Jogja Tak Pernah Sesepi Ini
5 Maret 2012 pada 1:51 pm | Ditulis dalam fiksi, Sharing | 6 KomentarAkhirnya, Jogja. Tanpa harus membaca tulisan apapun, aku langsung mengenali stasiun ini. Stasiun Tugu. Kereta merapat pelan kemudian berhenti. Orang-orang bergegas menuruni kereta. Beberapa tampak sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga mereka setelah dalam sekian waktu ditinggal pergi merantau ke Jakarta. Beberapa yang lain tampak santai. Dua orang muda-mudi di depanku juga beranjak. Dengan lagak Jakartanya mereka bersiap-siap menikmati keramahan Jogja.
Aku sendiri males-malesan. Ngantuk. Bapak yang duduk disebelahku terus-terusan mengajak ngobrol sepanjang malam. Bercerita tentang anaknya yang paling kecil yang lagi lucu-lucunya. Sementara kakaknya akan segera masuk SD. Dia sendiri cuma ketemu mereka tiap kali weekend. Dia kerja di Jakarta, keluarganya tinggal di rumah mereka di Jogja. Aduh, si Bapak tidak mengerti, aku ingin sendiri malam tadi. Menikmati gelap di balik jendela dalam kereta yang mengantarku ke Jogja.
Melangkahkan kaki ke luar stasiun, Bapak-Bapak ojek menghampiri. Lucu. Sekarang mereka yang menyambutku. Aku menjawab pada salah satu Bapak. Menyebut nama suatu tempat, dimana aku sudah sering menginap. Dia menyebut harga. Aku menawar. Sampai dia menyerah pada satu harga yang aku sebutkan.
Bapak ini bertanya sepanjang perjalanan. Dari Jakartakah aku, kenapa sendiri saja, ngapain aku ke Jogja. Tentu saja aku jawab aku sedang berlibur di Jogja. Aku berbohong pada Bapak ini. Sebagaimana aku berbohong pada diriku sendiri, ya aku sedang berlibur. Aku sedang berlibur. Tetapi seperti diriku sendiri, Bapak ini juga tak percaya aku sedang berlibur. Berlibur kok sendirian, tanyanya. Aku memang lagi ingin sendirian, jawabku. Bapak itu lalu menyakinkan aku bahwa aku tak kan sendirian di sini, di kota ini. Di Jogja, aku akan selalu menemukan teman, katanya.
Bapak ojek itu jelas salah karena tak sampai 10 menit kemudian, nyatanya aku sendirian di kamar sebuah penginapan. Aku ngantuk, tapi tidak berani merebahkan diri di kasur. Aku takut terlelap dan terlambat untuk acara hari ini. Aku memilih segera mandi dan berdandan rapi. Aku harus tampak segar. Tampak ceria. Di depan cermin, aku berlatih tersenyum. Gurat-gurat lelah aku coba sembunyikan dengan senyum termanis. Semakin aku mencoba, justru malah alur kesedihan di sudut mataku makin tampak. Aku masih mencoba, sampai aku temukan salah satu yang menurutku paling pas. Ah, semoga tidak ada yang menyadari sudut sedih itu.
Kemeja rapi, rambut basah dan topeng senyum yang aku siapkan. Yap, aku siap untuk hari ini. Lanjutkan Membaca Jogja Tak Pernah Sesepi Ini…
Mengoptimalkan Pendapatan Mengamen Anda
2 Maret 2012 pada 7:54 am | Ditulis dalam Sharing, Yeah. I'm Geek. So?? | Tinggalkan KomentarKaitkata: bis kota, Jakarta, pengamen, sains manajemen, tips
Seberapa banyak pengamen yang Anda lihat dalam satu perjalanan Anda dalam bis kota di Jakarta ? Satu, dua, tiga sampai lima?
Kebanyakan pengamen itu akan datang berurutan saat bis masih berada terminal atau beberapa tempat ngetem lain dalam rute bis tersebut. Seringkali, pengamen-pengamen itu antre menunggu waktu manggung di bis karena saat dia datang, sudah ada pengamen lain yang sedang tampil.
Secara sederhana Anda akan bisa membayangkan, saat pengamen yang pertama selesai tampil, receh dari para penumpang, kebanyakan akan sudah berpindah ke tangan pengamen pertama. Saat pengamen kedua tampil, masih adakah banyak receh tersisa untuknya? Sepertinya tidak. Kecuali dia tampil dengan sangat menawan, sepertinya dia tidak akan mendapatkan banyak uang.
Jadi, kalau Anda menjadi pengamen, terpikirkah Anda bagaimana caranya mengoptimalkan pendapatan Anda? Mungkin memang terdengar remeh, tapi saya selalu merasa kalau semua profesi, bahkan termasuk pengamen (saya juga memikirkan tentang sopir angkot), bisa memanfaatkan beberapa ilmu marketing dan sains manajemen untuk mengoptimalkan pendapatannya. Dengan beberapa usaha sederhana, pengamen akan bisa mendapatkan lebih dari biasanya, atau katakanlah pengamen lain. Setidaknya, dia tidak akan repot2 menyanyi dan mengeluarkan bekas bungkus chiki-nya, jika dia tidak yakin akan mendapatkan pemasukan yang lumayan.
Tips pertama, mungkin seperti yang sudah saya bicarakan tadi, jangan mengamen pada bis yang sama, tepat setelah pengamen lain. Kenapa? Karena receh dari penumpang kebanyakan akan sudah keluar untuk pengamen sebelum Anda. Sebenernya, Anda masih bisa berharap bahwa alih-alih receh, penumpang bis kota akan memberi Anda uang kertas, yang berarti nominalnya minimal 1000 Rupiah. Tapi ini hanya akan terjadi jika penampilan Anda benar-benar menawan. Jadi ingat ini, jika Anda tidak bisa menampilkan pertunjukkan yang benar-benar lumayan, jangan tampil tepat setelah pengamen lain. Lanjutkan Membaca Mengoptimalkan Pendapatan Mengamen Anda…
Tantangan Green Canyon
3 Februari 2012 pada 4:45 am | Ditulis dalam Sharing | Tinggalkan KomentarKaitkata: green canyon, Pangandaran, tempat wisata, waterpark
Jika Anda sudah bosan dengan waterboom atau waterpark buatan yang “gitu-gitu aja“, ada baiknya Anda merencanakan liburan berikut ke waterpark alami, Green Canyon di Pangandaran. Di jamin, Anda akan segera berpikiran kalo waterpark yang ada di kota Anda, berada pada level cupu dan Anda akan tertantang untuk menaklukkan Green Canyon sekali lagi.
Green Canyon, seolah-olah mengambil namanya dari plesetan dari nama Grand Canyon, Arizona yang sudah mendunia. Tetapi sebenarnya, nama Green Canyon di ambil dari warna air sungainya yang kehijau-hijauan. Penduduk lokal sendiri lebih memilih untuk menyebutnya Cukang Taneuh, alias Jembatan Tanah.
Membangun Jembatan Melewati Jurang
31 Januari 2012 pada 10:49 am | Ditulis dalam Ilmu Komputer UGM, PC Plus, Sharing | Tinggalkan KomentarKaitkata: jurang, perkembangan teknologi
Baca Dulu : ”Kampus dan Industri : Ada Jurang di Antara Kita“
Gap antara keterampilan yang di dapatkan di univeritas dengan dunia nyata terlihat begitu besar. Jadi apakah benar kalau sarjana komputer memang tidak “siap pakai”?
Jawabannya bisa ya bisa tidak. Seperti yang dijelaskan di artikel utama, universitas tidak akan cukup cepat untuk membuat kurikulum yang up-to-date terhadap perkembangan teknologi. Selain itu, memang ada beberapa keterampilan dan pengetahuan yang baru bisa didapatkan setelah berhadapatan langsung dengan masalah nyata di dunia kerja.
Walaupun tidak bisa dihilangkan, jurang pemisah itu harus bisa diperpendek. Sungguh naif jika mahasiswa hanya menunggu langkah dari universitas atau perusahaan. Harus ada inisiatif untuk melakukannya sendiri.
Proyek Lintas Jurusan
Setiap tahun, pemerintah, universitas, maupun hibah banyak menyediakan dana hibah untuk penelitian mahasiswa. Nah, alih-alih mengerjakan penelitian untuk bidang informatika, kerja sama dengan mahasiswa dari program studi lain akan memberikan lebih banyak manfaat dan bekal untuk dunia kerja nantinya. Cobalah untuk membangun sebuah sistem sebagai solusi teknologi informasi bagi bidang lain seperti ekonomi, psikologi, farmasi, atau bahkan peternakan dan kehutanan.
Selain untuk belajar membuat sebuah sistem, kerja sama dengan user dari bidang lain akan memberikan pengalaman baru. Memberikan pengertian kepada orang dari bidang lain tentang apa yang bisa dan yang tidak bisa dilakukan komputer saja merupakan hal yang susah. Untuk membangun sistem berdasarkan kebutuhan mereka akan memberikan manfaat yang nyata yang dapat dirasakan nantinya saat sudah terjun ke dunia kerja yang sebenarnya.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan manfaat yang sama antara lain kerja praktek, mengikuti organisasi, dan kuliah kerja nyata.
Kampus dan Industri : Ada Jurang di Antara Kita
31 Januari 2012 pada 10:35 am | Ditulis dalam Ilmu Komputer UGM, PC Plus, Sharing | Tinggalkan KomentarSeorang fresh graduates, sarjana Ilmu Komputer dari sebuah perguruan tinggi ternama datang ke sebuah perusahaan untuk wawancara kerja. Dia bertemu dengan manajer IT perusahaan tersebut. Tak berapa lama wawancara berlangsung, sebuah kalimat meluncur dari manajer IT tersebut, “Anda belum siap untuk bekerja.”.
Cukup menyakitkan memang. Tapi bisa jadi ada benarnya. 4 tahun belajar di kampus mungkin belum cukup untuk membekali mahasiswa dengan semua skill yang dibutuhkan untuk menjadi sukses. Setiap universitas bisa saja selalu meningkatkan kualitas lulusannya tiap waktu, tetapi selalu kalah cepat dengan kebutuhan industri.
Seorang sarjana komputer tidak hanya harus mempunyai keterampilan teknikal, mereka juga harus memiliki keterampilan bisnis dan juga keterampilan bersosialisasi. Beberapa tahun yang lalu, industri selalu mengeluh tentang kurangnya soft skill yang di miliki seorang sarjana komputer. Skill komunikasi, keterampilan memahami user, serta sikap profesional berada dalam daftar teratas skill yang kurang tersebut. Selain itu, apa saja yang menjadi jurang pemisah dunia akademik dan industri? Simak uraian berikut. Lanjutkan Membaca Kampus dan Industri : Ada Jurang di Antara Kita…
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


