Karena semua itu cuma gangguan sementara, bahkan kita bisa belajar dari hal tersebut.
Itulah salah satu hal yang aku pelajari dari buku Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi. Novel yang bercerita tentang kehidupan di pondok pesantren itu sebenarnya mengangkat sebuah tema utama “Man Jadda Wajada”. Mantra berbahasa Arab itu artinya kurang lebih, “siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil”. Sepanjang buku ini diajarkan bahwa semua mimpi akan bisa menjadi nyata, asal kita mau berusaha. Continue reading Tenggelam dalam Negeri Lima Menara…
Breakeven
6 November 2009 at 8:47 pm | In Nggombal..!!! | 4 CommentsI’m still alive but I’m barely breathing,
Just prayed to a god that I don’t believe in,
‘Coz I got time while she got freedom,
‘Coz when a heart breaks no it don’t break even.
Yeah, sekarang ak memang masih hidup. Tapi untuk bisa bernafas aja susah. Apalagi bisa melangkah. Kemana pun aku pergi, semua hal yang aku lihat masih mengingatkanku tentang dirinya. Sekarang, ketika dia sudah bebas melangkah kemanapun, aku punya waktu untuk memikirkan semuanya. Memikirkan tentang diriku, tentang hatiku. Walapun aku patah hati, setidaknya hati yang asli tidak benar-benar patah.
Her best days will be some of my worst,
She finally met a man that’s gonna put her first,
While I’m wide awake, she’s no trouble sleeping,
‘Coz when a heart breaks no it don’t break even, even no.
Setelah ini, dia akan melalui hari-hari yang indah. Dengan seseorang baru yang sudah dia temukan. Yang menurutnya lebih baik daripada aku. Yang menurutnya, bisa menjaganya lebih baik daripada aku. Sementara aku di sini, di sudut gelapku, melalui hari-hari terberat dalam hidupku. Saat aku melalui malam-malamku dengan terjaga tanpa bisa memejamkan mata, dia telah memimpikan orang lain. Yap, meskipun aku patah hati, sayangnya hatiku yang asli tidak benar-benar patah.
What am I supposed to do when the best part of me was always you
What am I supposed to say when I’m all choked up and you’re ok
I’m falling to pieces
I’m falling to pieces
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Ketika bagian terbaik dari hidupku adalah tentang dirinya. Ketika aku tercekat dan dia baik-baik saja. Aku terjatuh menjadi kepingan.
They say bad things happen for a reason
But no wise words gonna stop the bleeding
‘Coz she’s moved on while I’m still grieving
And when a heart breaks no it don’t break even, even no.
Katanya, semua ini gara-gara aku. Gara-gara kesalahanku. Gara-gara semua sikap kasarku dan tingkahku yang tidak mau mengertinya. Apa pun yang dia katakan, aku tetap terluka. Hatiku tersayat. Dia sudah bisa pergi dengan orang lain sementara aku berusaha merayap, merangkap mencari cahayanya. Dan tentu saja, ketika aku patah hati, hati ini tidak benar-benar patah. Semua ini tidak pernah adil…
What am I supposed to do when the best part of me was always you
What am I supposed to say when I’m all choked up and you’re ok
I’m falling to pieces, yeah
I’m falling to pieces, yeah
I’m falling to pieces, (One still in love while the other one’s leaving)
I’m falling to pieces, (‘Coz when a heart breaks no it don’t break even)
Apa yang harus lakukan ketika semua alasanku adalah dia. Ketika dia adalah hari terindah dalam hidupku. Cahaya yang menerangi langkahku. Namun, apa yang bisa aku katakan ketika aku hancur dan dia baik-baik saja menjalani hidup barunya dengan orang lain. Aku berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan waktu yang menyakitiku. Menjadikannya sebuah melodi lagu sendu, menyanyikannya dalam gelapku..
You got his heart and my heart and none of the pain,
You took your suitcase, I took the blame.
Now I’m tryna make sense of what little remains, oh.
‘Coz you left me with no love, with no love to my name.
Kamu mendapatkan semuanya. Hatiku, hatinya, dan kamu tidak terluka sama sekali. Kamu melangkah pergi, dan aku yang menanggung semua sakitnya, perihnya, dan kehancuran. Sekarang semua yang tersisa cuma secuil akal sehat. Karena kau telah meninggalkanku tanpa cinta, tanpa sedikitpun cinta yang kamu tinggalkan untukku.
I’m still alive but I’m barely breathing,
Just prayed to a god that I don’t believe in,
‘Coz I got time while she got freedom,
‘Coz when a heart breaks no it don’t break, no it don’t break, no it don’t break even no.
Aku masih hidup, namun untuk bernafas pun susah. Apalagi untuk melangkah. Aku hanya bisa berharap mampu kembali berdiri dan berlari kembali. Toh, dia pun sudah pergi. Meninggalkan untuk bersama dengan yang lain. Yeah, aku memang patah hati. Aku memang terluka. Semuanya terasa tidak adil. Tidak setimpal.
What am I supposed to do when the best part of me was always you
What am I supposed to say when I’m all choked up and you’re ok
I’m falling to pieces, yeah
I’m falling to pieces, yeah
I’m falling to pieces, (One still in love while the other one’s leaving)
I’m falling to pieces, (‘Coz when a heart breaks no it don’t break even)
Apalagi yang bisa ak lakukan. Selama ini hidupku adalah kamu. Segala yang terindah dalam hidupku adalah dari dan untuk kamu. Apa lagi yang bisa aku katakan, kamu udah pergi dengan orang lain. Meninggalkan menjadi kepingan-kepingan di jalanan..
Aku menjadi kepingan.
Ketika yang satu masih mencintai, yang lain pergi dengan orang lain.
Oh, it don’t break even, no
Oh, it don’t break even, no
Oh, It don’t break even, no
Semua terasa tidak adil. Tidak pernah adil…..
Breakeven — The Script
Tangga ke Bulan
2 November 2009 at 7:11 am | In Yeah. I'm Geek. So?? | 1 CommentSial..
Aku nulis ini jam 6.30 pagi waktu komputerku. Di saat aku tengah belajar secara terburu-buru untuk ujian jam 7.30 ini. UJian mid semester mata kuliah Grafika Komputer. Sebuah mata kuliah yang menurutku, sangat “Ilmu Komputer”. Jadi, saat mencoba menghitung ukuran minimal RAM Screen untuk sebuah monitor, aku jadi teringat sebuah guyonan matematika lama yang pernah aku dengar pas zaman SMA.
Jadi sebenarnya gini, jika kita mampu melibat sebuah kertas sampai 40 kali, kita akan bisa mendapatkan sebuah tangga ke bulan. Benarkah?? Kali ini, percayalah padaku…
How do We Live Before Google??
31 Oktober 2009 at 10:50 pm | In Yeah. I'm Geek. So?? | 2 CommentsAda yang inget bagaimana cara kita hidup sebelum adanya Google?? Bagaimana waktu itu kita bisa bertahan hidup tanpa bantuan Google?? Aku bahkan ga ingat masa-masa kelam dan penuh kebodohan itu. Yang jelas sekarang, kita benar-benar ga bisa hidup tanpa Google..
Google adalah sasaran kita pertama saat mencari informasi di internet. Ato, kalo boleh aku katakan secara lebih ekstrim, Google adalah sasaran pertama saat kita berinternet. Ga terhitung jumlah komputer dan browsernya(selain Chrome tentu saja), yang menjadikan Google sebagai homepagenya. Ato setidaknya, toolbar pencarian dengan Google, ada di pojok kanan atas di hampir semua browser eksis saat ini. Memanfaatkan Google??
Cinta, Monyet!!
11 Oktober 2009 at 8:08 pm | In Nggombal..!!! | 3 CommentsMungkin tulisan ini mirip dengan tulisan “Cinta Brontosaurus”-nya Raditya Dika. Karena aku memang merasakan dan memikirkan hal yang sama dengan dia. Mungkin suatu saat aku bakal menyesal karena pikiranku telah diracuni dengan pemikiran orang yang sedikit kurang waras seperti dia. Tapi biarlah, toh ketidakwarasan juga salah satu yang bikin hidup menjadi menyenangkan…
Aku inget pertama kali aku jatuh cinta monyet. Pas zaman aku kelas 1 SD. Jujur waktu itu aku masih belum bisa buang ingus sendiri. Nama cewek kurang beruntung itu Bondan, aku lupa lengkapnya. Seorang cewek hitam manis dengan rambut yang sering berkepang. Waktu itu, aku inget aku pernah buat surat cinta monyet untuknya. Surat itu aku tulis, yang meskipun sekarang aku ga akan marah kalo ada yg bilang kalo surat itu aku gambar secara abstrak.
Aku inget satu kalimat di surat cinta monyet itu yang dengan jelas terpengaruh dengan semua sinetron dan telenovela Meksiko yang jadi tontonanku waktu itu. Dan waktu bulekku baca surat cinta monyet itu setelah merampasnya dariku, dia tertawa-tawa dan memamerkannya kepada seluruh keluarga besarku.
Surat itu ga penting. Bahkan aku udah lupa apakah surat cinta monyet itu akhirnya serahkan ato ga. Yang penting adalah bagian cinta monyetnya. Cinta-nya ato Monyet-nya??
Waktu yang Tepat tuk Berpisah..
12 September 2009 at 4:43 am | In Nggombal..!!! | 1 CommentDan bila kau harus pergi
Jauh dan tak’kan kembali
Ku akan merelakanmu bila kau bahagia selamanya di sana
walau tanpaku
Ku akan mengerti cinta dengan semua yang terjadi
Pastikan saja langkahmu tetap berarti
Bisakah aku tanpamu ??
sanggupkah aku tanpamu ??
Sehangat pelukan hujan, saat kau lambaikan tangan
Tenang wajahmu berbisik inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisah
Selembut belaian badai saat kau palingkan arah
Jejak langkahmu terbaca inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisah
Ku akan pahami cinta
Dengan apa yang terjadi
Pastikan saja mimpimu tetap berarti
Aku tak pernah mengharap kau ‘tuk kembali saat kau temukan duniamu
Aku tak pernah menunggu kau ‘tuk kembali saat bahagia mahkotamu
bila kedamaian s’limutmu, jangan kau kembali…
Dan, untuk pertama kalinya dalam sekitar 3tahun ini, aku sendiri. Justru di saat aku merasa paling membutuhkan teman untuk melangkah..
Susahnya Minta Maaf
10 September 2009 at 4:36 am | In Nggombal..!!!, hanya di Indonesia | 4 CommentsAkhirnya aku berhasil nulis lagi. Sebenarnya kemarin sempat terpikir untuk mengakhiri hidupku sebagai mamen chiell. Termasuk salah satunya dengan berhenti menulis di blog ini. Bahkan aku sudah menulis sebuah epilog untuk perpisahan blog ini.
Tapi semua itu aku urungkan. Jelas sekali sosok mamen chiell adalah sebuah alter ego penting dalam hidupku. Tanpa sosok mamen chiell yang keras kepala dan sombong mungkin aku ga bisa bertahan sejauh ini. mamen chiell adalah sebuah topeng yang aku butuhkan untuk melindungi sosok alter egoku yang lain. Atau mungkin justru mamen chiell adalah sosok asliku yang berusaha menguasai seluruh kepribadianku. Entahlah. Yang jelas aku butuh semua sisi negatif mamen chiell untuk bisa tetap berdiri ketika separuh dunia seolah-olah berkonspirasi untuk menjatuhkanku..
OKeh. Sekarang kembali ke topik. Susahnya minta maaf. Susah gimana??
Butterfly Effect
12 Agustus 2009 at 9:43 pm | In Blogroll, Nggombal..!!! | 1 CommentTags: cinta, Lucky
Coba ingat2.. Ada ga satu kejadian kecil, mungkin suatu kesalahan kecil di masa lalu, yang akhirnya mengubah keseluruhan jalan hidup kita. Mungkin kita tidak memperhatikan. Tapi satu kesalahan kecil di masa lalu, bisa benar-benar merubah keseluruhan jalan hidup kita ke depannya.
Ini namanya hukum Butterfly Effect. Dalam hukum ini dikatakan bahwa kepakan sayap seekor kupu-kupu kecil di China, entah bagaimana bisa menyebabkan badai di Amerika. Kepakan sayap seekor kupu-kupu yang hanya lemah saja, ternyata menyebabkan perubahan pada atmosfir. Dan efek berantai sekaligus dominonya, menyebabkan badai di belahan bumi lain.
Ini bukan cuma teori omong kosong. Aku benar-benar merasakannya. Merasakan kepakan kupu-kupunya
Semester Sembilan
10 Agustus 2009 at 9:16 pm | In Daily Prophet, Himakom | Leave a CommentTags: Ilmu Komputer, UGM
Tak terasa, tadi aku menuliskan “sembilan” di titik-titik di belakang tulisan Semester pada Kartu Rencana Studi yang baru. Sembilan. Artinya udah 4 tahun aku kuliah di sini dan sekarang minimal aku masih setengah tahun lagi kuliah di Ilmu Komputer Uniiverstas Gadjah Mada.
Memangnya ada yang spesial dengan angka 9? Angka sembilan memang selalu terasa spesial. Jelas karena dia adalah angka yang paling besar. Tapi ini lain. Karena kuliah S1, cuma menjadwalkan mahasiswanya untuk kuliah sampai semester 8. Kalo sampe sekarang aku masih di sini jelas aku punya pembenaran untuk itu. Sembilan??
The Reason
4 Agustus 2009 at 3:48 am | In Nggombal..!!! | Leave a CommentTags: cinta, Lucky
Kalo ada lagu manca yang paling aku suka, jelas lagu itu adalah lagu The Reason milik Hoobastank. Alasannya jelas. Karena lagu itu cocok banget dengan keseluruhan hidupku. Satu hal yang selalu aku ketahuin adalah, aku selalu butuh alasan yang tepat untuk melakukan sesuatu. Alasan. The Reason.
Namun, aku ga pernah begitu menjiwai lagu ini seperti hari ini. Lagu itu begitu terasa. Begitu menusuk. Aku ingin menyanyikannya keras-keras biar semua orang tahu.
I’m not a perfect person
There’s many thing i wish i didn’t do
but i continuing learning
i never meant to do those things to you
Kamu tahu aku sama sekali bukan seseorang yang sempurna. Banyak hal yang sebenarnya aku pengen lakukan. Terutama aku ingin melakukannya bersamamu dan untukmu. Dan yang terpenting, aku ingin belajar tentang hidup dengan kamu sebagai tentornya. Lanjutkan gombalannya…!!
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

